Whatever Write!

Aku sedang ingin menulis apa pun. Seperti bagaimana penggunaan sudut pandang dalam sebuah cerita. Sudut pandang orang pertama (aku) cocok digunakan untuk menuliskan cerita yang perlu detail yang intim. Sebagai contohnya di bab dua novel Mata Malam karya Han Kang. Di bab ini yang bercerita adalah arwah seorang bocah yang masih terikat dengan jasadnya lantaran jasadnya masih utuh. Han Kang menjelaskan bagaimana perasaan arwah itu. Tentu saja dengan detail-detailnya seperti bagaimana meski ia arwah ia tidak bisa melihat arwah lain dan bahkan saling berkomunikasi. Juga penjelasan mengenai bagaimana perasaan arwah si bocah kepada mereka yang masih hidup, perasaannya melihat mayatnya, dan perasaannya melihat mayat-mayat lainnya. Demikian sudut pandang orang pertama bekerja layaknya seorang yang menceritakan pengalaman pertamanya naik rollercoaster. Adapun sudut pandang orang ketiga (mereka) cocok bagi sebuah cerita yang meperlihatkan duduk permasalahan dan biasanya melibatkan banyak tokoh. Seperti yang sering digunakan Eka Kurniawan. Dan sepertinya juga menjadi favoritnya sekarang. Keempat novelnya menggunakan sudut pandang orang ketiga. Kumpulan cerpen yang ditulis di tahun-tahun terakhir juga menggunakan sudut pandang orang ketiga. Sebagai contohnya di cerpennya yang berjudul Penafsir Kebahagiaan. Meski porsi penjelasan tentang tokoh-tokohnya tidak sama rata, bagaimanapun harus ada tokoh utama, masing-masing tokoh mendapat porsi sesuai perannya. Namun yang sebenarnya ingin diperlihatkan dari sudut pandang ini bukan tokoh-tokoh itu, tapi duduk perkara dari ceritanya. Dan duduk perkara cerita melibatkan tokoh-tokoh. Secara sederhana sudut pandang orang ketiga yang memperlihatkan duduk perkara mirip dengan penulisan sebuah berita investigasi. Dan yang paling keren adalah Haruki Murakami dalam cerpennya yang berjudul Syahrazad. Ia menggunakan dua sudut pandang sekaligus. Ya, namanya sudut pandang campuran (aku dan mereka). Dalam cerpen Murakami ini ada cerita di dalam cerita. Benar sekali, begitulah yang terjadi dalam kisah 1001 malam yang mana Syahrazad bercerita pada seorang raja terus-terusan untuk menghindari kepalanya dipenggal. Murakami pun demikian, ia mengambil Syahrazad dan mereproduksinya menjadi Syahrazad versinya. Dalam cerpen ini ketika bicara tentang hubungan Syahrazad dan Habara, Murakami menggunakan sudut pandang orang ketiga. Tapi begitu masuk pada kisah masa lalu Syahrazad yang memalukan, sudut pandang berubah menjadi orang pertama. Barangkali keintiman memang berjodoh dengan sudut pandang orang pertama. Lalu yang terakhir adalah sudut pandang orang kedua (kamu). Aku tidak banyak membaca cerita dengan sudut pandang kamu dan belum begitu tahu bakal cocok digunakan cerita versi apa sudut pandang ini. Di novel Mata Malam karya Han Kang yang masih kubaca, di bab pertama ia mengunakan sudut pandang ini. Di tengah-tengah aku membaca rasanya aku seperti orang lupa ingatan yang coba diingatkan oleh cerita Han Kang. Bayangkan saja saat kamu mengobrol dengan seseorang dan ia bercerita tentang sebuah kenangan yang sudah kamu lupakan. Sebenarnya saat ia bercerita, ia bercerita dengan sudut pandang orang kedua. Mungkin ia akan berkata begini, “waktu itu kamu tertawa sangat keras. Padahal di ruangan dosen sedang marah-marah karena tidak ada satu pun mahasiswa yang menyelesaikan tugasnya. Kamu sedang membaca komik webtoon tentang sepasang kekasih yang saling ingin mengakhiri hubungannya namun selalu gagal. Entah di bagian mana yang membuatmu tertawa. Teman-teman langsung menatapmu. Dan tentu saja, sang dosen juga menatapmu. Bagaimanapun kau sedang tidak peduli banyak hal waktu itu. Untungnya dosen menyuruhmu keluar. Tapi kau pasti ingat setelahnya kau harus mengulang mata kuliah itu semester depan. Dan bertemu dengan dosen itu lagi.” Bagaimana? Sudah terbayang kan? Novel Han Kang ini bercerita tentang tragedi paling brutal yang terjadi di Gwangju, di mana waktu itu para tentara menembaki dan memukul para warga yang menghendaki pergantian kekuasaan. Dan tidak sedikit warga yang meninggal. Ini semacam pembantaian di tanah Korea Selatan. Ya, novel Han Kang ini adalah novel sejarah. Sangat tepat jika sudut pandangnya adalah sudut pandang yang memiliki efek mengingatkan. Walaupun begitu, AS Laksana, salah satu penulis Indonesia yang pernah tergila-gila menggunakan sudut pandang ini pernah berkata bahwa ia memerlakukan pembaca seperti seorang teman. Makanya ia menggunakan sudut pandang orang kedua (kau) di cerita-ceritanya. Ya, begitu lah masalah sudut pandang dalam bercerita. Aku tidak tahu apakah yang kutulis ini benar. Ini hanya pengalamanku saja. Dan sejujurnya aku hanya ingin menulis tentang apa saja.

Advertisements

Bukannya Tarawih, Malah Melantur di Sini

Selamat malam, saudara-saudara! Bagaimana puasa kalian? Menyenangkan? Mencerahkan? Menyedihkan? Penuh rasa lapar? Atau ah, biasa saja? Apapun itu semoga kau bisa menerimanya dengan lapang dada. Sebab jika kau tidak bisa menerimanya, siapa lagi yang bisa menerima hidupmu?

Puasaku sangat penuh dengan drama. Dari sahur yang terlewat, telat buka, sampai pilek dahsyat yang menghantamku tanpa ampun. Yang terakhir gara-gara di hari yang entah ke beberapa, aku buka dengan es buah. Padahal biasanya buka di masjid selalu dengan teh hangat. Tapi barangkali tubuhku memang sedang tidak baik-baik saja. Dan cuaca turut tidak jelas. Mei masih hujan, saudara-saudara. Itu pertanda cuaca juga sedang tidak baik-baik saja.

Meski penuh drama, puasa kali ini ada seorang teman yang meminjamkan motornya padaku. Ia sedang pergi ke salah satu kota di Jawa Timur. Daripada motornya tidak terpakai, dan lebih lagi ia melihat pengetahuanku tentang jalanan di Solo sangat sempit karena aku selalu jalan kaki ke mana-mana—apa salahnya ia menitipkan motornya padaku. Selain bermanfaat dan menambah pahalanya, setidak-tidaknya motornya ada yang ngurusin.

Tentu saja aku harus memanfaatkannya. Bagaimanapun ini kesempatan langka aku bisa muter-muter dan menguasai jalanan di Solo. Apalagi ia pergi selama 15 hari. Sungguh nikmat yang sangat patut disyukuri.

Aku bisa ngabuburit tiap hari di masjid-masjid yang jauh di sana setelah lelah muter-muter. Aku bisa bolak-balik kampus tanpa berkeringat. Tapi ada fakta lain yang menyebalkan kalau aku juga perlu menyisihkan uang untuk bensin. Untuk itu aku tidak beli pulsa ataupun kuota. Lagipula sekarang di mana-mana ada hotspot dan kadang sangat menenangkan tidak diganggu oleh pesan-pesan yang masuk.

Biasanya aku mulai ngabuburit sejak jam dua siang. Bagiku itu waktu yang pas untuk mulai ngabuburit, mungkin terlalu siang bagi orang lain. Tapi mari lihat apa yang bisa kulakukan dari pukul dua dan betapa waktu sangat cepat berlalu saat kau berkendara.

Sebenarnya tidak banyak yang kulakukan saat ngabuburit. Aku hanya muter-muter di daerah Solo. Melewati patung-patung pahlawan, taman-taman kota, bangunan-bangunan bersejarah dan bangunan-bangunan pemerintah, kadang ada pasar yang baru kuketahui, dan kadang juga ada perlintasan rel kereta api. Yang sedikit menantang adalah masuk ke gang-gang. Dengan pembacaan arahku yang kurang sensitif, ditambah gang-gang di Solo yang tak simetris (sering berbelok-belok dan tidak kotak-kotak layaknya di perumahan), dan kekhawatiran bensin akan habis di tengah-tengah gang—membuatku jarang mengeksplore jalan kecil ini.

Setelah hampir pukul tiga atau pukul tiga tepat biasanya aku sudah ada di perpustakaan Ganesha. Membaca apa saja dan sekalian ngadem. Kadang aku hanya menyibukan diri mencari buku-buku, sekadar mengenal letak-letak mereka. Kadang aku membaca kumpulan cerpen yang tidak menuntut penasaran berkepanjangan dan hemat waktu. Sekali waktu aku juga membaca biografi meski tidak rampung. Dan terakhir kali aku tertarik membaca Trinity, The Naked Traveler yang ia memutuskan untuk RTW (Gila! Round The World, saudara-saudara! Aku saja keliling Solo belum kelar, haha).

Selain saat berkendara, di perpustakaan waktu juga cepat berlalu. Tanpa sadar petugas sudah mengumumkan bahwa sepuluh menit lagi perpus tutup. Iya sih, di bulan Puasa Ganesha tutup setengah jam lebih awal dari biasanya. Biasanya saat petugas mengumumkan perpus akan tutup, aku tengah asik dengan bacaanku. Kau tahu lah, saat membaca pasti ada saat-saat kau mulai larut dalam bacaan. Rasanya sedih, saudara-saudara! Begitu mendengar suara mbak-mbak penjaga, keasikanku seperti dipotong begitu saja. Aku ingin bilang, “mbak, kenapa harus tutup lebih awal? Apa salahnya tutup jam lima?” Tapi aku enggan juga bilang begitu. Para petugas juga manusia. Barangkali ia punya keluarga di rumah yang menunggunya berbuka bersama dan jarak rumahnya lumayan jauh—tidak cukup jika ia pulang dari Ganesha pukul lima. Barangkali punya janji dengan teman, pacar, atau mungkin ia aktif di kegiatan sosial yang sering bagi-bagi takjil saat buka dan itu butuh persiapan. Yah, akhirnya begitu terdengar suara AC dimatikan, aku segera keluar.

Sejam lagi suara azan magrib akan terdengar. Cepat kan?

Dari perpustakaan Ganesha aku menuju Masjid Agung Keraton Surakarta. Sekitar 15 menit bila jalanan tidak ramai. Dan bisa setengah jam bila jalanan sedang ramai. Di hari-hari tertentu, entah mengapa, jalanan begitu penuh. Tapi ini lumayan buat killing time. Bermacet-macet dahulu, berbuka kemudian, begitulah peribahasanya kurang lebih. Haha. Apalagi kalau aku sedang malas mendengarkan ceramah di masjid sebelum berbuka, macet membuatku bersyukur. Aku tidak perlu memperpelan lajuku di tengah orang-orang yang seolah tidak mau kalah.

Tapi sekali waktu saat aku keluar dari perpus, di luar sedang hujan. Aku turun dan mendapati di bawah banyak pengunjung yang tidak punya mantel sedang duduk-duduk di kursi, ramai sekali. Aku hampir tidak mendapat kursi. Hujannya tidak terlalu deras, tapi juga tidak terlalu rintik. Dan cukup mampu membuatmu basah kuyup setelah 100 meter berkendara. Jadi aku ikut menunggu hujan sore itu. Tipe hujan seperti ini biasanya redanya lama. Kalau hujannya tidak reda sampai magrib, aku terpaksa mengeluarkan uang untuk berbuka. Tapi, sepertinya Tuhan mendengar hati kami yang berharap hujan segera reda. Pukul lima lebih, hujan mulai mengecil. Aku bodo amat dan segera meluncur ke masjid. Sampai di masjid pukul 17.26, empat menit lagi azan. Pak Ustaznya bahkan sudah selesai ceramah dan sedang berdoa. Oh, nikmatnya datang-datang sudah langsung buka! Haha

Di lain waktu, aku sering berharap hujan turun seperti hari itu. Tapi kadang aku juga kepikiran kenapa Ganesha tidak mengadakan bukber ya sekali-kali. Kan aku bisa baca di sana sampai azan magbrib. Begitu azan berkumandang, aku akan menutup buku dengan senyum lega, berjalan sedikit untuk mengambil teh hangat dan camilan yang sudah disiapkan. Sungguh buka puasa yang sangat kutu buku.

Ah, iya! Aku hampir lupa. Aku mengantarkan temanku ke Stasiun Jebres pukul 12 malam. Kereta temanku berangkat pukul satu. Di adegan perpisahan temanku bilang begini, “sekarang kau ada motor. Begitu aku balik, aku ingin melihatmu menghasilkan sesuatu.”

Sebenarnya tidak ada hubungan antara aku membawa motornya sekarang dengan menghasilkan sesuatu. Aku bisa menghasilkan sesuatu tanpa motornya. Mungkin kalimat yang ingin ia sampaikan adalah, jangan sia-siakan motorku. Tapi diperhalus menjadi seperti yang di atas. Well, aku juga tidak berpikir menyia-nyiakan motornya. Aku malah mendapat pengalaman spiritual dari motornya. Seperti motor pinjaman, hidup pun demikian. Manfaatkan hidupmu sebelum diambil Pemiliknya. Akhirnya tulisanku ada pesan moralnya, saudara-saudara! ☺

Aku juga mendapat banyak ide saat berjalan-jalan bersama motornya. Ketika mendapati Mei kadang masih hujan, aku mendapat judul cerpen yang bagus: Mei Masih Ingin Menangis. Tapi aku belum tahu ceritanya. Mungkin seorang perempuan bernama Mei, entah karena apa, selalu menangis dari Januari hingga April. Tapi akhirnya ia bertemu seorang yang membuatnya mampu berjanji saat tiba bulan Mei, ia akan berhenti menangis. Namun yang terjadi tidak demikian. Bagaimanapun ia tak bisa memprediksi kapan ia akan menangis, sehingga ia bisa mengantisipasi tangisnya. Begitulah, di bulan Mei ia masih menangis (sangat teen sekali, haha). Tapi mungkin kalau kuselipkan sedikit luka sejarah di bulan Mei, jadinya akan beda. Tapi aku tidak menyelesaikan cerita ini. Entah, aku tidak punya dorongan yang kuat untuk menyelesaikannya.

Aku juga menemukan ide saat berbuka di Masjid Riyadh. Itu adalah masjid orang-orang keturunan Arab. Tapi yang datang ke sana saat berbuka justru orang-orang kampung setempat (karena orang keturunan tidak butuh takjil dan ceramah. Mereka sudah kaya, agamanya kenceng lagi, hehe). Ide itu bercerita tentang seorang yang menunggu-nunggu bulan puasa. Bahkan dua bulan sebelum puasa ia sudah mengingatkan ke orang-orang kalau sebentar lagi bulan puasa tiba. Orang-orang jelas mencibirnya. Siapa sih dia kok sok-sokan banget menanti-nanti bulan puasa. Lha wong ustaz kampung setempat aja biasa aja. Apalagi setelah orang-orang tahu alasan si tokoh ini menanti dan bahagia menjelang puasa adalah banyak orang berbagi, banyak makanan gratis di mana-mana—mereka bertambah bencinya. Mereka mencapai puncak kejengkelannya ketika tiba bulan puasa dan Pak Ustaz sering menyebut-nyebut nama si orang itu saat ceramah. Endingnya belum kepikiran. Dan ide ini pun gak kutuliskan. Dan masih banyak ide-ide lainnya.

Benar kan waktu cepat berlalu?

Maka berkendara dan membacalah kamu, sehingga kamu masuk golongan orang-orang yang diberi nikmat. Haha

Tapi ada yang membuatku sedih. Itu adalah saat setelah sholat magrib dan orang-orang pada pulang satu per satu. Mungkin ada beberapa yang tinggal, menanti sholat isya dan tarawih. Tapi melihat adegan itu, aku jadi baper karena tidak punya tempat pulang. Dan terlebih lagi, entah mengapa, itu menarik kesadaranku untuk bilang, “aku sendirian sekarang.”

Maksudku saat aku mendengarkan ceramah—meski aku datang sendiri—aku tidak merasa sendirian. Karena pada waktu mendengar ceramah, aku dan orang-orang punya tujuan yang sama. Kami sama-sama menahan lapar, sama-sama menunggu buka. Namun setelah buka, kami sudah tak satu tujuan. Rasanya sedih sekali, saudara-saudara!

Dan lagi biasanya sebelum aku beranjak dari Masjid Agung, aku merokok dulu di bawah menaranya. Aku menyaksikan bagaimana orang-orang bergerak, sedangkan aku diam. Di sini biasanya ada gerombolan remaja yang juga merokok. Aku teringat diriku dulu waktu remaja dan merasa semakin sedih. Di lain waktu, ada bapak-bapak duduk sendirian menyantap nasinya. Matanya menerawang seolah teringat bagaimana di tahun-tahun yang lalu ia masih berkeluarga dan anaknya selalu bertanya, “Pa, kapan buka?”

Kadang aku juga melihat orang dengan pakaian lusuh seolah belum sempat pulang atau memang tidak punya tempat pulang. Ia mengenakan kaos terbalik penuh debu, celana sedengkul yang juga penuh debu, dan sebuah tas tersampir di lengan kanannya. Wajah dan rambutnya kusam. Sembari berjalan ia tersenyum dan bicara sendiri. Aku langsung melihat diriku, apakah mereka adalah aku di masa depan? Oh tidak, saudara-saudara. Aku masih muda untuk merasa sendirian. Mereka orang-orang tua yang sudah banyak merasa nano-nano kehidupan. Mereka akan bisa mengatasi rasa kesendirian mereka. Aku belum.

Tapi semua itu mengajariku banyak hal. Mengapa Islam menganjurkan sholat di masjid berjamaah? Mengapa Islam mewajibkan umatnya berzakat? Berkurban? Berpuasa? Aku menemukan salah satu alasanku sendiri: karena ada orang-orang seperti mereka, mungkin juga sepertiku. Islam mengajarkan kita untuk peduli, atau setidaknya ikut mengurangi beban mereka. Subhanallah!

Kok jadi melo dan religius gini ya? Haha

Untuk penutup aku ingin bercerita tentang pertemuanku dengan buku berjudul Seni Untuk Bersikap Bodo Amat. Berisi tentang bagaimana manusia-manusia zaman sekarang yang terlalu peduli dengan banyak hal, sehingga mereka kebingungan dengan diri mereka sendiri. Pada sebuah resensi yang kubaca, intinya buku ini mengajarkan kita untuk menerima diri kita apa adanya. Ya, kalau hari ini kamu merasa sepi. Terimalah kalau kamu memang sedang sepi. Kalau hari ini kamu sedang sedih. Ya, terimalah hari ini kamu sedang sedih. Nasehat pertama yang ditulis Mark Marlson (nama penulisnya) adalah jangan berusaha. Jangan berusaha untuk tidak sepi. Jangan berusaha untuk tidak sedih. Semakin kamu berusaha untuk tidak sepi, maka kamu semakin merasa sepi. Bagi Mark, perjuangan untuk menjadi positif adalah pengalaman negatif. Sedangkan menerima hal negatif adalah pengalaman positif. Seperti itulah pokoknya. Aku punya link blog yang menyalin isi buku itu. Komen kalau pengen baca gratisan. Beli lebih baik.

Eh, pemikiran Mark ini sebenarnya juga ada di lagunya Barasuara yang Taifun. Menjelang akhir lagu, ada lirik yang begini:

Saat kau menerima dirimu

Dan berdamai hanya dengan itu

Kau menari di depan waktu

Tanpa ragu yang membelenggu

Sudah ah, bukannya tarawih, malah melantur di sini. Astagfirullah!

Haha

Gak Ada Alasan Untuk Membenci

Jika kau kenal seorang lebih dekat, kau tidak akan punya alasan untuk membencinya. Well, kau hanya tidak suka padanya.

Sejujurnya aku enggan menjadikan kalimat yang lumayan moralis di atas sebagai pembuka. Aku tidak ingin terdengar seperti sedang berceramah. Aku lebih senang membukanya dengan cerita pertemuanku dengan beberapa teman yang sedang revisian. Tentu saja di suatu siang yang terang di musim hujan. Duduk-duduk di kursi yang berjajar di sepanjang koridor ruang kuliah di lantai dua sembari melihat daun-daun angsana yang bergoyang pelan diterpa angin tipis-tipis.

Aku membuka pertanyaan, apakah mereka akan wisuda bulan ini. Aku tidak bertanya sampai mana, itu klise. Dan terutama aku bosan mendengar mereka menjawab sampai sini dengan senyum yang dibuat semanis mungkin. Dengan pertanyaanku di atas, mereka akan dengan senang hati bercerita. Dan seandainya mereka menjawab tidak, aku tidak perlu memburu.

Seorang kawanku bercerita, ia terpaksa mengulang penelitiannya karena suatu hari ia mengalami kecelakaan dan harus dirawat di rumah selama tiga bulan.

Tiga bulan berlalu tanpa ia bisa menyentuh penelitiannya sekali pun. Begitu ia sembuh, siswa yang dijadikan sampel penelitiannya telah naik kelas. Itu mengharuskannya mengulang. Semuanya. Dari awal lagi, membuat proposal lagi. Resiko mengambil PTK, ujarnya.

Seorang lagi bercerita tentang proses bimbingannya dengan dosen yang mayoritas mahasiswa menganggapnya membosankan dan menyebalkan. Ternyata bagi kawanku tidak demikian. Ia bahkan mengatakan kalau anggapan teman-teman sangat berbanding terbalik ketika ia bimbingan dengan sang dosen. “Beda seratus delapan puluh derajat,” demikian ia berkata dengan mimik masih tidak percaya.

Aku tidak kaget. Karena kupikir, semenyebalkannya dosen ia selalu punya sisi menyenangkan. Asal kau tidak sedang menginjak harga dirinya, kau aman. Tapi jika kau muak dengannya dan ingin menyalakan peperangan, itu akan menjadi beda sama sekali.

Si kawanku, dengan sisa-sisa ketakjubannya masih ingin bercerita tentang sang dosen. Oke, maka aku siap mendengarkan.

Sang dosen, meski terkenal killer, justru menyarankan padanya agar tidak perlu membawa bingkisan-bingkisan yang tidak perlu. Cukup bawa snack bagi penguji saja. “Itu budaya yang gak bagus. Seolah-olah kami para dosen kekurangan gaji saja,” katanya menirukan omongan sang dosen. Well, kukira kewarasan semacam ini yang harus ada di dosen-dosen.

Lalu, layaknya seorang presenter, aku memintanya untuk menarik kesimpulan dari pengalamannya ini. Berikut keterangannya:

“Kalian beranggapan begitu, karena kalian belum mengenal saja. Jika kalian sudah mengenal beliau, kalian akan tahu yang sebenarnya.”

“Intinya, gak ada alasan untuk membencinya kalau kau mengenalnya lebih dekat,” tambahnya.

Dan bertanyalah mereka, kalau kamu sampai mana, Lutfi?

Aku berhaha dan kemudian dengan naif berkata, “sampai sini.” Bersusul sebuah senyum yang kubuat semanis mungkin.

Jurus Dasar Menulis Berita: Piramida Terbalik

Suatu kali aku masih cupu, sedang duduk di auditorium UNS, memakai almamater yang masih baru. Itu hari kedua dari serangkaian acara Orientasi Mahasiswa Baru (Osmaru) yang dijadwalkan tiga hari. Sejak pagi sampai sore, bermacam-macam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) unjuk kebolehan. Aku menonton mereka. Satu yang tidak ada di sekolahku adalah Lembaga Pers. Maka aku memilih bergabung dengan LPM Motivasi.

Satu tahun kemudian, aku ada di auditorium yang sama, dengan dresscode paling rebel se-dunia, persma. Aku dipaksa menulis kegiatan Osmaru itu jadi sebuah berita sederhana. Sejujurnya aku masih cupu. Jadi aku menulis begini:

Osmaru 2014 Kurang Maksimal

Orientasi Mahasiswa Baru (Osmaru) 2014 adalah serangkaian kegiatan untuk menyambut mahasiswa baru sekaligus mengenalkan mereka dengan dunia kampus. Seperti tahun lalu, Osmaru tahun ini dijadwalkan tiga hari. Satu hari untuk pengenalan tentang Universitas, satu hari untuk pengenalan Fakultas, dan satu hari untuk pengenalan di Progam Studi masing-masing.

Jika dilihat dari tahun kemarin, Osmaru tahun ini dirasa kurang maksimal. Beberapa bersiapan panitia serba dadakan dan kurang memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi, serta antisipasiya. Tidak sedikit Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) mengeluh karena waktu tampil mereka tidak sesuai dari alokasi. Reza, dari UKM bla bla bla mengatakan ketika teman-temannya sedang berada di panggung, MC tiba-tiba menyetop. “Padahal waktu kami masih,” jelasnya, Selasa (22/8)……

Dengan berita seperti ini, aku dipanggil seorang senior, namanya Joki. Dia bilang beritaku gak keren. Rebel sih, tapi terlalu bertele-tele. Dengan kuasanya sebagai senior, ia menyuruhku menulis ulang.

“Kunci dasar menulis berita adalah piramida terbalik,” katanya sok tahu, dan sok pintar. Aku minta ia menjelaskan bagaimana menggunakan piramida terbalik.

“Gampang,” katanya sombong. “Belikan aku rokok dulu. Nanti kujelaskan.”

Aku berangkat membeli rokok. Setelah aku kembali, Joki sudah memegang tulisan beritaku yang ditulis ulang olehnya.

“Caranya gampang sekali, culun. Kamu tinggal tulis yang paling penting di awal. 5W + 1H. Jangan jadi penceramah di awal. Hantam langsung pembaca dengan inti beritamu. Ngerti?”

“Nggak,” kataku. Pendek dan antiklimaks.

“Sudah ah! Baca ini!”

Joki memberikan kertas yang dari tadi ia pegang.

Osmaru 2014 Kurang Persiapan

Dibanding dengan Orientasi Mahasiswa Baru (Osmaru) tahun lalu, Osmaru tahun ini dinilai kurang persiapan. Dari tiga hari pelaksanaannya, banyak ditemui masalah. Dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang mengeluh tentang waktu display mereka yang tiba-tiba dipotong, ganti nomer urut display dadakan, hingga makan siang peserta Osmaru yang terlambat.

Reza, dari UKM bla bla bla mengatakan bahwa panitia sering bertindak sesukanya tanpa koordinasi dengan yang lain. “Masak kita masih display, tiba-tiba MC memotong. Kan nggak lucu,” katanya, Selasa (22/8). Beda dengan Reza, Amir, ketua UKM bli bli bli menilai sejak perencanaan dan rapat-rapat koordinasi, panitia tidak pernah memberi keputusan yang jelas. Amir menambahkan, kalau pihak panitia baru mengadakan rapat koordinasi satu minggu sebelum acara…..

Iya, kurasa punya Joki lebih lumayan. Setidaknya pembaca langsung tahu masalahya di awal, dan kalau mereka ingin tahu bagaimana kejadiannya, mereka bisa membaca paragraf selanjutnya.

Dua tahun kemudian, aku bilang pada seorang juniorku yang cupu.

“Kunci dasar menulis berita adalah piramida terbalik,” kataku sambil bersedekap.

“Gimana itu, mas?”

“Gampang,” kataku. “Belikan aku rokok dulu. Nanti kujelaskan.”

Dia tidak mau.

Beberapa bulan kemudian, dia tidak terlihat lagi di sekretariat. Dari seorang temannya, katanya dia lebih suka piramida pada umumnya daripada piramida terbalik. Setelah kulacak, ternyata dia terdaftar sebagai anggota muda Iluminati. Syukurlah.

Kopi Terakhir Istriku

Di suatu pagi yang terang di musim hujan, istriku bertanya, “Hei, Pemalas!” katanya penuh penekanan sembari mengaduk kopi pagiku. “Kenapa kau begitu santai?”

“Karena aku punya kamu.”

Aku sudah menduga ia akan marah. Tapi aku senang melihatnya marah. Ia akan mencapai puncak kecantikannya, seolah cinderella yang datang terlambat ke pesta. Sebuah pagi yang indah bisa membuatnya marah sedini mungkin.

“Baiklah,” katanya. Ia menunjukan wajah sinisnya. “Bagaimana kalau kita bercerai saja? Lagipula kita belum punya anak. Dan aku belum kehilangan gairah berburuku.”

“Kalau kamu inginnya begitu, apa boleh buat,” kataku memasang wajah cuek.

“Kalau begitu ayo ke pengadilan agama.”

“Tunggu sampai kopiku habis.”

Ia mengiyakan. Aku tahu ia berpikir kalau aku ingin memberi makna pada kopi yang ia buat sebelum kami bercerai. Maka untuk membuatnya marah, aku akan menjelaskan hal itu padanya.

“Aku ingin menghabiskan kopi buatanmu untuk terakhir kalinya,” kataku lalu mengangkat gelas dan meminumnya. “Sebelum kita benar-benar berpisah.” Lagakku sesantai mungkin.

“Aku tahu,” katanya menyambar. “Kau tidak perlu menjelaskannya.”

“Tentu ini akan jadi kopi paling bermakna bagiku.”

“Ya, ya, ya, kau tak perlu menjelaskannya padaku, suamiku sayang,” katanya mulai kesal.

“Setelah kita bercerai, aku bisa menulisnya menjadi sebuah cerita paling menyedihkan tentang seorang istri yang mengajak bercerai suaminya setelah membuatkannya secangkir kopi.”

Ia diam, menekuk mulutnya, dan melipat tangannya di dada.

“Kopi Terakhir Istriku,” kataku sambil meliriknya. Aku tidak ingin melewatkan momen di wajahnya. “Itu akan jagi judul yang bagus.”

“Aku-tidak-peduli!”

Ia bangkit dari kursinya dengan kesal dan meninggalkanku sendirian di beranda. Ia sempat tersandung kakiku. Aku sengaja mengeser kakiku ke depan.

Saat ia menoleh, itu adalah puncaknya. Aku tidak mengharapkan lebih dari itu. Sebab aku tahu kalau ia tahu aku sedang bercanda. Selanjutnya tidak.

Sebuah pagi yang meriah untuk memulai hari, bukan?

Satu Tahun Keisengan

Tak terasa lutfiboi sudah setahun, boi. Rasanya baru kemarin aku menulis ucapan selamat atas terpilihnya kawan Yohanes sebagai PU, kini ia sudah selesai dari tugas yang diembannya dan beralihlah tugas itu ke pundak kawan Kusuma. Setahun itu lama jika kau seorang penganggur, kata orang sukses. Alhamdulillah aku bukan termasuk penganggur. Setahun bagiku berlalu cepat.

Ini hanya blog iseng, kataku dulu. Tapi terlihat serius barangkali. Tapi setelah kubaca-baca, aku salah, yang kutemukan hanya tulisan-tulisan nggak mutu. Haha. Gak ada valuenya, menghibur juga nanggung.

Setahun berlalu cepat jika kau seorang penganggur, kata orang yang nganggur. Alhamdulillah, aku juga termasuk orang-orang yang menganggur. Nganggur harus disyukuri juga, boi. Berapa nikmat yang kau dapatkan ketika menganggur? sungguh tak terkira, seperti hujan yang turun saban siang itu. Apalagi jika ingin jadi penulis, akhir-akhir ini aku baru sadar, waktu kosong adalah hadiah yang mewah. Tapi jika kau malas, selesai lah sudah. Malas gak membunuhmu seperti rokok, tapi ia merusakmu, kata seorang yang rajin dan tidak merokok. Kalau kata Haruki Murakami, seperti kesendirian, malas di satu sisi ia menguatkan, di sisi lain ia merusakmu dari dalam.

Meski demikian, aku tidak perlu berkecil hati. Atau jika kalian adalah penganggur yang juga pemalas, tetap tenang dan malas lah. Tapi kusarankan jika kau hanya penganggur tapi tidak pemalas, ada baiknya kau jadi penulis. Itu lebih terdengar menggembirakan. Dan apabila kau menikmati menjadi penganggur dan tidak ingin bekerja, aku akan senang jika kau bentuk sebuah komunitas. Kupikir penganggur yang terorganisir jauh lebih mengerikan daripada pekerja yang membangkang.

Namun seorang kawan yang malas tapi terlihat rajin bilang padaku: jangan bangga jadi pemalas, jangan bangga jadi penganggur, jangan bangga jadi dirimu yang begitu-begitu saja. Kawan yang seperti ini menyenangkan ketika ia datang di saat yang pas dan berkata sesuatu yang pas pula. Sejak ia bilang demikian, aku jadi berpikir: apakah aku selama ini merasa bangga? Jelas, ya, jawab orang yang mengaku hati nuraniku. Alhamdulillah, aku masih punya hati nurani.

Tak berapa lama, takdir seolah menuntunku untuk berpapasan dengan hal-hal yang berbau malas, nganggur, sia-sia, dan jiwa muda. Beberapa akun instagram yang menjual buku-buku sering mengepost kutipan-kutipan yang membidik tepat sasaran. Meski aku juga curiga kalau-kalau akun-akun itu dijaga oleh orang-orang nganggur yang terlihat progresif, yang sedikit mengalami disorientasi jadi jualan kutipan. Tapi kutipan-kutipan yang mereka pilih dahsyat-dahsyat. Kadang aku bahkan berpikir, tingkah laku juga ketrampilan mereka ini perlu diapresiasi dengan membuat hari kutipan nasional supaya semua orang malas dan nganggur hari itu bisa ikut merayakan, juga tahu betapa beberapa orang nganggur yang progesif bisa juga mencatatkan diri dalam sejarah.

Kutipan yang pertama datang dari bapakku sendiri: Pramoedya Ananta Toer. Kutipan itu bilang, setiap orang pasti pernah menganggur, tapi jika dia hanya pasrah, itulah tandanya ia orang yang tak dapat berkembang lagi. Aku lalu berpikir, aku masih muda, boi. Aku baru 22, aku masih ingin berkembang. Dan ini seketika membuatku langsung ingat, selain pemalas dan penganggur, aku ini mahasiswa dan manusia, bukan cicak.

Kutipan kedua dari saudara jauh Pramoedya: Leo Tolstoy. Kutipannya mengatakan dengan sinis, tidak ada kebahagian bagi penganggur! Kebahagiaan hanya milik pekerja! Kekuatan kutipan ini bisa kubayangkan sakitnya seperti tebasan pedang Kenshin kepada seorang musuh yang karenanya si musuh terluka tangannya dan tak bisa bermaim pedang lagi sepanjang hidupnya. Barangkali jika ia mati akan lebih melegakan daripada hidup dengan beban demikian, kata sebuah mata milik salah satu musuh Kenshin.

Kutipan yang ketiga milik Bung Karno tentang harga diri seorang pemuda yang lahir dan tumbeuh di Indonesia. Dengan berapi-api kutipan itu berlantang, pemuda yang umurnya sudah mencapai 20 atau 22, tapi tidak berbuat apa-apa untuk bangsa dan negara, wajib di-gun-du-li ram-butnya! Seperti tersentak, aku dengan sigap memegang rambutku. Dan tentu saja setelah itu ketika aku melihat bocah-bocah mabuk-mabukan karena tidak ada kasih yang cukup dari orang tua dan lingkungan juga kawan sepermainan mereka tak memiliki celah untuk menghindar, sebagai pemuda penganggur aku gelisah.

Lalu sebuah dongeng milik orang Inggris yang membawa sebuah pesan moral menyelamatkanku. She said, “don’t change the world, but change yourself.” dan kujawab, “thank you, girl. You look perfect tonight.”

Ya, seperti itulah, boi. Aku tidak bisa membayangkan jika Pramoedya melihat orang-orang penganggur yang malas. Mungkin menulis tetralogi buru membuatnya menyesal. Orang-orang lebih butuh tips anti nganggur-nganggur club daripada empat buku tebal. Dan Tolstoy akan menolak habis-habisan bukunya diterjemahkan. Dan yang lebih kutakutkan adalah Bung Karno. Bisa-bisa jika beliau masih hidup sekarang, beliau akan memunculkan gerakan gundul nasional. Dan polisi selalu sedia gunting di saku selain pulpen dan surat tilang. Tentu jika demikian serikat tukang cukur akan menuntut agar sebaiknya mereka saja yang bertugas mengunduli pemuda-pemuda itu. Dan jika tuntutan itu terpenuhi, mereka akan menuntut agar dijadikan PNS. Alhamdulillah. Haha.

Begitulah satu tahun keisengan ini. Sama isengnya dengan tulisan kali ini. Tapi, boi, gini-gini lutfiboi sudah memiliki empat pengikut yang belum sempat kenalan, punya 31 pos-an yang dilihat 500 kali lebih oleh 300an pengguna, dengan post viewer terbanyak 37, dan sering diakses pukul 20.00 saban jumat. Sungguh berkah yang tak terkira. Sering diakses hari jumat lhoo. Jumat.

***

Sudah. Saatnya berbenah. Aku ingin gondrong.

Sirkus Pohon, Andrea Hirata

Apakah kalian sadar bahwa manusia diturunkan ke bumi gara-gara sebuah pohon?

Saya sendiri tidak begitu memikirkannya, apakah itu gara-gara sebuah pohon atau sebuah buah atau seekor mahluk kecil yang membisiki Adam untuk mengambil buah kuldi yang bisa ia berikan kepada Hawa agar Hawa mengerti betap besar cinta Adam padanya dan dia sedang tidak main-main dengan cintanya.

Sayangnya Andrea Hirata memikirkannya. Ia mencari hubungan antara pohon delima milik Si Hob yang punya kekuatan mistis yang pada akhirnya membuat kegaduhan maha dahsyat di sebuah kampung bernama Tanjung Lantai di Bangka Belitong sana. Dan demikian ia akhirnya menarik kesimpulan serampangan bahwa salah pohon, manusia jadi meninggalkan surga dan jatuh di bumi yang fana ini. Bagaimana kita menilai Andrea Hirata atas kesimpulannya ini?

Apakah Andrea seorang yang kreatif atau dia seorang yang gila? Saya rasa batasan antara gila dan kreatif sebelas-dua belas.

Belum lagi ketika ia menampilkan kisah cinta antara Tara dan Tegar yang tak kunjung bertemu. Sebuah kisah cinta yang panjang. Mereka bertemu ketika kedua orang tua mereka sama-sama sedang bercerai di Pegadilan Agama. Terceritalah si Tara sedang ingin naik prosotan di sebuah taman milik Pengadilan dan tiga anak badung menganggunya. Tegar datang sebagai penyelamat. Baik Tegar maupun Tara mulai merasa bahwa mereka saling jatuh cinta. Namun, karena takdir yang kusut, mereka terpisah dan saling mencari. Mereka menghabiskan waktu dari SD hingga lulus SMA dan bahkan ketika akhirnya mereka bertemu dalam grup sirkus milik Tara, mereka belum saling mengetahu bahwa Tegar adalah lelaki yang dicari Tara dan Tara adalah perempuan yang dicari Tegar. Seberapa gregetannya saya, separuh novel ini menghabiskan kesialan cinta mereka. Hah.

Guyonan, karakter, dan kegawuran Andrea masih tetap sama. Ia pandai sekali menertawakan kemiskinan, kebodohan, dan nasib sial. Dan sebagai mana, karya-karyanya terdahulu, itu semacam menjadi ciri khas Andrea. Semacam ketika saya membacanya, saya akan berkata, “Ini Andrea banget!”

Ya, ini Andrea banget.

Tapi bagi saya, ini tidak seklimaks Dwilogi Padang Bulan. Saya membaca karya Andrea Hirata dari Tetralogi Laskar Pelangi, Sebelas Patriot, Dwilogi Padang Bulan, dan yang baru saya selesaikan: Sirkus Pohon. Dwilogi Padang Bulan tetap yang paling terngiang di kepala saya.

Meski demikian, bukan berarti Sirkus Pohon tidak bagus atau apa lah. Saya masih bisa menikmatinya sepanjang malam sampai saya tertidur bersamanya dan membacanya begitu bangun. Dan membaca karya Andrea Hirata, sebagaimana kebanyakan karya Andrea Hirata yang lain, membuat saya merasa bahwa tidak ada hal yang paling baik untuk dilakukan ketika nasib buruk menimpa, kecuali menertawakannya.

Betul kan, boi?