Sirkus Pohon, Andrea Hirata

Apakah kalian sadar bahwa manusia diturunkan ke bumi gara-gara sebuah pohon?

Saya sendiri tidak begitu memikirkannya, apakah itu gara-gara sebuah pohon atau sebuah buah atau seekor mahluk kecil yang membisiki Adam untuk mengambil buah kuldi yang bisa ia berikan kepada Hawa agar Hawa mengerti betap besar cinta Adam padanya dan dia sedang tidak main-main dengan cintanya.

Sayangnya Andrea Hirata memikirkannya. Ia mencari hubungan antara pohon delima milik Si Hob yang punya kekuatan mistis yang pada akhirnya membuat kegaduhan maha dahsyat di sebuah kampung bernama Tanjung Lantai di Bangka Belitong sana. Dan demikian ia akhirnya menarik kesimpulan serampangan bahwa salah pohon, manusia jadi meninggalkan surga dan jatuh di bumi yang fana ini. Bagaimana kita menilai Andrea Hirata atas kesimpulannya ini?

Apakah Andrea seorang yang kreatif atau dia seorang yang gila? Saya rasa batasan antara gila dan kreatif sebelas-dua belas.

Belum lagi ketika ia menampilkan kisah cinta antara Tara dan Tegar yang tak kunjung bertemu. Sebuah kisah cinta yang panjang. Mereka bertemu ketika kedua orang tua mereka sama-sama sedang bercerai di Pegadilan Agama. Terceritalah si Tara sedang ingin naik prosotan di sebuah taman milik Pengadilan dan tiga anak badung menganggunya. Tegar datang sebagai penyelamat. Baik Tegar maupun Tara mulai merasa bahwa mereka saling jatuh cinta. Namun, karena takdir yang kusut, mereka terpisah dan saling mencari. Mereka menghabiskan waktu dari SD hingga lulus SMA dan bahkan ketika akhirnya mereka bertemu dalam grup sirkus milik Tara, mereka belum saling mengetahu bahwa Tegar adalah lelaki yang dicari Tara dan Tara adalah perempuan yang dicari Tegar. Seberapa gregetannya saya, separuh novel ini menghabiskan kesialan cinta mereka. Hah.

Guyonan, karakter, dan kegawuran Andrea masih tetap sama. Ia pandai sekali menertawakan kemiskinan, kebodohan, dan nasib sial. Dan sebagai mana, karya-karyanya terdahulu, itu semacam menjadi ciri khas Andrea. Semacam ketika saya membacanya, saya akan berkata, “Ini Andrea banget!”

Ya, ini Andrea banget.

Tapi bagi saya, ini tidak seklimaks Dwilogi Padang Bulan. Saya membaca karya Andrea Hirata dari Tetralogi Laskar Pelangi, Sebelas Patriot, Dwilogi Padang Bulan, dan yang baru saya selesaikan: Sirkus Pohon. Dwilogi Padang Bulan tetap yang paling terngiang di kepala saya.

Meski demikian, bukan berarti Sirkus Pohon tidak bagus atau apa lah. Saya masih bisa menikmatinya sepanjang malam sampai saya tertidur bersamanya dan membacanya begitu bangun. Dan membaca karya Andrea Hirata, sebagaimana kebanyakan karya Andrea Hirata yang lain, membuat saya merasa bahwa tidak ada hal yang paling baik untuk dilakukan ketika nasib buruk menimpa, kecuali menertawakannya.

Betul kan, boi?

Advertisements

Maraton Lagi

Bisa dibilang, maraton membaca bagi saya tidak terlalu menyenangkan. Bukan karena saya pemalas. Membaca sebuah karya sastra kalau dikebut, sedikit-banyak akan ada makna yang tak terserap–terlewatkan begitu saja. Sejujurnya, saya juga tidak tau apa manfaat dari maraton membaca. Apakah adu cepat baca buku? Atau hanya kejar target semata. Entahlah, semakin ke sini, saya merasa maraton sangat tidak layak untuk dilakukan pada beberapa karya sastra, atau malah semuanya. Apalagi dosen saya yang kebetulan mengajar membaca cepat, pernah bilang kalau membaca cepat itu cocoknya digunakan untuk membaca sesuatu yang tak perlu penghayatan, peresapan. Seperti membaca daftar utang misalnya. Sedang membaca sebuah karya sastra, jelas, kata dosen saya, tidak cocok menjurus keliru jika dikebut. Ia lebih pas dibaca dengan teknik membaca reseptif. Meski demikian, saya ingin maraton lagi. Saya sedang kejar target, katakanlah demikian. Saya menjadi malas membaca buku sejak saya melihat buku menumpuk di meja, di lantai, dan bahkan di kasur. Saya juga akhirnya mendapat ide untuk maraton lagi, karena melihat penampakan serupa. Satu hari satu buku dilanjut menulis reviewnya begitu selesai membaca. Selama paruh pekan ini, saya akan menulis di sini sampai hari minggu. Akan ada review tentang buku Rafilus karya Budi Darma, Sirkus Pohon karya Andrea Hirata yang terbaru, Cinta tak Pernah Tepat Waktu karya Pututh EA, dan terakhir Perahu Kertas karya Dewi Lestari (ini semacam pembacaan ulang, apakah rasanya masih sama seperti ketika dulu saya pertama kali membaca?). Dan ya, demikianlah saudara-saudara. Jangan lupa baca. Kalau kata seorang kawan saya dari Jepara, membaca hanya membuang-buang waktu. Kalau kata seorang pengurus asrama saya ketika SMK dulu, membaca, terutama membaca novel adalah perbuatan yang sia-sia. Tidak menambah kepintaran kalian di sekolah, demikian ia selalu mengingatkan. Dan kalau kata orang-orang pintar, mereka yang tidak membaca akan dengan sendirinya ditinggal oleh zaman. Tapi kalau menurut saya, membacalah, sebab kalian senang melakukannya. Jika tidak, mending kalian nonton youtube saja. Murah, Haha-hehe, kadang moodboster. Dan lagi lebih-dari-tivi: BOOM!

Sekian.

Sang Kepala Sekolah

Telah hampir dua bulan saya magang di sebuah sekolah menengah kejuruan di Solo. Meski saya tidak dan belum memiliki ikatan emosional dengan sekolah ini, setidaknya ketika sang kepala sekolah yang lama purna tugas dan memberikan sebuah pidato ketika upacara hari senin, sekonyong-konyong saya jadi begitu emosional.

Jika tidak salah sang kepala sekolah telah memimpin selama 15 tahun. Bukan waktu yang singkat, memang. Bila diibaratkan dengan seorang anak, ia telah tumbuh remaja. Bintik-bintik jerawat di pipi dan dahi mulai tumbuh, dan mulai berani membantah apa kata orang tua. Masa dimana mereka merasa telah siap hidup sendiri, meski kenyataannya tidak. Mereka masih meminta uang kepada orang tua untuk hidup mereka di luar rumah. Demikian pula dengan sekolah yang telah dipimpin sang kepala sekolah. Meski telah jauh berbeda, ia belum siap ditinggalkan. Ia masih perlu daya pimpinnya sebelum akhirnya dewasa.

Dalam pidatonya ia bercerita, sejak kali pertama ia menjejakkan kaki di sekolah ini, hanya ada tiga kelas. Itupun dibersamai dengan sebuah ironi guru tiba hendak memulai pelajaran, siswa belum ada. Ketika guru datang terlambat siswa justru ada, dan ketika sang guru akhirnya datang, siswa pulang. Belum lagi sekolah ini hanya menerima siswa laki-laki yang bisa diketahui bahwa di masa-masa yang lalu, membawa parang, pisau, palu, atau benda-benda semacamnya adalah hal biasa. Di sekolah semacam ini, apa yang bisa diajarkan kecuali menyudahi pelajaran dan menutup kelas selamanya.

Barangkali sangat berlebihan ketika saya mengatakan semuanya berubah ketika sang kepala sekolah ini datang. Kenyataannya butuh waktu lima belas tahun untuk membuatnya menjadi tiga lantai dengan masing-masing angkatan memiliki tujuh kelas, ditambah bengkel bagi tiap-tiap jurusan yang ada, dan setidaknya yang paling mendasar adalah membuatnya seperti sekolah-sekolah pada umumnya. Bukan perjalanan yang pendek pastinya.

Begitu upacara selesai, ketika si pembaca susunan upacara mempersilakan sang kepala sekolah meninggalkan lapangan upacara, seolah itu adalah sarkasme agar sang kepala sekolah segera angkat kaki dari sekolah ini. Sejadi-jadinya, mata para guru, karyawan, dan seorang satpam yang istrinya benjualan soto di sekolah ini berkaca-kaca. Tak butuh waktu satu menit untuk membuatnya jadi bulir-bulir air. Tisu segera diedarkan sebelum semuanya menyalami sang kepala sekolah satu per satu.

Ada makna yang mencuat begitu saja. Pemimpin yang baik atau setidaknya dicintai, ditangisi ketika mereka pergi. Pemimpin yang buruk, saya tidak mengerti akan diapakan, barangkali dicacimaki, atau mendiamkannya jauh lebih baik. Dan bagaimana dengan pemimpin yang lucu? Mungkinkah mereka ditertawakan?

Sayangnya para siswa biasa saja. Terkesan tidak peduli malahan. Mereka cenderung ingin segera meninggalkan lapangan upacara. Apakah itu kepala sekolahnya atau temannya sekalipun yang hendak pergi, acara mewek-mewek dan lemah semacam ini harus segera diakhiri.

Ada kritik tersamar di wajah mereka. Mau sang kepala sekolah membangun sekolah mereka atau merubuhkannya sekalipun, itu tidak membuat hidup mereka berubah. Mereka tetap akan menjadi bagian terendah dari strata sosial. Lagipula mereka sekolah karena orang tua mereka menyuruh sekolah. Dan kawan-kawan mereka sekolah. Maka sekolah setidaknya, menyelamatkan mereka dari dua hal: amarah orang tua dan pertemanan mereka.

Kebanyakan siswa memang memiliki rasa sarkas yang tinggi yang terbentuk dari lingkungan tempat mereka hidup. Hal ini membuat saya berpikir. Rakyat dari sang kepala sekolah tidak hanya guru dan karyawan dan satpam. Siswa adalah bagian terbesar rakyat sang kepala sekolah yang harus diurus dan dipertanggungjawabkan. Apalagi mengukur keberhasilannya dari gedung-gedung bertingkat. Saya kira tidak sesuai. Mendidik adalah membangun manusia. Membangun hal paling abstrak dari manusia: kepribadian.

Dan sebuah bagian dari pidato sang kepala sekolah, memaksa momen emosional saya jadi luruh. Kita telah memiliki sekolah bertingkat, memiliki bengkel lengkap, laboratorium, dan masjid. Kita pelan-pelan beranjak dari sekolah yang dipandang sebelah mata jadi sekolah yang lebih baik. Semoga ini tetap berlanjut. Sehingga masyarakat akhirnya melirik sekolah kita. 

Demikian ia berkata kurang-lebih. Begitu jelas, sang kepala sekolah jauh membangun yang fisik, yang terlihat mata, dan  secara tidak sadar memiliki orientasi untuk terus menambah siswa yang masuk dan menyisihkan–bukan berarti tidak memikirkan–menjadikan siswa itu manusia. Ia hendak membangun sekolah menjadi benar-benar umum: terkenal lantaran fasilitasnya yang memadahi. Tipikal orang-orang dulu, memang.

Namun bisa saja ia dan guru-guru menyembunyikan masalah-masalah mengenai pembangunan jiwa siswa-siswa. Layaknya seorang orang tua yang tidak memperlihatkan usaha dan kerja kerasnya untuk membuat mereka bahagia. Tapi jika ia bisa bicara mengenai pencapaian-pencapaiannya di depan siswa secara gamblang, mengapa ia harus menyembunyikan satu bagian.

Meski begitu siswa-siswa itu masih berumur 15 tahunan. Mereka, sebagaimana saya ceritakan di atas, ada di masa seolah bisa hidup sendiri. Dalam kasus ini seolah mereka tidak butuh kepala sekolah, guru, dan barangkali sekolah. Tapi kenyataannya, sekeras apapun mereka tidak peduli, atau sebenci apapun mereka dengan sekolah dan sekuat apapun keinginan mereka untuk pulang saat berada di sekolah–mereka–akan datang lagi dan lagi, besok. Entah sang kepala sekolah tetap di sana atau tidak.

 

 

Tutik

Setelah mengendarai sepeda motor di siang yang terik, akhirnya aku sampai juga di perpustakaan itu. Aku naik sebuah tangga kecil, bertemu rak sepatu dan di sana pintu perpustakaan berada. Sebuah tulisan jadwal buka mengantung. Begitu kudorong pintunya, suasana di dalam lebih ramai dari di luar. Sedang banyak pengunjung anak-anak. Tentu anak-anak membawa orang tua mereka. Atau orang tua yang membawa anaknya. Aku tidak tahu dan sedikit tidak peduli. Tapi itu cukup membuat suasana di perpustakaan itu jadi semarak dan ceria. Anak-anak membangun suasana, sedang orang dewasa menghancurkan suasana.

Dan lagi-lagi aku bertemu dengan perempuan itu. Si penjaga meja peminjaman dan pengembalian buku. Sejujurnya aku tidak tahu namanya. Tapi begitu melihat wajahnya, sebuah nama muncul di kepalaku: Tutik, bukan titik. Kenapa nama Tutik yang muncul, aku tidak tahu. Barangkali karena wajahnya yang cerah dengan hijab yang cerah dan pembawaan yang cerah dan sebuah titik hitam dekat bibirnya, masuk ke dalam otakku dan merangsangnya untuk memberi sebuah nama pada sebuah tubuh yang sedang duduk itu.

Sebelumnya ada perempuan lain yang menjaga di sana. Bukan Tutik. Aku juga tidak tahu namanya. Tapi ia memiliki wajah jutek dan tak bersahabat. Seolah jika melihat raut wajahnya, wajah itu sedang berkata-kata. Aku punya masalah. Tapi aku bekerja di sini. Aku harus melayani kalian. Jadi diam dan jangan berkata apapun. Maka ketika suatu hari aku ke sana dan menemukan Tutik duduk di sana, aku bertanya-tanya apa yang terjadi dengan penjaga sebelumnya. Apakah masalahnya sudah selesai atau justru belum, sehingga ia memutuskan untuk berhenti bekerja dan menyelesaikan masalahnya saja. Tapi setelahnya aku sepakat bahwa mengantinya dengan Tutik adalah pilihan tepat.

Pertama kali aku meminjam buku dengan pelayanan Tutik, itu adalah pengalaman yang tak pernah terlupakan. Dari sekian banyak penjaga meja peminjaman di sebuah perpustakaan, cuman Tutik lah yang selalu bilang selamat membaca kepada pemustaka. Barangkali berlebihan jika menganggapnya istimewa, tapi mendapat ucapan selamat membaca dari seorang penjaga perpustakaan sedikit banyak memberi semangat untuk membaca. Mungkin juga karena Tutik adalah pribadi yang menyenangkan. Aku tidak bisa membayangkan jika yang mengucap selamat membaca adalah seorang bapak-bapak berperut buncit, berkumis lebat, dan di wajahnya ada banyak lubang berkata selamat membaca. Itu mungkin akan membuat selera membaca menurun drastis.

Tapi si Tutik ini lalu menghantuiku sering sekali. Bahkan kadang aku ingin mengobrol di depan mejanya dan tak memperdulikan pemustaka yang sedang mengantri.

“Apa yang membuatmu begitu cantik, Tutik?”

“Hanya shampo kok.”

“Kenapa andeng-andengmu begitu kuat menarik lelaki untuk melirikmu, Tutik?”

“Benarkah? Aku tidak bermaksud demikian.”

“Lihatlah ketika kau malu-malu, pipimu bersemu merah cerah. Begitu mengoda.”

“Ah, kamu bisa aja.”

“Tutik, mau kah kau meninggalkan kursimu itu dan berjalan-jalan bersamaku?”

“Aku ingin, tapi aku tidak bisa. Aku menyukai pekerjaanku ini. Aku bahagia menjalaninya.”

“Lihatlah, kau berbeda dengan wanita lainnya. Kebanyakan wanita mudah sekali tergoda.”

“Menyingkirlah. Di belakangmu banyak orang sedang mengantri. Tunggu aku pukul lima. Kita akan jalan-jalan.”

“Akan kutunggu sampai pukul enam.”

“Terserah.” Tutik tersenyum.

Betapa bahagia melihat senyum Tutik. Aku akan menunggunya. Tapi aku harus segera pulang. Aku ada pekerjaan rumah yang harus dikerjakan. Dan lagi pula Tutik tidak pernah mengenalku. Baginya aku hanya pemustaka biasa. Sama seperti anak-anak, aku juga harus diberi senyum dan ucapan selamat membaca. Sial.

Meski begitu, kadang-kadang ketika sudah lama tidak ke perpustakaan itu. Aku merindukan Tutik, bukan buku. Jika itu terjadi, aku akan mengingat senyumnya dan ucapan selamat membaca darinya. Dengan cara seperti itulah aku akan segera mengembalikan buku yang sudah terlambat dari jadwal pengembalian.

Buntu

Kami sedang berjalan berdua di sebuah jalan kampung ketika tanpa sadar kami tiba di penghujung jalan. Jalan yang kami lalui ternyata buntu. Ketika kami sadar dan mengamati lingkungan sekitar, kami tidak tahu sedang ada di mana. Di sana hanya ada sebuah bangunan mirip pos ronda atau gubuk, tak begitu kami mengerti. Ketika aku bertanya pada Laras apakah ia tahu jalan kembali menuju jalan semula ketika aku dan dia pertama kali melangkah, ia menggeleng. Dan aku juga tidak tahu, tentu saja. Kami dalam perjalanan sama-sama masuk dalam obrolan-obrolan tentang hal-hal yang kami alami selama tiga tahun terakhir. Kadang ada jeda beberapa saat ketika kami tak saling bicara dan hanya berjalan saja. Tapi ketika jeda itu, kami bicara dengan diri sendiri dan tidak memperhatikan langkah kami sama sekali. Hanya terus berjalan dan menikmati malam, obrolan, dan diri sendiri.

“Kenapa kita tidak berjalan kembali saja. Hanya berjalan dan mengobrol seperti sebelum kita sampai di jalan buntu ini?” usul Laras akhirnya, begitu santai dan enggan memikirkan jika itu bisa saja membuat kita tersesat lebih jauh lagi.

Tapi aku tertarik dengan ide Laras. Karena aku tak punya ide atau sanggahan atas tawarannya, aka kami berjalan lagi, mengobrol, dan menikmati malam. Tiba-tiba Laras mengagetkanku dengan ucapannya.

“Kam, lihat!”

“Apa?”

“Ini jalan pertama kali kita memulainya tadi!” Saut Laras girang.

“Aneh, ya.”

“Aneh sekali!”

“Lalu apa yang akan kita lakukan selanjutnya?”

“Kau tidak ingin makan?”

“Apa kau ingin makan?”

“Aku lapar.”

“Baiklah. Ayo makan.”

Kami berjalan menuju warung ayam bakar dan duduk lesehan di sana. Kami tak tahu pukul berapa waktu itu. Hanya kami pembeli di warung itu. Jalanan juga sudah sepi. Laras memesan satu porsi ayam bakar dada dan segelas es jeruk. Ketika ia menanyaiku, aku memesan apa, entah kenapa aku tidak bisa menjawabnya.

“Kam!”

“Ha?”

“Kau mau pesan apa?”

“Aku? pesan?”

“He, kau ini kenapa?”

“Aku…”

Yang Tertunda

Saya sedang enggan membaca, apalagi menulis. Hah.

Tapi anehnya, saya ingin bermain musik.

Saya sedang tidak bergairah membaca. Seperti kebanyakan merokok, saya juga mengalami kepusingan dan kebosanan tentu saja. Dan menulis, masalah saya masih sama, saya kehilangan spontanitas dan ketahanan duduk berlama-lama dengan jari-jari dan pikiran yang terus-menerus bergerak atau dipaksa bergerak. Tapi bermain musik seperti menawarkan aroma gairah yang tak terbantahkan. Ia dibayangkan saja sudah seperti gunung hendak meletus. Bergemuruh, mengetarkan, penuh ketegangan ingin segera diledakan, dikeluarkan. Hah.

Jika boleh memilih. Saya ingin membaca dan menulis sembari bermain musik. Dulu sekali ketika masih SMK saya pernah ngeband. Band amatir dari yang paling amatir. Tanpa pelatih. Memang sih kebanyakan band tanpa pelatih, tapi mereka pasti beranjak dari satu lagu ke lagu lainnya. Dari skill satu ke skill lainnya. Dari menang lomba satu ke lomba lainnya. Mulai manggung dan diundang di mana-mana. Tapi band saya tidak. Kami stop bermain lagu yang itu-itu saja dan itu-itu lagi. Cukup sedih dan tidak menarik untuk diceritakan. Tapi cukup berkonflik, meski tidak berakhir memuaskan macam film hero.

Dorongan itu muncul lagi. Muncul terus sepertinya. Sepertinya ada minat yang kuat dalam diri saya agar berlatih musik lagi (preett! nulis juga begitu, nyatanya zonk!). Saya tidak tahu harus bagaimana. Jika ada seseorang yang mau mengajari saya bermusik sampai jadi pro atau seseorang yang mau belajar bareng bisa hubungi saya. Dulu saya pemegang bass. Keahlian saya cukup pada kunci dasar dan variasi tab sederhana macam bass ska. Sense of nada saya masih sangat buruk. Apalagi terbiasa mendengar suara bass yang cuma bem, bem, bem. Kalian tahu sendiri betapa menyedihkannya dan patut lagi sah untuk diolok-olok oleh para suhu-suhu maestro bass sedunia.

Dan apa yang saya bayangkan dulu semasa saya masih ngeband. Seorang guru akan menemukan saya dan mengajari saya bermain bass sampai jadi profesional. Yahh, kenyataannya tidak ada seorang pun guru yang saya harapkan itu datang dan membuat perubahan berarti dalam karir bass saya (telek). Jadi kemampuan saya mentok di situ-situ itu. Dan tiba-tiba sekarang saya ingin ngeband lagi, ngebass lagi. Menulis mungkin membuat saya bahagia (ra mungkin yen kuwe ra iso mangan), tapi main musik membuat saya merasa bebas.

Bayangkan saja kau ada di atas panggung. Seorang vokalis menyapa penonton dan sedikit berbasi-basi, lalu si penabuh drum mulai memberi aba-aba dan disambarlah oleh alat-alat yang lainnya. Dalam hitungan detik sebuah perpaduan alat-alat itu menjadi satu dan memberi kesenangan padamu dan pada penonton sekaligus. Belum lagi jika lagu yang kau bawakan memaksa bandmu act out, dan gemuruh penonton tak terbendung, beuh, bebas dan bergairah seekaaliii. Hampir sama seperti menulis, sama-sama menyajikan sebuah komposisi untuk dinikmati khayalak banyak. Hanya saja yang satu bisa langsung melihat ekspresi bahagia penikmatnya, sedang yang satu harus menunggu sampai selesai dibaca dan munculah respon mereka.

Entah apa namanya ini. Kadang-kadang saya merasa tidak memiliki bakat di bidang menulis, meski menulis tidak terlalu butuh bakat. Tapi saya sudah berjalan cukup jauh untuk menulis ini. Barangkali ini fase yang orang bijak katakan godaan akan semakin berat sebelum mencapai puncak (yaelah puncak apaan, baru melangkah sedikit gitu udah break). Atau juga ini hanya perasaan putus asa karena tak kunjung menghasilkan karya dan hanya omong khayal doang. Malah sekarang mau main musik.

Tapi kawan-kawan, kurasa ada banyak bagian atau keping-keping keinginan atau gairah yang saya abaikan begitu saja ketika saya remaja dulu. Ketika saya mengingat masa remaja, saya hanya menemukan bunyi beep panjang. Dimana saya waktu itu? Apa yang saya lakukan? What the fuck! Sedih sekali masa remaja saya. Suram sekali.

Begitulah akhirnya keinginan ngeband lagi itu muncul dari yang tertunda itu. Dari yang masih kosong itu. Kini minta diisi. Minta diwarnai.

Jadi saya rasa saya mengalami penyakit masyarakat urban nomor 15: disorientasi. Haha, Sekian.

Tidak Kreatif

Kemarin Aboi sedang lelah, lalu bilang padaku bahwa keteraturan membuatnya tidak kreatif. Sepertinya dia sungguh lelah. Lalu ia menambahkan, keteraturan hanya membuatmu mengerjakan ini setelah itu, dan mengerjakan itu setelah ini. Ia minum kopinya yang baru saja ia seduh sendiri.

“Kampret! Panas!”

Kau bisa melihatnya, betapa lelahnya Aboi. Kopi yang baru diseduh tentu panas, semua orang tahu itu. Bahkan jika Aboi tidak tahu, dia lah yang menyeduh kopinya sendiri dan merasakan panas air yang merambat ke gelas dan cendok. Tentu saya memakluminya, Aboi sedang lelah. Tapi saya tidak bisa menahan untuk tidak tertawa.

“Sialan kamu! Teman sedang susah malah diketawain.”

Saya justru malah semakin tertawa terbahak, bahkan terpingkal. Mendengar Aboi bilang begitu, saya terbayang Dono Warkop DKI. Kesusahan, lagi kesialan Dono, sadar atau tidak, selalu menghibur Kasino dan Indro, juga para penonton. Jadi tidak ada yang salah dong jika saya menertawakan Aboi.

Beberapa saat kemudian, Aboi menyuruh saya diam dan mengatakan bahwa dia sedang lelah. Sekali lagi saya ingin tertawa, tapi saya tahan, saya harus tahu batasan. Saya mendengarkan cerita Aboi, bahwa sudah hampir seminggu ia menjalankan rutinitas yang teratur. Ia bangun, lalu ia makan, lalu ia ini, dan lalu ia itu. Begitu terus hingga ia merasa lelah sendiri dengan kebiasaan barunya itu.

Aboi adalah seorang penyair yang belum terakui, lagi teruji. Ia sama seperti saya, lelaki kecil dengan angan kebesaran. Saya juga tidak begitu tahu, apa yang akhirnya membuat Aboi ingin mengubah cara hidupnya menjadi teratur. Tapi melihatnya berusaha teratur sungguh membuat saya geli sendiri dan sebenarnya saya menertawakannya dari hari ke hari.

Dia terus-terusan nyerocos tentang pengalamannya hidup teratur yang baru seminggu. Bahkan ketika ia sudah yakin bahwa keteraturan membuat imajinasinya mampet, ia masih yakin dan berkeinginan untuk hidup teratur.

“Tolong dengarkan aku,” katanya seolah tahu sedari tadi aku sedang menertawakannya.

“Baiklah, aku mendengarkanmu, boi.”

“Meski imajinasiku mampet, dan aku seolah menjadi mesin yang bekerja tanpa perasaan, aku masih bisa kelelahan.”

Nah itu kau tahu.

“Aku tidak tahu apakah ini baik untukku atau tidak. Atau apakah ini yang harus kulakukan atau tidak.”

“Lalu?” sungguh aku sangat berusaha untuk menahan diri agar tidak tertawa.

“Tapi aku menemukan keseriusan hidup di sana.”

Keseriusan matamu!

“Lagipula, khayalanku dan khayalanmu, yang terlalu tinggi itu, sungguh tidak realistis.

“Dan aku rasa, aku mau berhenti jadi penyair kecil dengan mimpi kebesaran.

Lha itu terserah kamu.

“Jadi mulai malam ini, aku jadi manusia normal.”

Lha, lha, lha, apa kau itu tidak normal selama ini?

Lalu dia meminum kopinya hingga tandas dan berdiri. Meninggalkan aku duduk sendirian di beranda kamar kosan kami.

“Mau kemana kau, boi?”

“Manusia normal tidak tidur larut malam, bung.”

“Oh.”

Lihat saja, ini baru satu minggu dan kau sudah terlihat sangat lelah. Tunggu saja sampai kau tahu rasanya menjadi tidak kreatif. Duniamu, aku yakin, akan berbenturan dengan khayalan mereka. Dan dialog yang barusan itu. Sungguh dan amat menyedihkan, lagi lucu. Aku akan mengingatnya untuk menertawakanmu.

Beberapa menit kemudian ia kembali duduk di sampingku. Aku tak ingin melihatnya. Bukan karena aku marah atau apa. Tiap melihat wajahnya malam ini, aku jadi ingin tertawa.

Lalu tiba-tiba kudengar ia mengeluarkan nafas panjang, hahhh.

“Aku rindu rasanya menjadi kreatif dengan imajinasi yang meledak-ledak. Aku rindu ketidakteraturan. Aku rindu kemungkinan, dan berjudi di sana. Aku rindu kamar yang berantakan. Aku rindu kelelahan dihantui ketidakpastian hidup. Aku rindu ketidakmengertian tentang alam. Aku rindu rimbun puisi receh yang tak sempat dibacakan. Aku rindu penolakan. Aku rindu kesengsaraan. Aku rindu rindu.

Sekejap aku akan terbahak. Aku tidak akan menahannya lagi.

“Aku rindu diriku.”

Buahahahaha hahaha hahaha hahaha hahaha hahaha

Tertawaku tidak berhenti hingga beberapa menit kedepan. Kulihat pipi Aboi merah. Dia tentu malu. Tapi mau bagaimana lagi, aku benar-benar tidak bisa menahan tawa.

Setelah aku lelah tertawa. Aku berhenti dan mulai bertanya dengan maksud mengejek.

“Apa yang kau dapatkan dari hidup teratur, heh?”

Aboi diam dan menyalakan rokok.

“Apa tadi kau bilang? ‘Aku menemukan keseriusan hidup’?

“Ohhh, sungguh kalimat yang puitis lagi setara dengan 1000 kata.”

Setelah menghembuskan asap rokonya, Aboi berkata bahwa ia telah melakukan satu kesalahan untuk mencoba hidup teratur. Dan mengenai apa yang ia dapatkan dari hidup teratur, ia mengatakan satu babak drama obrolan yang barusan ia pratikan itulah yang ia dapatkan. Mendengar perkataannya yang terakhir, aku tahu, Aboi sudah jadi dirinya lagi.

Maka kami habiskan malam itu dengan ngopi, ngobrol, sesekali tertawa dan bergunjing sampai kantuk datang menyerang. Dan entah akan jadi apa kami esok atau lusa. Mungkin Aboi bisa menjabarkannya dalam sajak-sajaknya.