Secangkir Kopi dan Sebatang Rokok di Sekre Motivasi

Secangkir kopi masih saja bingung, siapa yang membuatnya, siapa pula yang meminumnya. Seorang membuatnya, menakar komposisi antara bubuk kopi dan gula, juga air panas. Mengaduknya sampai benar-benar melebur selebur-leburnya. Tentu mengunakan air panas dari SPAM. Tapi ketika ia telah di letakkan di lantai sekre, semua orang bisa meminumnya, bebas, dengan alasan apapun. Entah yang suka ngopi, yang baru coba-coba, atau yang gengsi biar terlihat laki ikut minum ah. Itu semua sah-sah saja, alasan apapun sah-sah saja. Ya, apapun.

Demikian pula Sebatang Rokok, ia juga sama bingungnya, siapa membeli, siapa yang merokok. Ketika ia telah menyentuh lantai sekre, mereka perokok, bebas merokoknya, meskipun si pembeli atau si pemodal (yang punya uang) sedikit banyak mendengus kesal dalam hati. Tapi itu bukan intinya. Yang pasti Sebatang Rokok sama bingungnya dengan Secangkir Kopi yang ada di sekre.

Maka di suatu kali ketika mereka dipertemukan, tak alang meluap-luapnya keinginan untuk menceritakan kegelisahan masing-masing.

“Aku ingin bertanya padamu.” Seru mereka berbarengan.

“Kamu duluan.” Ujar mereka berbarengan lagi.

Haha. Keduanya tertawa. Lalu diam. Ambil ancang-ancang agar tak barengan lagi saat bicara.

Secangkir Kopi memilih diam lebih lama dan menunggu Sebatang rokok memulai kata-katanya.

“He, pernahkah kau bertanya-tanya, mengapa kita selalu menjadi milik bersama ketika jatuh di sekre Motivasi?” ujar Sebatang Rokok akhirnya.

“He, aku juga memikirkan hal yang sama. Menurutmu kenapa ketika kita ada di sekre Motivasi, kita selalu dinikmati bersama-sama?”

“Hmmm. Kira-kira kenapa, ya?”

“Ya. Kenapa ya?”

Mereka tampak berpikir seolah keduanya punya akal layaknya manusia.

Semakin mereka berpikir semakin mereka tak menemukan apa-apa, tapi dengan polosnya mereka terus memaksa diri masing-masing untuk terus berpikir. Secangkir Kopi yang telah lama dingin, jadi panas lagi, proses berpikir membuat otaknya panas (memang Secangkir Kopi punya otak?) dan membuat seluruh tubuhnya ikut-ikutan panas, terlihat asap keluar dari cangkir kopinya. Dan Sebatang Rokok tiba-tiba tersulut dengan sendirinya, membumbungkan aroma tembakau dan cengkah yang terbakar.

Secangkir Kopi kaget melihat tubuh Sebatang Rokok dan meneriakinya.

“He! Hentikan! Kau bisa mati jika terus berpikir. Lihatlah, setengah tubuhmu jadi abu.”

“Astaga! Astaga! Astaga!” saut Sebatang Rokok panik.

“Percuma, kita tak punya akal.” kata Secangkir Kopi sadar.

“Ya. Lihatlah, aku hampir membunuh diriku sendiri.”

Namun tak beberapa lama, seorang meminum Secangkir Kopi, juga menghisap Sebatang Rokok. Seorang yang lain meminumnya lagi, membuatnya tinggal setengah gelas. Dan nasib Sebatang Rokok lebih menyedihkan, sebentar lagi ia akan mati. Hidupnya tak seberuntung Secangkir Kopi. Mungkin umur tiga sampai lima batang rokok, setara dengan umur Secangkir Kopi. Tapi dia hanya sebatang, sebatang saja dan sebentar lagi mati tanpa pernah tahu jawaban atas kebingungannya. Entah dengan Sebatang Rokok yang lain, di sekre yang lain atau di sekre Motivasi juga di saat yang berbeda.

Di penguhujung hayatnya, Sebatang Rokok berharap nasib buruknya tidak terulang pada yang lain, baik saudara dekat sesama sebatang rokok atau saudara jauh Si Secangkir Kopi.

“Selamat tinggal sahabatku, semoga kita dipertemukan di alam sana.” Doa Secangkir Kopi beberapa saat sebelum Sebatang Rokok menghembuskan asap terakhirnya dan si perokok mematikan sisa baranya di asbak.

“Kembalilah dengan tenang.”

Kini tinggal Secangkir Kopi sendirian. Dan sedang berkabung. Ia jadi tak mengubris tiga orang di sekre Motivasi yang sedang bicara entah tentang apa. Ia merasa menyesal telah dilahirkan sebagai Secangkir Kopi yang tak berakal.

Pelan tapi pasti, seiring berjalannya obrolan tiga anak sekre, Secangkir Kopi hampir tandas menyisa ampas. Ia tetap saja murung. Dan terus mengenang nasib sial sahabatnya Si Sebatang Rokok yang berumur pendek. Dan entah mengapa, menjelang kematiannya, Secangkir Kopi jadi begitu melankoli dan uring-uringan.

“Bahkan jika aku seorang prajurit, aku siap menjadi barisan terdepan yang siap mati pertama. Tapi mati penasaran seperti ini adalah sehina-hinanya cara mati.” ucapnya ketika seorang diantara tiga orang yang ada di sekre memegang cangkir dan mengarahkan ke mulut.

“Beritahu aku, sebelum kau membunuhku, wahai anak sekre sialan!” katanya pengakhiran sebelum seorang tadi menenguknya habis.

“Jangan konyol! Sekre adalah milik kita bersama. Bukan milik perorangan. Makanya berorganisasi, itu namanya kekeluargaan, tolol!” jawab si peminum begitu saja seolah sedari tadi ia tahu apa yang dibicarakan Secangkir Kopi dan Sebatang Rokok.

Tidak ada yang tahu apakah Secangkir Kopi mendengar jawaban itu atau tidak, apakah ia mati penasaran sama seperti Sebatang Rokok atau mati dengan tenang karena telah menemukan jawaban atas pertanyaannya selama ini. Yang pasti, ketika seorang tadi bicara, ia masih mengalir dari tenggorokan menuju lambung.

Dan ketiga orang di sekre Motivasi itu, tertawa bersama-sama.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s