Laporan Khusus: Pernikahan Mbak Zul dan Kenangan-kenangannya di Motivasi

Dasar anak sekre, diundang jam 10, sekitar jam 3 sore baru berangkat. Sangat tidak mencirikan anak persma yang hidup dengan deadline-deadline. Ckck, suatu prestasi yang patut untuk dibuang.

Sampai di sana, pelataran suci tempat resepsi, kalau kata Payung Teduh tinggal sisa-sisa keikhlasan. Gagal dapet makan, boi. Padahal kita yang berangkat dari sekre, sudah sengaja tidak makan dari pagi. Dan lebih sial lagi gak bisa lihat perempuan-perempuan desa dateng jagongan, mereka pasti dandan agak habis-habisan untuk acara resepsi macam pernikahan Mbak Zul ini. Tapi sudahlah, mungkin alam berkehendak lain.

Yang datang bersamaan dengan kita adalah ibu-ibu yang mungkin ketika jadwal resepsi sedang ada agenda lain atau rumahnya jauh. Kata Sinta, ini mah waktunya tamu-tamu bagi si orangtua mempelai. Orang muda sudah tadi siang (lalu kita ini apa, dong? Haha). Oh ya, dari Pengurus Motivasi yang berangkat cuma tiga orang. Saya, Sinta, dan Mas Afzal (ini gak keitung pengurus, nding). Sebenernya Riama, Venny, Intan, dan Sylva janji mau ikut, tapi alam pun berkata lain lagi, mereka membatalkan dengan alasannya masing-masing. Ya, padahal kapan lagi bisa sowan ke alumni kalau nggak pas ada acara-acara macam ini. Tapi namanya takdir, siapa yang bisa melawan.

Foto bareng pengantin, biar kayak yang lain
Foto bareng pengantin, biar kayak yang lain

Beberapa kursi sudah ditumpuk rapi, meja juga ada yang ditumpuk dan disisihkan di pojok. Dan apa namanya itu yang buat kedua mempelai duduk bak raja dan ratu, backgroundnya itu lah pokoknya, saya nggak tau namanya, kalau di Jepara namanya waringan, nggak tahu kalau di Boyolali; sudah hilang semua bunga-bungaannya, kursi-kursinya dibuat duduk pakde-pakde berkumis yang sedang asik ngobrol sambil ngudud balbul-balbul. Sangat terlihat sekali sudah kukutan dari tadi.

Lantaran sudah sampai, tidak mungkin kami balik lagi. Maka dengan menghentikan produksi rasa malu untuk 30 menit ke depan, kami hampiri juga seorang ibu-ibu yang menyalami tamu-tamu yang juga ibu-ibu. Saya bilang dari Motivasi, beliau mengaku ibundanya Mbak Zul dan manggut-manggut. “Oh, dari Motivasi.”

Weh? Ibuknya tau Motivasi, boi. Terkenal sekali Motivasi ini. Haha. Buat kalian yang merasa belum bilang ke Ibuk dan Bapak kalau ikut Motivasi, buruan bilang gih, biar Motivasi tambah terkenal. Kan keren tuh, ketika kita maen kemana dan tersesat, terus ada seorang yang tau kalau kita anak Motivasi lalu diajak mampir kerumahnya, dikasih makanan, kopi, dan untung lagi kalau dikasih ongkos jalan dan jajan. Haha. (abaikan).

Dan kami pun disambut Mbak Zul, lalu duduk tanpa dipersilahkan. (Yang belum tahu Mbak Zul itu siapa di Motivasi, ia adalah sekretaris umum zamannya Mas Djoko (ah, jangan bilang kalau kalian juga tidak kenal Mas Djoko), mereka berdua PHT Motivasi tahun 2009/2010). Kami hanya mendapat jajan pasar, boi. Mana perut lapar kali. Tapi entah dapat sinyal darimana, setelah beberapa saat ngobrol, Mbak Zul ke belakang dan membawa tiga piring nasi untuk kami. Mungkin dia tau tabiat anak Motivasi kali ya. Motif mereka dateng ke pernikahan mah tidak benar-benar pengen ngucapin selamat menempuh hidup baru. Selalu ada alasan ‘tersembunyi’ lainnya.

Udah, ah. Basa-basinya. Langsung ke intinya.

Kami pun menyerahkan Majalah Motivasi ke-45 dan buku Motivasi yang ‘Pendidikan Ala Indonesia’. Lalu tiba-tiba dia bertanya.

Mbak Zul dan Produk Motivasi, keren!
Mbak Zul dan Produk Motivasi, keren!

“Bagaimana kabar Motivasi sekarang? Masih sering dipanggil birokrat?”

Hlo, itu kah kenangan Mbak Zul di Motivasi yang membekas, sehingga ketika melihat Majalah Motivasi langsung membuatnya bertanya demikian.

Saya bingung mau jawab apa. Kalau jujur bilang sekarang Motivasi jarang dipanggil birokrat, nanti mbaknya bilang kok udah beda dengan yang dulu. Tapi kalau bohong, takut dosa. Untung Mas Afzal responsif. Dia bilang, Motivasi sekarang mah nggak dipanggil birokrat lagi, mbak, kita yang nyamperin birokrat (maksudnya ini minta dana, bukan masalah berita) Haha.

Mbak Zul juga bercerita kalau zaman dia masih pengurus dulu, sempat menguak kasus korupsi tentang dana beasiswa PPA di fakultas-fakultas di UNS. Menurut ceritanya, dulu beasiswa PPA itu masing-masing fakultas dapetnya beda-beda, tergantung jumlah mahasiswanya. Itupun masih ada potongan pajak apa gitu, Mbak Zul juga lupa, yang membuat dana yang turun ke fakultas tidak seratus persen. Melainkan sudah dipotong oleh fakultas untuk urusan apa tidak jelas. Nah, Motivasi mengangkat ini diberitanya, dan BOOM! Birokrat-birokrat pada kebakaran jenggot. Lantas akhirnya, dana beasiswa PPA per fakultas nominalnya sama dan seratus persen untuk mahasiswa, tidak dipotong/dikorupsi birokrat. Keren Mbak Zul!

Gara-gara ini, dulu Motivasi ditakuti oleh para birokrat dan sering dipanggil tiap berita barunya terbit dan dibaca dimana-mana. Ngeri, boi. Jadi merinding. Dulu perjuangan mereka sampai segitunya. Dibanding kita, kita mah apa atuh. Hanya butiran debu yang tak tau jalan juang. Haha

Oh, iya. Mbak Zul dulunya adalah mahasiswa pendidikan sejarah. Begitu Sinta dan Mbak Zul saling tahu bahwa mereka lahir dari rahim yang sama, tiba-tiba mereka asik sendiri. Saya dan Mas Afzal gak tahu apa yang diobrolkan mereka. Tapi untung juga ngajak Sinta. Minimal ada wakil perempuan dari pengurus Motivasi. Coba yang dateng laki-laki semua, bisa mati kutu, boi.

Wah, sampai lupa bilang kalau Suami Mbak Zul dulunya juga anak UNS, tapi beda fakultas. Beliau ada di Fakultas Ekonomi. Dan menurut cerita Mbak Zul, Beliau adalah anak BKI FE (SKInya FE). Duh, dapet aja nih Mbak Zul yang sholeh.

Selain ngasih Majalah dan Buku (ini bukan hadiah hlo ya), kami juga ngasih hadiah ke Mbak Zul. Hadiah ini pula yang membuat telat pemberangkatan kami. Jam 2 siang, hadiah baru jadi. Soalnya hadiahnya adalah ucapan “selamat menempuh hidup baru” dengan gambar anak Motivasi yang foto pas diklat kemarin. Pikirku jika kita gak bisa dateng rame-rame, setidaknya hadiah ini cukup mewakili keluarga Motivasi 2016. Dan setelah dipikir-pikir datang terlambat ke pernikahannya Mbak Zul ada hikmahnya juga, boi. Kami jadi bisa ngobrol dan saling kenal. Coba kalau datengnya pas resepsi tadi, pasti cuma kebagian beberapa menit saja untuk sekadar say hello dan foto bareng.

Ya, begitulah laporan khusus mengenai pernikahan Mbak Zul yang sudah kukutan dan kenangannya di Motivasi.

Sekian dari saya, dari Boyolali, lutfiboi melaporkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s