Mempertanyakan Kepuitisan dan Keromantisan Mawar

Akhirnya belum terjadi juga tiga jam dalam sehari untuk mengisinya dengan belajar sastra, terutama babagan prosa. Yang ada, lagi-lagi kelupaan dan kekhilafan. Alangkah beratnya menjadi fokus dan konsisten dengan keinginan ketika kebiasaan untuk melabar dan plin-plan terlalu dominan. Sehingga setiap ingin-ingin yang ada, seorang terang pada waktu direncanakan dan hilang ketika dijalankan. Kalau tingkah laku semacam ini, menurut Sujiwotedjo, hanya ada satu kata: Jancok!

Dan di tengah-tengah kebiasaan yang melebar, lagi-lagi, dan sekali lagi pikiran ini melayang ke arah yang tak tentu. Mengenai hal-hal yang melebar ini menurut kawan demisioner yang beda angkatan diklat, ia menyebutnya ‘nir faedah’. Iya, dialah Badru. Mahasiswa absurd yang akhir-akhir ini mulai mengutuki manusia-manusia absurd. Mungkin dia sudah sadar, lagi tersadarkan. Tapi mari abaikan saja dia, dan masuk ke pembahasan.

Ke-nir faedah-an yang menganggu adalah mengenai karakter tulisan saya di blog ini. Bagaimana pendapat kawan-kawan tentang karakter blog alay dengan diksi dan gaya bahasa yang manis dan asal ini. Juga tanpa faedah dan analisis yang dalam. Haruskah saya bertahan dengan karakter ini atau membuat karakter yang lebih serius, sesuai derajat saya sebagai demisioner dan mahasiswa tingkat akhir. Atau saya justru harus mempertahankan ini, karena memang sejak awal gaya bahasa di blog ini memang demikian. (nah, ini contoh pertanyaan yang nir faedah. atau malah blog ini yang nir faedah? haha). Namun jujur, saya merasa juga kalau gaya bahasa yang saya gunakan terlalu alay dan gak ngintelek banget. Dan karena kemarin saya telah merencanakan untuk menghidupi blog ini dalam waktu yang cukup panjang, saya jadi kepikiran terus. Terutama karena saya menulis catatan pribadi di media yang siapa saja bisa mengakses, saya jadi tak tega menyuguhkan tulisan semacam ini.

Dari beberapa evaluasi yang saya lakukan barusan, ternyata memang begitu parah level kealayannya. Dan sekarang saya belum lagi mendapat solusinya. Dan berharap tiba-tiba mendapat solusi dengan cara menulis catatan ini. Dan tadi, ketika saya menulis pertanyaan-pertanyaan yang nir faedah, saya sedikit mendapat jawabannya, hanya sedikit dan boleh juga sih. Solusinya adalah dengan membiarkan blog ini tumbuh layaknya manusia. Ia harus melalui proses ketidaktahuan, maksudnya kealayan, lalu membiarkan ia tumbuh dan bergerak menuju tulisan yang mutu. Tentu akan tidak karuan nanti, tapi bukankah itu akan menjadi catatan penting mengenai ‘proses’ dari blog ini sendiri. Ya, itu solusi yang masih aneh dan riskan. (Ah, saya pusing sendiri, boi!)

Sebelum saya lanjutkan, ada baiknya saya ceritakan pada kalian mengenai buku harian seorang anak berusia 13 tahun, ia yahudi dan hidup ketika era Hitler memimpin Jerman. Betul sekali, dialah Anne Frank. Saya baru membaca dua tulisannya di fiksi lotus. Mungkin nanti akan saya sambung lagi membacanya. Anne sering mengalami kebosanan ketika ia harus di rumah seharian. Dan ditambah lagi kebijakan Hitler yang anti Yahudi sangat membatasi gerak Anne untuk menikmati dunia luar. Oleh karena itu ketika memiliki waktu senggan di rumah, ia akhirnya memutuskan untuk menulis sebuah buku diary. Dari dua tulisan yang saya baca, untuk ukuran anak 13 tahun ia sudah mampu mengkonsep diary yang menuliskannya dengan rapi dan teknik layaknya autobiografi. Detail-detailnya pun, bagi saya oke dan boleh. Apalagi setelah dunia membacanya, sebab pada akhirnya buku diary itu dianggap mewakili suara zamannya sekaligus merekam betapa jahatnya Nazi. Akhirnya ia bukan diary lagi, karena telah menjadi milik umum. Tidak, tidak, tidak. Saya tidak ingin menulis seperti Anne. Ini saja sudah menjadi milik umum. Mau mewakili apa coba? Hanya diri sendiri begini. Menyedihkan sekali.

Lain lagi, saya punya cerita lagi. Ini dari novel anak-anak yang berjudul Sapphire Barthesea. Si tokoh utama, yakni si Sapir juga memiliki buku diary yang menurut ceritanya buku diary itu membongkar kebobrokan dan ketidakmanusiawian yang dilakukan oleh sebuah panti asuhan. Juga menangkap realitas kaum gembel yang terhina dan lapar ketika zaman kerajaan di Inggris. Dan Sapir bercita-cita menerbitkan biografi itu. Tentu bisa jadi si penulis mendapat inspirasi dari Anne Frank. Dan lagi, ada di bagian cerita yang menuliskan kalau Sapir terinspirasi oleh siapa, saya lupa. Bahwa oleh karena orang itu menerbitkan autobiografi, ia jadi ingin mengikuti jejak itu dan sebagai kaum gembel yang begitu terasingkan dan kere, ia berpikir dengan diterbitkannya diarynya itu jadi sebuah buku, ia bisa mendapat uang banyak dan bisa menyewa rumah serta hidup dengan ibunya, serta ikut membantu ibunya lepas dari cengkraman mindset babu oriented.

Atau lagi seperti Eka Kurniawan yang membuat jurnal mengenai buku-buku yang ia baca. Tapi kurasa itu tidak akan cocok untuk orang lain. Meskipun cocok, mungkin tak akan bisa menyainginya. Dan kalaupun bisa, ia pasti beda sama sekali.

Nah, lagi-lagi saya melebar jauh bukan? Dan mana nyambungnya dengan judul? hehe

Atau sekali lagi, mungkin bisa mirip catatan harian Soe Hok Gie? Tidak, tidak, tidak. Itu terlalu intim untuk dibaca umum.

Saya masih berharap solusi datang dalam proses menulis tulisan kali ini. Oh, tidak. Saya lupa lagi dengan hubungan judul dan isi. Saya biasa menulis judul dulu dan jika tidak, saya seolah tidak bisa memulai kata-kata pertama. Tapi kemarin saya telah berkata pada diri sendiri bahwa akan membuat nyambung judul dengan isi. Tapi saya tidak suka menghapus atau menganti judul yang sudah saya tulis. Merepotkan sekali ya menjadi saya. Haha

AHA!

Saya dapat ide dari ketidakjelasan judul dan isi tulisan. Saya mungkin bisa membuat catatan harian, karena terbitnya pun tidak benar-benar setiap hari, jadi mungkin saya harus memiliki topik tiap menulis sebuah catatan. Jadi jika pada umumnya judul diary adalah tanggal, mungkin aku akan menjadi orang pertama dengan diary yang punya judul dan topik. Namun tetap tidak menghilangkan unsur diary, yakni lingkungan sekitar dan orang-orang yang ada di dalamnya. Nah, kalau begini jadi seperti sebuah rubrik di koran. Oh iya, masalah terletak di topik. Ya, topik harus cair sesuai kondisi sehari-hari dan memiliki mutu, walaupun sedikit. Dan mungkin sekali-kali saya harus menulis tulisan serius juga, bagaimana analisis saya tentang sastra, masyarakat urban dan tradisional, kemahasiswaan, kuliner, dan bahkan politik. Sepertinya itu sudah cukup baik. Dan dengan prinsip bahwa blog juga tumbuh, ini tidak akan terlihat buruk.

Oke. Saya sudah lelah boi. Dan sepertinya saya masih tidak menemukan cara untuk menghubungkan judul dan isi. Namun sebenarnya saya awalnya ingin memperlihatkan bahwa kerap kali lingkungan begitu sadis membunuh karakter seseorang maupun mahluk hidup, tanpa ampun. Dilibasnya karakter sebuah spesies yang masih redup, lagi rapuh. Sehingga di suatu titik ia seolah tak memiliki karakter sama sekali. Dan niatnya saya ingin menyampaikannya dengan analogi yang cukup serius dengan mempertanyakan kepuitisan dan keromantisan sekuntum mawar. Bahwa mawar sejak kapan puitis dan romantis kalau bukan kita yang mencipta karakter itu. Jangan-jangan tanpa sadar kita telah membunuh karakter mawar dengan mengatakannya puitis dan romantis. Dan jangan-jangan tanpa kita sadar, kita telah dengan egosi membunuh karakter-karakter di sekitar kita. Membayangkan ini saya merasa sedih. Bukankah Ki Hajar mengajarkan untuk memberi jalan untuk karakter itu tumbuh dan berkembang, bukan mengubahkan karakter sesuka hati. Benarkan? (oh, paragrah ini akhirnya nyambung dengan judul, hehe)

Dan sebagai penutup, kurasa blog ini harus tumbuh dengan karakternya. Bukan membunuhnya dengan mengubah karakternya menjadi, tiba-tiba serius. Hehe. Semoga barokah.

Wassalam. 11 Maret 2017, 16.57 WIB.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s