Dekontruksi Kamar Asrama Lantai 4 Nomor 2

Kemarin setelah mengikuti sebuah kuliah umum mengenai Entreprenership dan bertemu kawan-kawan seangkatan di auditorium UNS, sedikit banyak mempengaruhi saya dalam beberapa hal. Termasuk merubah tata letak kamar saya, meskipun gak ada nyambungnya dengan isi materi kuliah umum itu. Oh, maaf ralat, bukan kamar saya. Tapi kamar saya dan kawan saya; Rendi, mahasiswa teknik industry asli Purbalingga.

Walaupun tidak ada nyambungnya, bagi saya, yang menemukan gagasan untuk mengubah tata letak kamar setelah mengikuti kuliah umum yang membosankan dengan selipan untuk segera lulus dan hengkang dari kampus (basa kasarnya mengusir), tentu kuliah umum itu turut andil dalam penemuan gagasan itu. Karena ia lah yang mengingatkan saya tentang rasa bosan. Jadi ketika kebosanan saya memuncak di auditorium itu, akhirnya ketika sampai kamar pun kebosanan itu masih ada dan ide untuk mengubah tata letak kamar muncul begitu saja, seolah ia sales tidak memiliki keraguan untuk mengatakan beberapa hal, meski kadang itu hanya gaya bahasa sales untuk membenarkan pembohongan.

Ketika saya sampaikan ide ini kepada Rendi. Ia langsung setuju. Tentu ia juga sudah bosan dengan tata letak kamar sehingga langsung mengiyakan saja dan menyerahkan desainnya pada saya. Maka langsung saya sikat. Karena saya membutuhkan cahaya ketika matahari terbit, sebab sebelumnya kasur saya jauh dari jendela dan ketika pagi sinar yang masuk tidak terlalu kuat untuk membuat saya terbangun (itulah kenapa saya sering bangun siang), maka desain saya adalah bagaimana membuat kasur saya terkena sinar matahari. Selain kebutuhan itu, saya juga butuh tempat menulis yang nyaman. Saya sudah pernah mencoba dua sampai tiga posisi meja di tempat-tempat yang berbeda, namun setiap kali saya menulis masih terasa ada sesuatu yang kurang. Dan baru akhir-akhir ini saya mengerti, bahwa kekurangan itu adalah udara yang masuk. Sebab kadang-kadang, meski malam, kamar terasa panas dan kami tidak punya kipas angin dan tidak punya keinginan untuk membelinya. Jadi saya rasa, saya harus menempatkan meja dekat dengan jendela. Dan pada akhirnya yang terjadi adalah, sebentar, bagaimana saya harus menggambarkannya. Ah, pada intinya saya membuat kasur dan meja saya, juga kasur dan meja kawan saya dekat dengan jendela. Dan jadilah sebuah keseimbangan. Jendela yang horizontal ditarik dua garis kasur secara vertikal dan dua buah meja. Baik milik saya maupun Rendi, memiliki akses yang sama ke jendela. Dan ini membuatnya semangat mengerjakan skripsi. Skripsi juga salah satu alasan ia menyetujui perubahan kamar ini.

Sore esoknya, terjadi kerja sama antara saya dan ia. Kami membereskan beberapa barang-barang yang sudah tidak berguna, juga membuang beberapa plastik yang menumpuk di bawah cermin yang merupakan akumulasi dari plastik-plastik bekas membeli makanan atau apapun yang itu dibungkus oleh plastik sejak kami masih mahasiswa baru sampai sekarang, ketika kami sebentar lagi selesai dengan gelar mahasiswa. Beberapa teman, baik teman saya dan temannya teman sekamar ini, menganggap tumpukan plastik itu sebagai sampah. Bahkan teman saya mengatakan bahwa kami adalah kolektor sampah. Mengerikan memang. Kau bisa membayangkan kamar kami dengan jembatan diksi kolektor sampah. Sebuah ruangan akan langsung muncul di otakmu. Hehe. Tapi, menurut saya, plastik inilah salah satu bukti sejarah bahwa penghuni kamar lantai 4 nomor 2 adalah manusia-manusia dengan rasa cinta yang tinggi pada sampah, sampai-sampai enggan dan tak mau membuangnya.

Setelah semua barang tidak penting kami buang, maka hal yang menyenangkan adalah proses memindahkan kasur dan lemari. Dimana ada barang-barang kami yang masih berguna berhamburan di lantai dan di situ kita harus menggerakan kasur dari sudut ke sudut yang terhalang oleh barang-barang itu. Saya mengunakan teknik buka jalan. Kemana kasur mau diarahkan, kami harus meminggirkan barang supaya pergerakan kasur tidak akan terhalang. Lalu kami mendorong kasur ke sudut sesuai desain yang telah saya buat. Kenapa saya suka bagian ini, ketika memikirkan tentang membuka jalan saya teringat masa-masa di organisasi, ketika rapat redaksi berlangsung ada statmen yang mengatakan bahwa isu ini harus diangkat, karena isu ini akan membuka jalan untuk isu-isu yang lain. Sayangnya, saya lupa siapa yang mengucap statmen itu. Atau malah tidak sama sekali. Hanya saya yang beranggapan itu ada dan terjadi. Hehe

Kami melakukannya dari jam 5 sampai magrib, dan dilanjut lagi sampai isya setelah break sholat. Pada jeda ini saya teringat mengenai hal-hal terkait mengubah tata letak yang lama dengan yang baru, guna menyesuaikan kebutuhan. Dan ingatan ini, mau tidak mau, membawa saya pada beberapa tulisan anak persma mengenai makna mahasiswa dan gerakan mahasiswa sekarang yang pernah saya baca. Juga sebuah rekaman wawancara kawan saya yang saya transkripkan mengenai memaknai mahasiswa secara historis dan pendapat-pendapat, entah itu tokoh maupun kawan sesama persma.

Tulisan pertama mengenai dekontruksi makna mahasiswa di buletin Balkon milik BPPM Balairung UGM lah yang menurut saya tidak klise dengan menjabarkan panjang lebar lantas mengarahkan mahasiswa untuk bergerak dan bertingkah sesuai kodratnya sebagai milisi perubahan. Sayangnya saya lupa nama penulis. Ia mengatakan bahwa makna mahasiswa tidak sepenuhnya seorang manusia terpelajar yang harus peka dan sigap merespon isu-isu dan kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat. Meski ada sedikit bagian yang klise dengan ia mengatakan jangan meniru gaya gerakan dulu yang aksi turun jalan dan lain sebagainya. Bahwa mahasiswa pernah tidak selalu aksi untuk merespon kebijakan. Bahwa mahasiswa mengalami masanya sendiri dan apalagi zaman bergerak. Dan tidak lupa ia mencontohkan untuk ukuran sekarang ketika gerakan tidak melulu tentang pengawalan kebijakan, yang bisa juga gerakan pengabdian masyarakat. Ia juga melihat mahasiswa sekarang yang sibuk dengan PKM dan beberapa kepentingan akademik yang mendongkrak karier sebagai pekerja kelak, serta persaingan yang sangat ketat, sudah seharusnya mahasiswa menentukan maknanya sendiri. Disini saya merasa, meskipun dari awal ia terkesan netral tapi di akhir walaupun ia mengatakan silakan pilih makna kalian sendiri. Jika ingin IPK tinggi, terkenal lantaran PKM lolos PIMNAS, dan menang lomba ini-itu, maka silakan lakukan itu. Tapi di akhir dan pada akhirnya embel-embel sebagai kaum intelektual dan tanggungjawabnya tetap tersisip, meski sedikit dan tipis. Pendapat ini berbeda dengan hasil rekaman kawan saya, bahwa mahasiswa perlu mengetahui makna historisnya agar ia sadar dan tidak apatis alias dikode gak peka. Menurut saya narasumber mengatakan begitu tidak ada salahnya jika melihat kondisi mahasiswa di kampus kami yang memang rata-rata apatis. Namun tuntutan birokrat kampus dengan embel-embel wajib atau kebijakan dan saran yang sarat menakuti-nakuti lebih mendominasi pikiran mahasiswa, sehingga boro-boro cari historis mahasiswa, cari alasan kuliah pun masih seenaknya.

Tulisan yang kedua muncul dari Jogja juga dengan kampus yang berbeda, yakni LPM Arena UIN SUKA mengenai analisisnya tentang arah gerak persma sekarang yang menurutnya perlu diadakan perubahan. Ia berkata bahwa zaman sekarang dengan terbukanya kran informasi pasca orde baru bubar, persma sebagai media alternatif seolah gagal mewujud. Dan permasalahan internal persma yang masih belum mapan, membuatnya semakin tidak sempat mengurusi hal-hal seperti ini. Solusi yang ia tawarkan adalah menjadikan persma sebagai katalisator antara dunia kampus dengan dunia luar. Ya, membangun wacana yang mengintegrasikan dunia kampus dan luar, yang kemudian difollow up dengan gerakan yang riil. Jadi persma lah motor pengeraknya. Kalau menurut beberapa kawan dan senior, ya mahasiswa sekarang dengan kemajuan teknologi yang begitu pesat dan mudahnya akses informasi, sudah seharus ia dalam gerakan lebih baik dan mengerikan ketimbang zaman dulu. Tak jarang juga yang mengatakan bahwa gerakan harus menyesuaikan kebutuhan zaman dan kondisi lingkungan setempat. Ya, semua itulah perihal makna mahasiswa, gerakan mahasiswa, dan persma. Penuh dengan penafsiran, pendapat, dan analisis pengkondisian sekarang. Saya yang sedang melakukan kerja dekontruksi kamar jadi merasa memang cocok sekali segala yang berbau mahasiswa perlu didekontruksi pula. Gak usah muluk-muluk alasan. Harus memahami historis lah, agen of change, atau kenapa gak aksi? Ayo aksi! Dimana mahasiswa sekarang! Menurut saya cukup satu alasan yang ringan, kita bosan dengan keadaan yang ada. Dan solusi untuk mengatasi kebosanan, ya jelas, medekontruksinya. Seperti saya mendekontruksi kamar saya. Hehe

Setengah jam setelah isya berlalu, akhirnya kamar saya selesai didekontruksi dan bersih pula, tiada sampah plastik. Dan saya berpikir, lha untuk mendekontruksi perihal pelbagai permasalahan mahasiswa yang ada butuh waktu berapa lama yo?

Tik-tok, tik-tok. Saya tidak bisa menjawabnya langsung, cepat dan tepat seperti peserta lomba cerdas cermat. Dan menurut hasil analisis ngaco saya, mahasiswa pun terbagi dalam kelas-kelas sosial. Dan kelas-kelas sosial adalah medan yang empuk untuk memecah belah mahasiswa. Jadi silakan lakukan dekontruksi apapun yang kau kehendaki karena meski berbeda-beda kita tetap sama. Sama-sama bosan. Haha

Cukup untuk hari ini!

19 Maret 2017, 4.59 WIB.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s