Pelajaran Memahami

Seorang kawan saya yang tidak merokok, meski ia pernah sekali waktu ketika SMA merokok barangkali sebatang dua batang, namun ketika tiba-tiba ia meminta rokok saya adalah suatu pertanyaan. Ia sempat jeda untuk tidak merokok dan bahkan pernah mengkritik saya lantaran banyak uang yang saya habiskan untuk merokok. Maka ketika ia meminta rokok di sore itu, saya bertanya-tanya ada apa gerangan. Tapi ia tak mau menjawab. Oke. Beberapa orang sangat mudah menumpahkan segala masalahnya ke orang lain, bahkan jika orang lain baru ia kenal sama sekali. Dan beberapa lagi, orang yang sangat sulit sekali untuk mengatakan atau sekadar menceritakan kepada teman akrabnya apa masalah mereka. Dan beberapa lagi, adalah orang-orang yang perlu diyakinkan bahwa ceritanya tidak akan bocor kemana-mana untuk membuatnya mulai bercerita.

Meski setelah seorang kawan yang satu, kebetulan kita sedang nongkrong bertiga, memaksanya untuk bercerita juga menjamin ceritanya tidak akan kemana-mana, ia tetap tidak ingin menceritakan pada kami. Walaupun ia tahu dan kenal kami, atau katakanlah kami adalah teman sejak awal semester dan saling mengerti satu sama lain. Itu tetap tidak membuatnya bergeming dengan keengganannya untuk bercerita. Ia termasuk orang-orang yang sangat sulit untuk bercerita. Namun ada kecenderungan orang seperti ini akan mudah bercerita dengan orang yang baru ia kenal karena mungkin baginya orang yang baru ia kenal tidak akan memiliki persepsi yang macam-macam dengan ceritanya. Tapi, meski ia tidak bercerita segala gerak-geriknya serta apa yang ia bicarakan, bagaimana status sosmednya, dan lagu yang ia dengar sedikit banyak membuat saya memahami apa sedang terjadi padanya. Setidaknya itu menunjukan di sekitar mana masalahnya berada.

Pertama dari status WAnya, dengan foto sebuah film yang belum selesai ia memberi caption ‘nyesek’. Ah, ini pasti asmara. Kedua, sepanjang kita mengobrol dari satu tempat ke tempat kedua jelas bahwa ia sedang meresahkan suatu hal. Dan ketika ia berkata, “sepertinya cuma kau yang masih tenang-tenang saja (gak ngurusi masa depanmu(calon istri-red)red).” Saya hanya tertawa saja. Jadi ini permasalahannya. Dan apalagi ia sedang tergila-gila dengan buku Kang Abay yang berjudul ‘Cinta Dalam Ikhlas’ dan memberikan promosi yang percuma pada saya, “buku ini cocok bagi kalian yang sedang dilanda permasalahan jodoh.” Sekali lagi saya hanya menahan diri untuk tidak berkata, “hentikan omong kosong ini!” Tapi ya sudahlah, sekali dalam hidup kita juga harus bisa menjadi pendengar dan tidak terus-terusan mengutuki hal-hal di luar pandangan hidup kita.

Agar tidak salah paham dan menjudge kawan saya ini, perlu saya katakan meski ia tidak lahir dari keluarga dengan keislaman yang kuat atau malah berlebih, ia pernah menjadi pengurus unit kegiatan mahasiswa kerohanian di kampus. Jadi sedikit banyak itu mempengaruhi wacana, film dan selera bukunya. Ya, pokoknya yang islami lah. Setelah kami pindah dari angkringan ke loteng asrama, saya mencoba memancing-mancing dengan memutarkan lagu-lagu yang ia suka yang bercerita mengenai, kurang lebih yang ia alami sekarang, yang penting asmara, titik. Maka memintalah ia request lagunya Krisdayanti yang menjadi OST Surga Yang Tak Dirindukan. Juga membahas buku Kang Abay-Cinta Dalam Ikhlas. Tak lupa kusodorkan juga film Tenggelamnya Kapal Van Derwijk karya HAMKA untuk didiskusikan. Akhirnya saya bisa mengambil kesimpulan bahwa ia sedang mengalami kegagalan cinta. Entah itu ditolak atau si perempuan akan menikah karena ia masih sibuk kuliah, atau ia menyukai perempuan itu dan perempuan itu juga menyukainya, tapi sebelum ia berani mengutarakan cintanya, perempuan itu bertemu dengan mantannya dan mereka balikan. Contoh yang terakhir kurasa cukup nyesek–sesuai dengan status WAnya. haha

Kenapa saya bisa mengambil kesimpulan demikian, karena melihat dari cara dia menjelaskan plot film Surga Yang Tak Dirindukan, yang menurutnya simpel. Sebab Mevro yang akan dipinang seorang dokter akhirnya gagal, karena istri Pras sedang sekarat dan meminta Pras untuk berbahagia dengan Mevro. Mevro tidak bisa menolak, karena dulu di film yang pertama, ia telah menjalin ikatan suami-istri dengan Pras. Sedangkan dokter yang hendak melamarnya adalah korban dari kegilaan film ini. Ia, kawan saya, menjelaskan ini dengan berapi-api dan saya mendengarkan dengan bara api di rokok. Saya tidak ingin bertanya apa-apa, tapi film Surga Yang Tak Dirindukan 2 sepertinya belum ada di internet, lalu dimana ia menontonnya? Itu pertanyaan saya setelah ia selesai bercerita. Dan alangkah mengejutkannya, ia menontonnya di bioskop (ini adalah debut pertamanya) dan bersama seseorang yang tidak mau ia sebutkan siapa. Dan yang terakhir diskusi kita mengenai film Tenggelamnya Kapal Van Derwijk, diujung diskusi ia memberikan analisisnya mengenai amanat yang bisa kami ambil yaitu, kurang lebih, mungkin kita tidak bisa mendapatkan apa yang kita inginkan (Zainudin tidak mendapatkan Hayati), tapi setelah itu selalu ada hal yang lebih baik untuk diri kita (Zainudin ke Jawa dan sukses). “Selalu ada hikmah yang bisa kita petik dari sebuah kegagalan,” ujarnya dengan tatapan penuh keyakinan.

“Semoga itu juga berlaku padamu, kawan.” balasku dalam hati.

Ya, terkadang orang membicarakan hal lain. Tapi sebenarnya ia sedang membicarakan dirinya sendiri. Itulah pelajaran memahami, boi. Kau tidak perlu memaksa seseorang untuk bercerita tentang masalahnya. Cukup ajak ia bicara tentang apa saja, maka pelan tapi pasti kau akan tahu masalahnya. Sekarang kau mengerti, boi?

Kalau belum, saya punya cerita yang menyebalkan, betapa manusia penuh dengan prasangka-prasangka, kedatipun itu suami-istri, orang tua-anak, dan sesama kawan. Saya habis membaca sebuah cerita pendek karangan Garcia Gabriel Marquez sebelum mendapatkan pendapat di atas. Judulnya, ‘Saya Hanya Ingin Menelepon’. Ini berkisah tentang seorang perempuan bersuami yang sedang menuju rumah dan mobilnya mogok di tengah jalan. Waktu itu salju sedang badai dan ia mencoba meminta bantuan mobil dan bus yang lewat. Lalu akhirnya sebuah bus berhenti dan si perempuan itu naik. Isinya perempuan semua. Dan ia tertidur setelah dilarang bicara dengan keras karena banyak penumpang sedang tidur. Sesampainya di tujuan bus, ia turun dan mencari telepon, tapi seorang perempuan berbaju tentara memanggilnya dan mengira ia termasuk rombongan bus. Meski ia sudah menjelaskan bahwa ia hanya ke sana untuk mencari telepon, si perempuan dengan baju tentara tidak percaya dan si kondektur serta supir bus sudah pergi. Maka belum sempat ia menelepon suaminya, ia telah terjebak dalam sebuah sanotarium sebuah rumah sakit jiwa. Berhari-hari, bahkan berminggu-minggu ia tidak bisa mengakses telepon sama sekali. Sedangkan di rumah suaminya begitu berprasangka buruk kepadanya. Ia mengira istrinya sedang melarikan diri dengan pacar pertamanya. Karena si suami mendapatkannya juga ketika ia sedang lari dari seorang duda yang dijodohkan orang tuanya. Si suami dibuat stress dengan prasangkanya dan melakukan pencarian tiap hari. Bahkan ia menanyai tiap orang di kompleksnya, juga mantan pacar istrinya, juga seseorang yang pernah berhubungan dengannya, juga persewaan mobil yang mobilnya disewa istrinya. Namun hasilnya nihil. Dan cukup membuatnya menyimpulkan bahwa istrinya seorang pelacur, ketika ia menelepon seorang lelaki yang dekat istrinya ketika mereka berkunjung ke kota dekat pelabuhan, sedang tidak di rumah.

Sampai suatu ketika si istri bisa mendapatkan telepon rumah sakit dan menelepon suaminya, satu kata itu keluar dari mulut sang suami. Maka betapa kasihannya si istri, ketika ia berjuang untuk menelepon si suami, malah mendapat satu kata yang mungkin wanita manapun akan tidak suka dikatakan seperti itu, walaupun ia seorang pelacur sekaligus. Tapi ketika si istri sedih, seorang ibu di rumah sakit itu telah berhasil mengirim sebuah sms yang mengatakan bahwa sang istri sedang dirawat di rumah sakit dan memintanya untuk datang ke rumah sakit jiwa itu. Maka betapa senangnya si istri ketika suaminya datang. Tapi ketika ia meminta untuk dibawa pulang, suaminya menolak karena telah mendapat sedikit pengantar oleh dokter jiwa di sana. Terjadi dialog antara keduanya. Antara si istri yang mengaku tidak gila, sebab ia memang tidak gila, karena tujuan awalnya ia naik bus itu adalah untuk menelepon suaminya. Sedangkan si suami percaya pada dokter jiwa bahwa istrinya gila dan punya obsesi pada telepon. Sampai jam kunjungan habis, pendapat keduanya tetap sama. Akhirnya si istri menyerah dan si suami kembali pulang. Esoknya si suami datang lagi, tapi si istri terlanjur membencinya dan jatuh pada prasangka bahwa suaminya sungguh tidak bisa membedakan istrinya sendiri dengan orang gila. Ia memutuskan untuk tidak menemuinya. Bahkan sampai beberapa kali suaminya berkunjung. Juga mengembalikan lagi suratnya tanpa disentuh sekalipun.

Begitu mengerikan efek dari ketidaktahuan dan kesalahpahaman serta prasangka-prasangka, bahkan itu pasangan suami-istri sekalipun. Kupikir ketika si suami benar-benar mengerti istrinya dan memahami istrinya, ia tidak akan percaya pada omongan si dokter. Juga si istri, jika ia tidak cepat mengambil kesimpulan bahwa suaminya tidak bisa membedakan istrinya sendiri dengan orang gila, tentu ia bisa menikmati setiap kunjungan suaminya sembari mengurangi kebodohan suaminya itu. Tapi itu tidak terjadi karena keduanya seolah begitu mengenal satu sama lain, padahal tidak sama sekali. Menyedihkan bukan?

Dan sekarang kau paham, boi? Kupikir kau akan cepat paham. Jadi aku tidak perlu menuliskan cerita selanjutnya untuk membuatmu paham. Kalaupun kau belum paham, kau bisa membaca cerpen ini sendiri dan cerpen Eka Kurniawan yang berjudul ‘Gincu Ini Merah, Sayang’. Kupikir itu akan cukup membuatmu paham. Dan tidak membuatmu terjebak dalam prasangka-prasangka yang menyesatkan, bahkan kepada kawanmu sendiri, pacarmu, atau istrimu kelak. haha

Kurasa cukup untuk pelajaran memahami hari ini. Jika ada hal-hal tidak kalian pahami, silakan mampir di menu kontak dan komen dibawah ini. Kupikir dengan begitu kita bisa saling memahami, bukan?

asrama gd. c lt. 4 kamar no.2, 24 Maret 2017, 1.31 WIB.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s