Baper

“membunuh tidak menghasilkan apa-apa, kecuali dosa. tapi itu membuatmu kuat.”

Sayangnya KBBI belum menganggap bahasa alay atau ragam bahasa milik anak muda ini sebagai bagian dari bahasa Indonesia yang harus diabadikan dalam kosakata kita. Jadi mengenai pengertian ‘baper’, kita sudahi mencari referensi dan sepakat bahwa yang kau maksud, mungkin kurang lebih juga sama seperti yang saya maksud; membawa perasaan jauh lebih banyak ketimbang akal–yang berujung rasionalitas.

Agaknya menjadi sebuah ironi, ketika sesama manusia saling mengutuki bahwa kau baperan, dan itu tidak baik. Namun bukankah manusia memang terlahir dengan satu paket perasaan. Bahkan Ipang dalam lagunya ‘Apatis’ mengatakan ada seribu satu perasaan. Tapi, di sisi lain, seperti kata-kata kyai bahwa apa-apa yang mendapat imbuhan -an; itu tidak baik. Dan ada baiknya untuk dihindari. Pendapat ini benar juga.

Di usia berkepala dua, seharusnya kau sudah bisa memanajemen perasaanmu. Kapan kau harus menggunakan perasaanmu, kapan kau menggunakan akalmu. Kau sudah sewajarnya memilih dan memilah keduanya agar tidak salah tempat. Dan kau juga tau untuk siapa perasaanmu kau gunakan dan untuk siapa akalmu kau gunakan. Jadi pada akhirnya, tulisan ini tidak akan kemana-mana. Menurutku selalu begitu ketika kita mencari sebuah jawaban. Kita sadar, bahwa sebenarnya jawaban itu ada di dekat kita, bahkan bisa jadi jawabannya adalah diri kita sendiri. Tapi kadang untuk mengetahui itu, kita perlu melakukan perjalanan yang panjang dengan ujung di tempat kita mulai melangkah. Ya, setidaknya itu membuatmu bergerak dan tidak diam saja.

Saya punya cerita mengenai seorang tokoh dalam sebuah novel, dimana ia adalah karakter yang perasaannya telah dicabut oleh si pengarang. Ia adalah Nakata, si orang tua yang punya keahlian bicara dengan kucing, juga batu, di novel ‘Dunia Kafka’ milik Haruki Murakami. Ia juga tak bisa membaca, suatu zat kimia ketika Jepang sedang berperang melawan sekutu, saat Nakata masih kecil ia terkena semacam gas beracun dan itu membuatnya tidak bisa membaca. Juga mempengaruhi, bahkan mengubahnya menjadi tak berperasaan dan memiliki kekuatan-kekuatan aneh. Sebagai manusia yang tak berperasaan, ada beberapa keuntungan yang ia dapatkan. Salah satunya adalah sangat mudah tidur. Kupikir orang-orang yang terkena imsonia adalah mereka yang begitu berperasaan, sehingga ia terus-terusan memikirkan perasaan orang lain. Padahal bisa jadi, orang lain itu yang ia pikirkan, tidak masalah dengannya. Dan sebagai orang tak berperasaan, Nakata jadi tidak masalah ketika diolok-olok keluarganya, bahkan ia merasa bersyukur telah memiliki kekurangan itu sehingga ia mendapat subsidi dari Gubernur. Menguntungkan, bukan?

Nakata juga sadar bahwa dirinya aneh, dan karena ia tak berperasaan, ia jadi sedikit tidak menjadikan itu beban. Oleh karenanya, jika ia menginginkan sesuatu, ya sudah, ia akan melakukannya saja. Tanpa pikir panjang dan apalagi memikirkan apa yang akan terjadi jika melakukan hal itu. Ia dengan tidak sadar, tidak peduli pada apa yang orang lain rasakan. Pada intinya ia melakukan sesuatu hal karena ia ingin melakukan saja, tidak lebih.

Saya jadi ingat juga dengan film dokumenter ‘Jagal’ yang bercerita mengenai para algojo. Di sana diceritakan para algojo itu membunuh para simpatisan PKI dengan meminum darahnya terlebih dahulu, agar tetap kuat untuk membunuh. Kupikir di sini, ada pencopotan perasaan yang dilakukan oleh para algojo untuk menjaga kewarasan mereka. Dengan beban perasaan yang masih ada, kau bisa gila jika membunuh beratus-ratus orang. Meskipun ia beda pandangan ideologi denganmu. Tetap saja kau sedang membunuh manusia, bukan hewan.

Antara Nakata dan si Algojo ada kesamaan, keduanya meninggalkan perasaannya untuk melakukan suatu urusan. Dan keduanya berhasil tetap hidup sampai tua, tanpa mengalami gangguan kejiwaan. Kau mengerti, membunuh tidak menghasilkan apa-apa, kecuali dosa. Tapi itu membuatmu kuat.

Dan untuk menghilangkan kebaperan, karena menurut kyai yang berlebihan itu tidak baik, kau bisa mengurangi dosisnya. Karena jangankan baperan, sedikit berperasaan aja itu akan cukup membuatmu menjadi manusia yang susah bergerak, sebab waktumu akan habis untuk mengurusi setiap perasaan yang ada dari berbagai macam manusia. Namun bukan berarti menjadi tidak berperasaan adalah solusi. Sebab perasaan selalu dibutuhkan untuk menjadi manusia. Dan akal menjadi ciri khas manusia karena kerja berpikirnya. Setidak-tidaknya kau paham, kapan menyingkirkan perasaan, kapan menyingkirkan akal. Dan waspadalah, memberikan porsi yang terlalu besar untuk perasaan, baper, banyak membuatmu jatuh dalam kemelut masalah yang tak masuk akal–sampai kau bingung sendiri. Jadi gunakan akalmu untuk menyeimbanginya. Dan baperlah pada waktunya. Terima kasih.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s