Seperti Olahraga

Di suatu malam, saya tiba-tiba ingin berolahraga. Entah kapan terakhir saya olahraga. Mungkin setahun yang lalu, atau malah dua tahun yang lalu. Saya lupa.

Saya melakukan beberapa pemanasan dari kepala, pundak, lutut, kaki, juga tangan. Bersusul satu paket perenggangan otot untuk melenturkan tubuh. Lalu sedikit latihan memukal dan menendang untuk menambah keringat yang masih malu-malu untuk keluar. Tidak lupa push up, sit up, dan back up.

Setelah itu saya tidur dan tidak mandi terlebih dulu, karena sudah terlalu malam. Dan yang terjadi keesokan harinya adalah badan saya pegal-pegal semua. Saya sedikit menyesal menuruti pikiran untuk berolahraga. Sebab sampai dua hari kemudian, pegal-pegal masih terasa. Apalagi setelah dua hari itu, saya juga melakukan olahraga lagi, malam-malam pula. Dan dengan porsi dua kali lipat dari sebelumnya. Ketika bangun yang terjadi sungguh jauh lebih parah. Setiap otot dan sendi, semuanya pegal. Menciptakan rasa sakit ketika tubuh diajak bergerak. Kesalahan yang terulang dua kali.

Untuk olahraga yang kedua, pegal-pegal bahkan belum hilang sampai tiga hari. Akhirnya saya menyerah untuk membuatnya normal secara alami. Saya meminta balsem geliga dari teman sekamar dan mengoleskan ke sendi-sendi. Esoknya sedikit lumayan. Alhamdulillah.

Oh iya, ternyata setelah saya pikir-pikir, ide untuk berolahraga malam-malam itu terinspirasi dari seorang karakter di novel Haruki Murakami yang ‘Dunia Kafka’. Menurutnya untuk menjadi kuat, di sini kuat bisa diartikan secara jasmani dan rohani, kau perlu berolahraga dan membentuk otot-ototmu. Dan saya sebagai orang yang pernah suatu kali menjadi anggota Do-jo Tae Kwon Do, tentu terpancing untuk kembali berolahraga. Apalagi di dalam raga yang kuat terdapat jiwa yang sehat. Haha

Keesokan harinya saya mengeluhkan pegal-pegal sehabis olahraga kepada seorang teman; Sidiq, kawan seprodi–Bastind. Alangkah mencerahkan sekali tanggapannya. Mungkin dulu Sabem (guru Tae Kwon Do) juga pernah mengatakan. Hanya saja pendapat Sidiq ada analoginya. Dan itu sedikit mencerahkan, juga terkait masalah saya dengan tulisan saya.

“Kau perlu melanjutkan olahragamu dan melakukannya secara rutin. Memang melakukan olahraga lagi setelah tidak pernah berolahraga akan membuat tubuhmu pegal-pegal.” ujarnya.

“Pilihannya hanya dua. Kau melanjutkan olahragamu dan konsisten, sampai otot-otot terbiasa. Atau kau tidak berolahraga sama sekali. Tapi kau tahu, berolahraga memiliki banyak manfaat.”

“Seperti tukang bangunan, mereka, ketika sedang mendapat panggilan kerja setelah nganggur beberapa bulan, ketika hari pertama kerja, mereka juga merasakan pegal-pegal. Tentu mereka akan terbiasa setelah beberapa hari ke depan.”

Ah, ternyata itu masalahnya. Kau hanya perlu terus melakukannya. Dan itu akan membuatmu terbiasa. Begitu halnya dengan menulis.

Saya sudah tidak menulis cerpen hampir dua tahun, sekali mencoba untuk menulis lagi. Apa-apanya terasa mandek–macet. Habis bagian ini harus ngapain, dialog ini harus gimana, karakterisasi yang bagus seperti apa, menyambungkan antar scene supaya jadi satu keutuhan gimana. Saya seolah mulai dari awal lagi.

Bila dalam olahraga akan terasa pegal-pegal, dalam menulis itu adalah pusing-pusing. Jadi saya pikir, saya perlu pemanasan untuk mulai menulis cerpen lagi. Dan memiliki waktu yang teratur untuk itu.

Dan mungkin sudah saatnya mulai menghidupkan kembali sastra-lutfi.blogspot.com. Nantikan dan doakan. Sekian.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s