Hari Lahir

Pada waktunya kau akan menjadi tua, itu mutlak. Tapi menjadi dewasa, belum pasti. Klise, bukan?

Sekarang saya sudah berumur 22 tahun lewat sehari kurang.

Ada orang yang ingat tanggal lahirnya kapan dan merayakannya. Lalu lupa untuk apa tanggal itu. Ada orang yang lupa tanggal lahirnya karena terlalu sibuk dan berpikir sungguh tidak bergunanya memikirkan hari kelahiran dan sia-sia belaka merayakannya.

Kadang saya juga berpikir bahwa tanggal lahir dan ulang tahun hanya kesia-siaan belaka. Tidakkah itu hanya simbol kau bertambah umur, namun belum pasti kau berubah secara kesadaran dan kedewasaan, lagi kepribadian. Jadi kemarin pada tanggal 23 April, saya bertanya-tanya, sebenarnya untuk apa hari lahir. Toh nenek dan ibu saya tidak pernah merayakan itu dan terkesan melupakannya, tapi mereka tetap tumbuh dan kuat.

Ah, itu kan nenek dan ibumu, kata saya yang lain. Kau beda dengan mereka. Kau sudah kenal dunia keilmuan dan tercerdaskan oleh pendidikan tinggi. Orang yang sudah kena zaman modern, tidak bisa hidup dalam bayang-bayang nenek moyangnya, kau tahu itu.

Saya sungguh benci dengan diri saya yang lain. Dia terlalu sok segalanya. Persetan dengan dunia modern. Dia bilang dunia modern, seharusnya kata-katanya praktis dan ekonomis, tidak berbelit-belit. Tapi kenyataannya tidak sama sekali. Dasar menyedihkan!

Meski begitu, kupikirkan juga kata-katanya. Dan sama sekali tak kutemukan jawaban. Apa yang membedakan nenek dan ibu saya dengan saya di kehidupan masing-masing. Kami sama-sama diberikan masalah yang harus diurus. Kami sama-sama diberikan realita yang harus dipikirkan. Saya tidak mungkin bisa mengatasi masalah nenek saya, kalaupun bisa barangkali tidak memuaskan, mungkin kebetulan belaka. Juga nenek saya tidak bisa mengurusi masalah saya. Kami sama, hanya waktu dan umur yang membedakan.

Akhirnya setelah tidak mendapatkan apa-apa, saya jadi berpikir selama 22 tahun ini saya ngapain saja. Tidak mudah mengingat pencapaian-pencapaian. Saya tipe orang yang mudah lupa dengan kebaikan. Atau mungkin memang saya tidak punya pencapaian apa-apa selama 22 tahun.

Dari sini saya mulai sedikit mengetahui untuk apa hari lahir, kalau bukan untuk mengingatkanmu tentang kebodohan-kebodohanmu.

Dan manakah yang lebih dominan dalam diri saya, kebodohan atau kecerdasan. Saya sama sekali tidak memikirkannya. Untuk apa pula.

Lalu seorang teman, entah apa motivasinya, mengatakan kepada saya bahwa saya lelet dan lambat, terlalu menyia-yiakan waktu saya selama 22 tahun. Menyebalkan punya seorang teman seperti ini, tapi juga menguntungkan. Bahkan ketika kita tidak perhatian pada diri sendiri, ia mau memperhatikan kita.

Dan lebih lagi ia menyuruh saya membuat rencana hidup. Fuck! Ini bagian yang menyebalkan ketika seorang mulai menceramahimu.

Dan lebih bodohnya, saya memikirkan perkataan teman saya itu, meskipun menyebalkan. Bodoh sekali kau ini!

Dan ya, mari berdamai dan mulai berbenah dan tidak menjadi egois, bahkan dengan diri sendiri. Bukankah Kartini pernah bilang, dengan menolong diri sendiri dengan baik, kau bisa menolong orang lain jauh lebih baik.

Setidak-tidaknya itu pelajaran yang bisa saya ambil dari seorang teman, di hari kelahiran ini.

Dan terima kasih.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s