Semua Ikan di Langit, Marathon Pertama

Ini hanya semacam review. Tidak lebih. Seperti kau bercerita setelah kau pergi berkemah.

Membaca ‘Semua Ikan di Langit’ membuat saya terkantuk-kantuk di perpustakaan UNS. Entah karena suasananya yang mempengaruhi, atau ceritanya yang seperti dongeng sehingga membuat saya ngantuk. Namun yang pasti di tengah-tengah saya membaca, banyak sekali prasangka yang bertebaran di kepala saya.

Prasangka yang pertama adalah bahwa Ziggy sangat terasa berhati-hati menuliskan setiap kalimatnya. Saya tidak mendapatkan tulisan yang mengalir, setidaknya di bagian-bagian awal.

Yang kedua, saya merasa di bagian awal terlalu banyak penjelasan tentang tokoh dan latar cerita. Ini gaya-gaya konservatif, seperti novel-novel pujangga baru. Saya tidak melihat sebuah konflik yang berarti.

Yang ketiga, Ziggy hanya sedang menulis sebuah kumpulan cerita saja. Pasalnya sampai setengah novelnya saya baca, hanya berisi kumpulan cerita yang menceritakan seorang tokoh bernama Beliau. Saya sangat berharap ada masalah. Saya merasa tidak dihargai sebagai pembaca tanpa ada konflik yang ikut menjadi pikiran saya, hehe.

Yang keempat, sungguh saya tidak diberi keterkejutan. Seolah flat saja.

Setidaknya itu prasangka saya yang terus saya kepikiran sembari saya terus melanjutkan membaca dengan mata yang mulai menyipit.

Namun ketika sampai pada bagian Beliau dan si Bus kota berkunjung ke pohon besar, yang besarnya melebihi bumi dan memiliki batang dan daun yang bercahaya seperti emas bernama Chinar. Akhirnya saya terkejut.

Melalui Chinar saya tahu, bahwa Beliau adalah metafora Tuhan. Ah, akhirnya. Dari sini saya langsung menghapus semua prasangka saya. Bukan karena saya takut telah berprasangka buruk kepada sebuah tulisan yang bercerita tentang Tuhan, bukan. Pada akhirnya saya menangkap maksud Ziggy mengunakan gaya kepenulisan seperti itu, walaupun ini termasuk prasangka saya juga.

Review saya setelah membaca ‘Semua Ikan di Langit’, novel ini adalah bacaan untuk mengenal Tuhan dengan cara yang beda sama sekali. Saya mengarisibawahi kata ‘mengenal’. Ini nyambung dengan pembukaan di awal yang memberikan porsi yang banyak untuk sekadar mengenal sosok Beliau. Bahkan kenapa novel ini tidak memiliki konflik yang berarti, mungkin itu seperti Ziggy ingin menyampaikan bahwa Beliau (baca: Tuhan) adalah sosok yang tidak senang dengan masalah–manusialah yang bermasalah. Dan apakah ini juga ada hubungannya dengan prasangka saya, bahwa novel ini hanya kumpulan cerita-cerita. Pasalnya konflik-konflik kecil ada di tiap cerita-cerita itu. Dan Beliau selalu ada di tiap cerita itu. Wow, apakah ini pesan bahwa Tuhan selalu ada dimana-mana.

Pokoknya menurutnya saya, Chinar yang suka mengosip lah yang membuat cerita ini menjadi jelas dan menarik. Juga anak-anak Chinar di bumi, yang pandai bercerita.

*

Dan yang menariknya dari ‘Semua Ikan di Langit’ adalah kelihaiannya memainkan bahasa, sampai ke babagan sintaksis dan penguasaan penuh akan tata bahasa. Lagipula ini juga salah satu alasan mengapa novel ini menjadi pemenang satu-satunya sayembara novel DKJ 2016.

Selain itu, kupikir Ziggy sangat berjuang keras untuk metaforakan Tuhan. Atau setidaknya ia akan direpot-repotkan dengan perkara memindahkan fakta dan realita menjadi sebuah cerita fantasi. Dan mungkin keasyikannya, jika saya yang menulis, adalah memilih tokoh-tokohnya. Sampai sekarang, saya masih bertanya-tanya, mengapa ia memilih Bus kota uzur sebagai si pencerita. Apakah ini ada hubungannya tentang fenomena Om Telolet Om? haha

Dan berbahagialah Indonesia mendapat satu novel fantasi dari penulis yang masih muda. Yang menurut saya, ketika membaca, membuat imajinasi saya berimajinasi bebas.

Akhir di kata, ‘Semua Ikan di Langit’ adalah novel yang utuh. Secara kebahasaan tidak diragukan, dan secara penyampaian dan bangunan cerita, setidaknya ia punya alasan.

Terima kasih.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s