Curriculum Vitae, Marathon Kedua

Marathon saya liburkan sehari karena sedang ada teman dari Jepara yang main ke Solo, hendak mendaftar kuliah. Berikut review ‘Curriculum Vitae’, marathon kedua:

Setelah selesai membacanya beberapa menit yang lalu, saya bertanya-tanya, mengapa pola penyajian dan tema cerita’Curriculum Vitae’ hampir serupa dengan ‘Semua Ikan di Langit’?

Sepengetahuan saya, sayembara novel DKJ tak bertema. Jadi apakah ini sebuah kebetulan?

Seorang teman pernah mengatakan bahwa ide tidak turun untuk satu orang saja. Mungkinkah ini adalah fakta yang membenarkannya? Mungkin saja. Siapa yang tahu. Bukankah kadang ketika kau memakai baju warna biru, tidak sengaja temanmu memakai baju biru juga? Nah.

*

Saya membaca ‘Curriculum Vitae’ sehabis sholat magrib dan menyelesaikannya sekitar pukul dua pagi. Awalnya saya memaki-maki, “jancok! ini novel atau apa?!” Bahasanya seperti prosa liris mendekati puitis, bentuknya aneh seperti kumpulan prosa saja, dan rasanya ketika dibaca seperti bukan novel. Ini seperti saya makan nasi dengan garpu. Tapi orang mengatakan garpu itu adalah sendok.

Saya menyerah untuk memaki dan melanjutkan membaca. Mungkin ada alasan tersendiri Benny Arnas membuat novel seperti ini. Toh, ‘Semua Ikan di Langit’ juga terasa aneh di awal.

Ya, akhirnya saya mendapat jawaban menjelang pengakhiran. Polanya sama dengan ‘Semua Ikan di Langit’ seperti yang saya katakan di atas. Di awal seolah menceritakan hal-hal lain, sehingga kita penasaran dan terus membaca–barulah di akhir menjelang ending dibuka rahasianya.

Dari sini saya merasa dikritik, jangan terlalu cepat menilai sebelum selesai membacanya kau, boi! Dasar pembaca awam! Haha

Ternyata dua unggas, anak ayam dan anak bebek yang membuka cerita adalah si penulis dan seorang perempuan, yang saling mencintai meski si penulis sudah beristri. Namun akhirnya mereka menikah juga. Dan dengan tragis mereka mati di malam pertama. Lalu terlahir kembali sebagai anak ayam dan anak bebek yang dipertemukan Tuhan di surga.

Cukup melelahkan memang membaca novel dengan gaya semacam ‘Curriculum Vitae’ ini. Sehingga saya perlu menyesuaikan dan mencari cara agar nyaman membacanya. Akhirnya setelah terus mencoba menikmati. Saya tiba-tiba merasa seperti sedang membaca sebuah tulisan berita online, lantaran tulisannya yang pendek-pendek, yang tiap judul hanya berkisar satu sampai tiga halaman saja. Saya membayangkan ketika saya membalik halaman demi halaman, saya sedang menyecroll dari atas ke bawah dan mengeklik berita terkait ketika ganti judul. Haha

Dari fantasi saya ini, saya jadi menemukan sebuah kesimpulan bahwa ‘Curriculum Vitae’ secara tidak langsung ingin memberikan rasa yang sama kepada pembaca ketika membaca novel ini, seperti mereka sedang membaca berita online. Atau alasan idealisnya menurut saya, melalui gaya seperti ini, Benny Arnas ingin memberi gebrakan dalam dunia penulisan novel sekaligus mengatakan bahwa novel ini lahir pada era dimana masyarakat lebih nyaman dengan tulisan yang pendek-pendek ketimbang yang panjang. Lebih gampangnya, itu seperti oplah koran yang menurun lantaran pembaca mulai beralih ke berita daring.

Nah, ini saja review saya. Maaf kalau membingungkan. Saya sedang mengantuk ketika menuliskannya. Ternyata melelahkan juga marathon membaca itu. Haha

Terima kasih sudah mampir.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s