Lungkrah

Maraton tidak rampung. Menyisa tiga novel DKJ. Saya disibukan perkara skripsi. Mencari judul, mengira-ngira kasarannya: latar belakang, kajian teori, metodologi, referensi, dan rumusan masalah (ini inti skripsi) tentunya. Maka dengan ringan saya abaikan maraton. Kau tahu, meninggalkan hal yang sedang kau lakukan untuk melakukan hal lain sama sekali tidak menjamin hal lain itu jauh lebih baik. Saya jadi tidak menulis di sini, juga membaca tak lagi menyenangkan dan tenang. Bayang-bayang skripsi selalu datang. Mengambil ruang tenang saya berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, setelah akhirnya saya dibuatnya merasakan pahitnya.

Perkaranya sederhana, tidak lain dan tidak bukan hanya kecerobohan saya dan obsesi yang mengebu untuk, dengan sombong, membuat skripsi yang bernilai buku.

Saya hendak mengkaji kumpulan cerpen Budi Darma Orang-Orang Bloomington. Saya sudah membeli bukunya–meski ngutang. Juga sudah riset mengenai siapa Budi Darma. Dari masa kecilnya sampai ia jadi Profesor dan bahkan sampai ia purna tugas. Saya membaca wawancaranya di jurnal Prosa yang berhalaman-halaman dengan beberapa kata yang masih asing bagi saya. Saya mencari karya-karya beliau yang lainnya. Bahkan mau mengoleksi semuanya. Di perpustakaan UNS masih menyimpan novelnya yang Olenka dan kumpulan esai sastranya Solilokui. Dan parahnya, itu sudah dianggap sebagai koleksi lama yang tidak boleh dipinjam. Betapa mengerikannya, sebuah novel yang oleh para kritikus dianggap sebagai pembuka era novel modern di Indonesia, cuma ada satu di perpustakaan UNS dan dilindungi tanpa usaha diperdayakan. Hentikan omong kosong perpustakaan tujuh lantai!

Kembali ke skripsi. Sampai akhirnya di suatu sore saya menemukan sebuah buku di academia(dot)edu, berjudul Mencari Jati Diri Dalam Kumpulan Cerpen Orang-Orang Bloomington. Dan ternyata itu adalah sebuah penelitian yang dibukukan. Seperti yang saya harapkan, bahkan lebih bagus. Sementara saya masih mencari bentuk dan kajian apa yang hendak saya garap. Si buku ini seolah datang dan menghantam saya, dia sudah lahir dan ada. “Kau tak perlu menciptanya, anak kecil.” Demikian kata-katanya di sore itu. Sialan! Saya dipanggilnya anak kecil.

Maka seketika itu saya tahu bagian kecil dari pahitnya skripsi. Sore itu juga, semakin saya membaca buku online itu semakin saya seolah kehilangan energi untuk hidup. Sejenak suasana mengabu dan menjemukan, seolah berjalan lambat yang membosankan. Saya terjerumus di dalamnya. Menjadi bagian kejemuan itu. Mata saya sayu dan mengantuk tapi terus terbuka, tangan saya lemas seolah tak bertulang, pundak saya jatuh meleleh, dan tulang punggung saya perlahan mengecil dan hilang; menyisa seonggok daging. Argh!

Meski akhirnya saya menyelesaikannya dan sedikit membebaskan diri dengan makan mie ayam porsi jumbo. Pahit ini masih terasa sampai beberapa hari ke depan.

Saya bercerita ke beberapa teman untuk meredakannya. Juga membuat kopi-yang-pahit, sedikit gula, sangat sedikit bahkan, agar pahitnya mengalahkan pahit ini (saya mulai alay, haha). Saya begitu lelah, letih, lesu, dan lunglai. Ini seperti kau mengiyakan ajakan kawin lari kekasihmu dengan segala risiko yang tidak mudah, namun di jalan kekasihmu lari dengan orang lain. Fuck!

Dan di saat-saat seperti ini lah, saya merasa hanya saya lah orang Jawa yang bisa memaknai kata ‘lungkrah’ dalam kosa kata Jawa dengan sempurna dan utuh, yang beberapa bulan lalu saya ketahui terselip di lirik NDX AKA Banyu Surgo (CIU). Dan saya akan sangat mengutuk akademisi atau tokoh linguistik atau siapa pun yang sok mengerti makna ‘lungkrah’ dan mengucapkannya dengan ringan saja. Sekian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s