Blakanis, Arswendo Atmowiloto

Secara tiba-tiba, mendadak, meski tak tergesa seperti ketika ide untuk menulis muncul; saya kepingin membaca karya penulis yang mengatakan menulis itu gampang–dan membuat buku pedoman penulisan dengan nama serupa. Tak ada judul yang harus ini dan itu, hanya sebatas ingin membaca saja. Maka ketika sedang berada di lantai 6 perpustakaan kita tercinta, kucarilah novel Arswendo Atmowiloto. Ketemu, judulnya Blakanis, dari kata dasar Blaka (terj. Indo: apa adanya). Entah Blakanis itu karya ke berapa Beliau, saya hanya ingin membacanya. Itu saja.

Sudah beberapa bulan saya tidak membaca tanpa kepentingan. Selalu ada yang ingin saya cari, temukan, koreksi bahkan. Tapi orang akan mengatakan bukankah itu memang tujuan membaca, ya menemukan jawaban. Tapi bukankah selalu ada novel yang tidak memberi jawaban. Pada akhirnya tetap pembaca yang menjawab sendiri. Dan sekarang, saya hanya ingin membaca dengan kepentingan membaca. Saya ingin lepas dan membiarkan bacaan mempengaruhi, lagi membawa saya sesukanya. Dan itu tidak terjadi. Hah.

Awalnya memang begitu bebasnya. Tapi lama-lama saya juga terpikir untuk mengetahui orang seperti apa Bapak Arswendo itu. Saya mencoba terus membacanya, mengatakan pada diri sendiri untuk tetap membaca. Juga merapalkan ‘mantra’ penulis mati ketika karyanya dibaca. Sayang, semua itu tak mempan. Kebiasaan untuk mengepoi penulis sudah mengakar. Maka saya ingat-ingat saja sedikit pengetahuan saya tentang Arswendo Atmowiloto. Bisa dibilang saya terlambat membaca Arswendo. Maka gambaran yang saya dapatkan tentang beliau adalah ketika ia tampil di TV sebagai budayawan, bukan penulis. Dan pengetahuan yang cetek ini membuat saya menganggap bahwa Arswendo, setidaknya untuk sekarang, memang lebih pantas menjadi budayawan ketimbang sastrawan. Selesai dengan si penulis, saya melanjutkan membaca.

Secara singkat, novel ini bercerita tentang kejujuran, ke-blaka-an. Selalu pahit memang bicara kejujuran, apalagi keblakaan yang tingkatannya di atas kejujuran, yaitu hidup dengan keterusterangan dan apa adanya. Ki Blaka lah yang memulainya, di sebuah tanah lapang yang ditumbuhi rumput dan rumah liar, ia datang dan membuat sebuah perkumpulan yang pesertanya harus menjawab secara jujur apapun pertanyaan yang diberikan oleh peserta lain. Bila belum berani jujur, peserta dilarang ikut bertanya. Ia hanya boleh mendengarkan saja. Pertanyaan-pertanyaan tabu bermunculan. Lugu, lucu, dan sedikit serampangan memang. Pertanyaan-pertanyaan itu adalah berapa kali kau selingkuh dan sekarang masih selingkuh dengan siapa. Berapa gajimu yang kau berikan pada istrimu dan yang kau habiskan untuk plesiran. Dan peserta itu adalah suami-suami, juga istri-istri. Nah, apa nggak mengerikan sekali kejujuran itu. Di satu sisi ia benar secara moral, di satu sisi ia juga bisa berakibat fatal. Dan sepanjang saya membaca, saya hanya bergumam ‘ah’, ‘hmm’, ‘oohhh’, ‘ya, ya’, juga kadang tertawa sendiri (entah menertawakan ceritanya atau menertawakan diri saya sendiri. kadang cerita hanya cerita dan kenangan kita yang sering kali muncul dan ingin ikut dibaca lagi, untuk ditertawakan). Saya jadi teringat salah satu kalimat di buku pedoman penulisan features milik Tempo. Itu berbunyi, kurang lebih, “wartawan yang hidup dari kebohongan, akan selalu dihantui ketakutan kebohongannya terbongkar.” Ini juga yang ditawarkan Arswendo. Kejujuran di satu sisi memang pahit, tapi ia selalu melegakan setelah diucapkan. Dan apa yang paling menyenangkan dari hidup tanpa kekhawatiran sesuatu yang buruk akan terjadi ketika kebohongan itu terbongkar oleh bukan diri kita sendiri?

Namun ketika mengamati cara Arswendo menuliskan novel ini dengan menggunakan terlalu banyak kutipan. Saya merasa, kutipan itu seolah sia-sia dan jadi sama saja kita membaca tanpa kutipan. Dalam penyampaiannya sering kali tokoh-tokohnya bicara panjang sekali, sehingga kutipan itu tak cukup satu baris, bahkan satu halaman bisa jadi berisi ocehan si tokoh. Ya, walaupun imajinasi pembaca sudah dipantik di awal bahwa itu omongan orang bukan kalimat si pencerita. Tapi bukan kah penggunaanya yang berlebih membuat itu tak berguna. Juga saya rasakan, itu semacam ceramah saja. Saya merasa tidak sedang membaca, tapi mendengarkan. Jika demikian, bukan kah lebih baik saya mendengarkan Beliau bicara di TV atau mengaksesnya di youtube. Kupikir, ini novel muda Arswendo. Saya pernah membaca halaman-halaman awal salah satu novelnya yang pertama-tama: Canting. Tidak seperti ini penyampaiannya. Meski saya lupa mengecek tahun berapa novel ini terbit, juga sejak kapan Beliau mulai aktif menjadi budayawan. Saya kira, novel ini ia tulis di tengah-tengah kesibukannya menjadi budayawan yang harus banyak bicara dan memberikan ceramah kebudayaan. Dan untuk sekarang, seperti yang saya katakan di atas, ia lebih cocok menjadi budayawan ketimbang penulis atau sastrawan. Ini hanya kira-kira saya sih. Sila baca sendiri jika ingin menilainya. Haha.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s