Perkara Keterlambatan

Saya memang sering terlambat. Bahkan sejarah hidup saya hampir diisi oleh keterlambatan. Saya baru bisa naik sepeda kelas 4 SD, ketika teman-teman saya sudah empat tahun bersepeda kemana-mana. Saya baru bisa mengendarai sepeda motor saat jadi mahasiswa, sedangkan teman-teman saya sudah sedari SMP membredeli motornya dan menemukan sensasi adu cepat di jalan raya. Saya baru membaca novel ketika SMP, itu pun hanya dua judul teenlit, sedangkan beberapa siswa di belahan Indonesia sana mungkin sudah muak dengan novel teenlit. Dan saya baru menyelesaikan Tetralogi Buru, benar-benar menyelesaikannya setelah tiga tahun kuliah. Ketika selesai, saya sangat menyesal, mengapa saya begitu terlambat membacanya. Coba saja kalau saya sudah membacanya ketika SMP, kupikir perkenalanku dengan Pram bisa lebih cepat, pun dengan penulis-penulis tulen Indonesia yang lain. Sehingga sekarang saya tinggal mengikuti perkembangan penulis-penulis yang lebih muda, juga membacai karya-karya kesusastraan dari negara lain. Tak apa saya terlambat naik sepada dan motor, tapi terlambat membaca adalah kesialan jika kau ingin menjadi penulis. Perkara keterlambatan ini, saya sering menyalahkan guru bahasa Indonesia. Dari SD sampai SMK, gila, penulis sekelas Pramoedya Ananta Toer tidak disinggungnya sama sekali. Okelah jika beliau punya hubungan dengan Lekra dan dituduh komunis, tapi sayangnya saya juga tidak menemukan guru bahasa Indonesia saya menyebutkan Iwan Simatupang ketika bicara cerpen, atau Danarto, Budi Darma, Hamsad Rangkuti, atau setidaknya mengenalkan novel Ahmad Tohari sebagai referensi bacaan. Maksud saya siapa lagi yang harus bertanggungjawab mengenalkan buku, khususnya sastra kita, ke siswa kalau bukan guru bahasa Indonesia?

Sebegitu terlambatnya saya membaca, sebegitu juga saya sadar bahwa karya sastra begitu banyaknya. Bahkan lebih banyak lagi jika kau sudah mencoba membaca kesusastraan negara lain. Betapa saya merasa begitu sedih baru mengenal Danarto, Budi Darma, Iwan Simatupang, dan Montinggo Busye baru-baru ini. Mereka adalah bapak-bapak yang bisa dibilang pelopor pembaharuan penulisan prosa di Indonesia. Hahh, kemana saja saya selama ini? Sudah baca apa saja saya mau jadi penulis? Why I’m so late? Hal semacam ini yang kadang membuat saya ingin membuka kafe saja. Saya tinggal belajar manajemen kafe, branding dan pemasaran, juga tidak dipusingkan dengan perkara keterlambatan. Sebab dalam bisnis, tidak ada kata terlambat. Tapi lalu kupikir dalam membaca seharusnya demikian, toh saya juga belum apa-apa dan belum siapa-siapa. Saya belum menceburkan diri secara total, juga belum berusaha sampai penghabisan. Dan tak apa terlambat, setidaknya saya telah tahu sekarang, jika kelak saya ditanya seorang wartawan ketika saya telah jadi penulis beneran, “Pak Lutfi, apa yang menyebabkan karya Anda terlambat?”, dengan enteng saya akan menjawab, “Ah, itu, mungkin gara-gara waktu saya, sebagian besar saya gunakan untuk membaca.” Lalu sebelum si wartawan berlanjut ke pertanyaan berikutnya, saya akan menyela, “bentar-bentar,” dan berlagak seolah sedang mengingat-ingat, “atau mungkin gara-gara guru bahasa Indonesia.”

Haha.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s