Apa Yang Dilakukan Calon Penulis Ketika Puasa

Pada sholat tarawih yang pertama, seorang ustaz berceramah mengenai keutamaan bulan puasa. Ia mengajak jamaah untuk mengatur waktu puasa agar ibadah-ibadah sunnah bisa dikerjakan tanpa harus mengganggu kerja atau apapun itu. Ia menjelma seorang pemimpin yang sedang memberikan pandangan umum untuk kerja ibadah sebulan ke depan kepada para hadirin. “Silakan atur, rencanakan, buatlah program-program yang semakin mendekatkan diri pada Allah.” Demikian ia berkata berapi-api.

Mendengar ini saya justru berpikiran lain. Saya membayangkan ustaz itu adalah penulis terkenal macam Hemingway dan berkata, kalian umat muslim silakan saja berpuasa, tapi jika kalian calon penulis, kalian punya urusan lain. Ini bukan semacam tulisan sesat yang membuat lupa jika sedang bulan puasa. Kita tetap bisa menjalankan ibadah puasa, bahkan dengan tantangan seperti yang dikatakan Hemingway mengenai urusan lain itu.

Sebelumnya, saya memang punyai banyak tumpukan buku yang harus dibaca. Tapi berhubung ceramah si ustaz yang berapi-api itu menjelma sosok Hemingway, saya jadi tertarik untuk merencanakan beberapa kegiatan yang perlu saya lakukan di bulan puasa.

Pertama, saya mulai membiasakan diri membaca satu esai atau memoar seorang penulis menjelang adzan magrib. Awalnya tidak ada niat menjadikannya kebiasaan. Saya mendapat pinjaman bukunya Haruki Murakami yang bejudul What I Talk About When I Talk About Running, sebuah memoar yang bercerita tentang obsesinya sebagai pelari, sambil sedikit-sedikit menyinggung proses menulisnya. Ini pengalaman pertama saya membaca sebuah memoar. Dan saya merasa, ternyata menarik membaca penulis menulis tentang dirinya. Membaca memoar, kupikir membuat saya mengerti bagaimana kehidupan seorang penulis itu. Karena pengalaman ini juga, saya jadi ingin membaca banyak memoar penulis yang lain. Saya menemukan sebuah memoar penulis Israel, Etgar Keret – The Seven Gold Years, sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Saya baru saja membelinya. Begitu saya selesai dengan Murakami, saya masih bisa melanjutkan kebiasaan ini dengan membaca memoarnya Etgar Keret. Saya juga sudah memfotokopi kumpulan esainya Budi Darma yang berjudul Solilokui. Jadi sampai ramadhan selesai, saya tidak akan kehabisan stok memoar atau esai. Dan kalaupun tiba-tiba saya mengila, tidak sabar, lalu menyelesaikan buku-buku di atas hanya dalam waktu satu minggu. Saya masih bisa membuka ekakurniawan(dot)com atau ekakurniawan(dot)net. Saya belum menghabiskan semua tulisannya.

Selain membaca esai dan memoar, saya juga sedang membiasakan diri membaca novel selepas sholat tarawih. Dan melakukan maraton lagi. Sebab di meja, setumpuk novel diam tak terusik. Meski begitu, kebiasaan ini belum begitu berjalan. Entah kenapa saya sering menundanya. Mungkin karena waktunya. Saya dibuat bingung kapan waktu yang tepat untuk maraton di bulan puasa–waktu yang mana yang nyaman digunakan untuk berlama-lama membaca. Saya masih mencarinya.

Dan kegiatan selanjutnya adalah menulis. Kau hanya akan menjadi pembaca, bahkan kritikus, jika kau tidak menulis karyamu sendiri. Saya masih membiasakan diri menulis tiga jam di pagi hari. Tapi sungguh berat melakukannya di bulan puasa. Menulis, kupikir, kadang mengambil terlalu banyak energi ketimbang aktivitas fisik yang lain. Dan itu membuat saya merasa lapar lebih cepat.

Dan yang terakhir, seminggu sekali saya berkumpul, ngrumpi, ikut persekutuan, atau apalah namanya, yang bicara mengenai sastra dan penulisannya. Perkumpulan ini tercipta gara-gara beberapa teman demisioner secara tidak sengaja ingin ikut sayembara novel DKJ tahun 2018 mendatang. Dan begitu mereka tahu mereka tidak sendiri, dibuatlah perkumpulan ini walaupun cuma tiga orang. Sedihnya, kami masih mencari konsep ngrumpi yang baik dan benar. Dan hendak mengajak seseorang yang lebih ‘berpengalaman’ dari kami. Haha.

Itu beberapa kegiatan yang saya lakukan ketika puasa. Saya masih bisa menambahkan beberapa lagi. Mungkin ngabuburit ke toko buku atau menulis di blog sehabis sahur. Dan membaca cerpen, lalu mengkliping beberapa cerpen yang bagus. Namun kemudian, tiba-tiba ustaz Hemingway menyela, ia belum mengakhiri ceramahnya. “Silakan. Silakan atur, rencanakan, dan buatlah program-program yang semakin mendekatkan dirimu untuk menjadi penulis.”

Haha.

Sekian, boi!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s