Mahasiswa Baru dan Tas-tas yang Bermerek

Beberapa waktu yang lalu, aku sedang berada di kampus, kuperhatikan sepanjang jalan sepertinya sedang ada pesta penerimaan mahasiswa baru di fakultas-fakultas. Banyak mahasiswa berwajah ceria dengan almamater yang masih kinclong bertebaran dimana-mana. Kebetulan aku sedang beranjak pulang naik motor. Sepertinya itu jam empatan. Sebab para mahasiswa baru itu layaknya mahasiswa-mahasiswa lama sepulang dari berdemo. Mereka berserakan dimana-mana, menyesaki jalan dan tikungan, dan gak peduli menjurus bodo amat dengan penguna jalan lainnya. Aku terpaksa memelankan motorku dan menunggu mereka beranjak.

Ah, sialan, batinku. Rasanya aku ingin marah dan mengklakson mereka keras-keras sambil berteriak woe ini jalan bukan warung kopi, kampret! Tapi sebagai mahasiswa lama, aku memilih tidak melakukannya. Mereka masih baru. Mungkin juga kebahagiaan mereka menjadi mahasiswa membuat mereka lupa caranya hidup dan mengunakan jalan dengan benar. Dan pasti para panitia peduli setan dengan hal ini. Mereka pasti sibuk mikirin acara besok agar sesuai dengan permintaan pak dekan tercinta, lagi terhormat. Jadi aku pun memaklumi panitia juga.

Sembari melatih kesabaran dengan menunggu mahasiswa baru yang entah berjalan atau mengobrol itu, mataku melihat tas-tas yang mereka gendong. Mungkin gara-gara itu satu-satunya barang berbeda yang paling mencolok dari mereka. Dan wow, aku berdecak kagum. Hampir semua tas mereka adalah tas yang bermerek. Maksudku, tas mereka bukan tas-tas merek recehan yang dikerjakan di rumah jahit. Melainkan tas-tas yang telah memiliki toko distributor khusus. Dari tas sejuta umat, eksport, sampai merek tas gunung macam arei mereka gendong sore itu.

Sebagai mahasiswa yang suka menghubung-hubungkan, lalu aku mengeluarkan beberapa rumusan masalah. Apakah merek tas yang mereka gunakan sekarang mempengaruhi pemikiran mereka mengenai makna mahasiswa dan kampus? Apakah merek tas yang mereka gunakan sekarang mempengaruhi jumlah mahasiswa yang berdemo tahun depan? Atau apakah merek tas yang mereka gunakan sekarang mempengaruhi kualitas mereka sebagai mahasiswa, pemikir, dan agen perubahan?

Pikiran-pikiran ini berkecamuk dalam perjalananku menuju asrama. Begitu rebahan, aku sudah lupa. Kasur membawaku ke khayalan-khayalan gila yang jauh sekali dari realita. Namun kemudian selepas mandi aku kepikiran lagi pertanyaan itu. Kucari-cari hubungannya dengan sok serius. Aku juga berpikir, apakah hal ini perlu dibuatkan riset, atau kuajukan saja sebagai judul skripsi. Aku merasa ingin sekali menemukannya. Dan beranggapan bahwa hal ini akan menjadi penemuan yang hebat. Lalu tiba-tiba seperti tersambar petir, aku menemukan bahwa hal ini terlalu kuada-ada. Mana mungkin ada hubungannya merek tas yang mereka gunakan sekarang dengan pemikiran mereka. Mau mereka memakai tas bermerek atau karung goni sekalipun, jika mereka tidak peduli dengan kebijakan kampus, ya memang mereka tidak peduli. Dan kalau mereka peduli, ya memang karena mereka peduli. Ah, terjawab sudah pertanyaan ini. Begitu sederhana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s