Apa Yang Dilakukan Calon Penulis Ketika Puasa

Pada sholat tarawih yang pertama, seorang ustaz berceramah mengenai keutamaan bulan puasa. Ia mengajak jamaah untuk mengatur waktu puasa agar ibadah-ibadah sunnah bisa dikerjakan tanpa harus mengganggu kerja atau apapun itu. Ia menjelma seorang pemimpin yang sedang memberikan pandangan umum untuk kerja ibadah sebulan ke depan kepada para hadirin. “Silakan atur, rencanakan, buatlah program-program yang semakin mendekatkan diri pada Allah.” Demikian ia berkata berapi-api.

Mendengar ini saya justru berpikiran lain. Saya membayangkan ustaz itu adalah penulis terkenal macam Hemingway dan berkata, kalian umat muslim silakan saja berpuasa, tapi jika kalian calon penulis, kalian punya urusan lain. Ini bukan semacam tulisan sesat yang membuat lupa jika sedang bulan puasa. Kita tetap bisa menjalankan ibadah puasa, bahkan dengan tantangan seperti yang dikatakan Hemingway mengenai urusan lain itu.

Sebelumnya, saya memang punyai banyak tumpukan buku yang harus dibaca. Tapi berhubung ceramah si ustaz yang berapi-api itu menjelma sosok Hemingway, saya jadi tertarik untuk merencanakan beberapa kegiatan yang perlu saya lakukan di bulan puasa.

Pertama, saya mulai membiasakan diri membaca satu esai atau memoar seorang penulis menjelang adzan magrib. Awalnya tidak ada niat menjadikannya kebiasaan. Saya mendapat pinjaman bukunya Haruki Murakami yang bejudul What I Talk About When I Talk About Running, sebuah memoar yang bercerita tentang obsesinya sebagai pelari, sambil sedikit-sedikit menyinggung proses menulisnya. Ini pengalaman pertama saya membaca sebuah memoar. Dan saya merasa, ternyata menarik membaca penulis menulis tentang dirinya. Membaca memoar, kupikir membuat saya mengerti bagaimana kehidupan seorang penulis itu. Karena pengalaman ini juga, saya jadi ingin membaca banyak memoar penulis yang lain. Saya menemukan sebuah memoar penulis Israel, Etgar Keret – The Seven Gold Years, sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Saya baru saja membelinya. Begitu saya selesai dengan Murakami, saya masih bisa melanjutkan kebiasaan ini dengan membaca memoarnya Etgar Keret. Saya juga sudah memfotokopi kumpulan esainya Budi Darma yang berjudul Solilokui. Jadi sampai ramadhan selesai, saya tidak akan kehabisan stok memoar atau esai. Dan kalaupun tiba-tiba saya mengila, tidak sabar, lalu menyelesaikan buku-buku di atas hanya dalam waktu satu minggu. Saya masih bisa membuka ekakurniawan(dot)com atau ekakurniawan(dot)net. Saya belum menghabiskan semua tulisannya.

Selain membaca esai dan memoar, saya juga sedang membiasakan diri membaca novel selepas sholat tarawih. Dan melakukan maraton lagi. Sebab di meja, setumpuk novel diam tak terusik. Meski begitu, kebiasaan ini belum begitu berjalan. Entah kenapa saya sering menundanya. Mungkin karena waktunya. Saya dibuat bingung kapan waktu yang tepat untuk maraton di bulan puasa–waktu yang mana yang nyaman digunakan untuk berlama-lama membaca. Saya masih mencarinya.

Dan kegiatan selanjutnya adalah menulis. Kau hanya akan menjadi pembaca, bahkan kritikus, jika kau tidak menulis karyamu sendiri. Saya masih membiasakan diri menulis tiga jam di pagi hari. Tapi sungguh berat melakukannya di bulan puasa. Menulis, kupikir, kadang mengambil terlalu banyak energi ketimbang aktivitas fisik yang lain. Dan itu membuat saya merasa lapar lebih cepat.

Dan yang terakhir, seminggu sekali saya berkumpul, ngrumpi, ikut persekutuan, atau apalah namanya, yang bicara mengenai sastra dan penulisannya. Perkumpulan ini tercipta gara-gara beberapa teman demisioner secara tidak sengaja ingin ikut sayembara novel DKJ tahun 2018 mendatang. Dan begitu mereka tahu mereka tidak sendiri, dibuatlah perkumpulan ini walaupun cuma tiga orang. Sedihnya, kami masih mencari konsep ngrumpi yang baik dan benar. Dan hendak mengajak seseorang yang lebih ‘berpengalaman’ dari kami. Haha.

Itu beberapa kegiatan yang saya lakukan ketika puasa. Saya masih bisa menambahkan beberapa lagi. Mungkin ngabuburit ke toko buku atau menulis di blog sehabis sahur. Dan membaca cerpen, lalu mengkliping beberapa cerpen yang bagus. Namun kemudian, tiba-tiba ustaz Hemingway menyela, ia belum mengakhiri ceramahnya. “Silakan. Silakan atur, rencanakan, dan buatlah program-program yang semakin mendekatkan dirimu untuk menjadi penulis.”

Haha.

Sekian, boi!

 

Perkara Keterlambatan

Saya memang sering terlambat. Bahkan sejarah hidup saya hampir diisi oleh keterlambatan. Saya baru bisa naik sepeda kelas 4 SD, ketika teman-teman saya sudah empat tahun bersepeda kemana-mana. Saya baru bisa mengendarai sepeda motor saat jadi mahasiswa, sedangkan teman-teman saya sudah sedari SMP membredeli motornya dan menemukan sensasi adu cepat di jalan raya. Saya baru membaca novel ketika SMP, itu pun hanya dua judul teenlit, sedangkan beberapa siswa di belahan Indonesia sana mungkin sudah muak dengan novel teenlit. Dan saya baru menyelesaikan Tetralogi Buru, benar-benar menyelesaikannya setelah tiga tahun kuliah. Ketika selesai, saya sangat menyesal, mengapa saya begitu terlambat membacanya. Coba saja kalau saya sudah membacanya ketika SMP, kupikir perkenalanku dengan Pram bisa lebih cepat, pun dengan penulis-penulis tulen Indonesia yang lain. Sehingga sekarang saya tinggal mengikuti perkembangan penulis-penulis yang lebih muda, juga membacai karya-karya kesusastraan dari negara lain. Tak apa saya terlambat naik sepada dan motor, tapi terlambat membaca adalah kesialan jika kau ingin menjadi penulis. Perkara keterlambatan ini, saya sering menyalahkan guru bahasa Indonesia. Dari SD sampai SMK, gila, penulis sekelas Pramoedya Ananta Toer tidak disinggungnya sama sekali. Okelah jika beliau punya hubungan dengan Lekra dan dituduh komunis, tapi sayangnya saya juga tidak menemukan guru bahasa Indonesia saya menyebutkan Iwan Simatupang ketika bicara cerpen, atau Danarto, Budi Darma, Hamsad Rangkuti, atau setidaknya mengenalkan novel Ahmad Tohari sebagai referensi bacaan. Maksud saya siapa lagi yang harus bertanggungjawab mengenalkan buku, khususnya sastra kita, ke siswa kalau bukan guru bahasa Indonesia?

Sebegitu terlambatnya saya membaca, sebegitu juga saya sadar bahwa karya sastra begitu banyaknya. Bahkan lebih banyak lagi jika kau sudah mencoba membaca kesusastraan negara lain. Betapa saya merasa begitu sedih baru mengenal Danarto, Budi Darma, Iwan Simatupang, dan Montinggo Busye baru-baru ini. Mereka adalah bapak-bapak yang bisa dibilang pelopor pembaharuan penulisan prosa di Indonesia. Hahh, kemana saja saya selama ini? Sudah baca apa saja saya mau jadi penulis? Why I’m so late? Hal semacam ini yang kadang membuat saya ingin membuka kafe saja. Saya tinggal belajar manajemen kafe, branding dan pemasaran, juga tidak dipusingkan dengan perkara keterlambatan. Sebab dalam bisnis, tidak ada kata terlambat. Tapi lalu kupikir dalam membaca seharusnya demikian, toh saya juga belum apa-apa dan belum siapa-siapa. Saya belum menceburkan diri secara total, juga belum berusaha sampai penghabisan. Dan tak apa terlambat, setidaknya saya telah tahu sekarang, jika kelak saya ditanya seorang wartawan ketika saya telah jadi penulis beneran, “Pak Lutfi, apa yang menyebabkan karya Anda terlambat?”, dengan enteng saya akan menjawab, “Ah, itu, mungkin gara-gara waktu saya, sebagian besar saya gunakan untuk membaca.” Lalu sebelum si wartawan berlanjut ke pertanyaan berikutnya, saya akan menyela, “bentar-bentar,” dan berlagak seolah sedang mengingat-ingat, “atau mungkin gara-gara guru bahasa Indonesia.”

Haha.

Blakanis, Arswendo Atmowiloto

Secara tiba-tiba, mendadak, meski tak tergesa seperti ketika ide untuk menulis muncul; saya kepingin membaca karya penulis yang mengatakan menulis itu gampang–dan membuat buku pedoman penulisan dengan nama serupa. Tak ada judul yang harus ini dan itu, hanya sebatas ingin membaca saja. Maka ketika sedang berada di lantai 6 perpustakaan kita tercinta, kucarilah novel Arswendo Atmowiloto. Ketemu, judulnya Blakanis, dari kata dasar Blaka (terj. Indo: apa adanya). Entah Blakanis itu karya ke berapa Beliau, saya hanya ingin membacanya. Itu saja.

Sudah beberapa bulan saya tidak membaca tanpa kepentingan. Selalu ada yang ingin saya cari, temukan, koreksi bahkan. Tapi orang akan mengatakan bukankah itu memang tujuan membaca, ya menemukan jawaban. Tapi bukankah selalu ada novel yang tidak memberi jawaban. Pada akhirnya tetap pembaca yang menjawab sendiri. Dan sekarang, saya hanya ingin membaca dengan kepentingan membaca. Saya ingin lepas dan membiarkan bacaan mempengaruhi, lagi membawa saya sesukanya. Dan itu tidak terjadi. Hah.

Awalnya memang begitu bebasnya. Tapi lama-lama saya juga terpikir untuk mengetahui orang seperti apa Bapak Arswendo itu. Saya mencoba terus membacanya, mengatakan pada diri sendiri untuk tetap membaca. Juga merapalkan ‘mantra’ penulis mati ketika karyanya dibaca. Sayang, semua itu tak mempan. Kebiasaan untuk mengepoi penulis sudah mengakar. Maka saya ingat-ingat saja sedikit pengetahuan saya tentang Arswendo Atmowiloto. Bisa dibilang saya terlambat membaca Arswendo. Maka gambaran yang saya dapatkan tentang beliau adalah ketika ia tampil di TV sebagai budayawan, bukan penulis. Dan pengetahuan yang cetek ini membuat saya menganggap bahwa Arswendo, setidaknya untuk sekarang, memang lebih pantas menjadi budayawan ketimbang sastrawan. Selesai dengan si penulis, saya melanjutkan membaca.

Secara singkat, novel ini bercerita tentang kejujuran, ke-blaka-an. Selalu pahit memang bicara kejujuran, apalagi keblakaan yang tingkatannya di atas kejujuran, yaitu hidup dengan keterusterangan dan apa adanya. Ki Blaka lah yang memulainya, di sebuah tanah lapang yang ditumbuhi rumput dan rumah liar, ia datang dan membuat sebuah perkumpulan yang pesertanya harus menjawab secara jujur apapun pertanyaan yang diberikan oleh peserta lain. Bila belum berani jujur, peserta dilarang ikut bertanya. Ia hanya boleh mendengarkan saja. Pertanyaan-pertanyaan tabu bermunculan. Lugu, lucu, dan sedikit serampangan memang. Pertanyaan-pertanyaan itu adalah berapa kali kau selingkuh dan sekarang masih selingkuh dengan siapa. Berapa gajimu yang kau berikan pada istrimu dan yang kau habiskan untuk plesiran. Dan peserta itu adalah suami-suami, juga istri-istri. Nah, apa nggak mengerikan sekali kejujuran itu. Di satu sisi ia benar secara moral, di satu sisi ia juga bisa berakibat fatal. Dan sepanjang saya membaca, saya hanya bergumam ‘ah’, ‘hmm’, ‘oohhh’, ‘ya, ya’, juga kadang tertawa sendiri (entah menertawakan ceritanya atau menertawakan diri saya sendiri. kadang cerita hanya cerita dan kenangan kita yang sering kali muncul dan ingin ikut dibaca lagi, untuk ditertawakan). Saya jadi teringat salah satu kalimat di buku pedoman penulisan features milik Tempo. Itu berbunyi, kurang lebih, “wartawan yang hidup dari kebohongan, akan selalu dihantui ketakutan kebohongannya terbongkar.” Ini juga yang ditawarkan Arswendo. Kejujuran di satu sisi memang pahit, tapi ia selalu melegakan setelah diucapkan. Dan apa yang paling menyenangkan dari hidup tanpa kekhawatiran sesuatu yang buruk akan terjadi ketika kebohongan itu terbongkar oleh bukan diri kita sendiri?

Namun ketika mengamati cara Arswendo menuliskan novel ini dengan menggunakan terlalu banyak kutipan. Saya merasa, kutipan itu seolah sia-sia dan jadi sama saja kita membaca tanpa kutipan. Dalam penyampaiannya sering kali tokoh-tokohnya bicara panjang sekali, sehingga kutipan itu tak cukup satu baris, bahkan satu halaman bisa jadi berisi ocehan si tokoh. Ya, walaupun imajinasi pembaca sudah dipantik di awal bahwa itu omongan orang bukan kalimat si pencerita. Tapi bukan kah penggunaanya yang berlebih membuat itu tak berguna. Juga saya rasakan, itu semacam ceramah saja. Saya merasa tidak sedang membaca, tapi mendengarkan. Jika demikian, bukan kah lebih baik saya mendengarkan Beliau bicara di TV atau mengaksesnya di youtube. Kupikir, ini novel muda Arswendo. Saya pernah membaca halaman-halaman awal salah satu novelnya yang pertama-tama: Canting. Tidak seperti ini penyampaiannya. Meski saya lupa mengecek tahun berapa novel ini terbit, juga sejak kapan Beliau mulai aktif menjadi budayawan. Saya kira, novel ini ia tulis di tengah-tengah kesibukannya menjadi budayawan yang harus banyak bicara dan memberikan ceramah kebudayaan. Dan untuk sekarang, seperti yang saya katakan di atas, ia lebih cocok menjadi budayawan ketimbang penulis atau sastrawan. Ini hanya kira-kira saya sih. Sila baca sendiri jika ingin menilainya. Haha.

 

 

 

Lungkrah

Maraton tidak rampung. Menyisa tiga novel DKJ. Saya disibukan perkara skripsi. Mencari judul, mengira-ngira kasarannya: latar belakang, kajian teori, metodologi, referensi, dan rumusan masalah (ini inti skripsi) tentunya. Maka dengan ringan saya abaikan maraton. Kau tahu, meninggalkan hal yang sedang kau lakukan untuk melakukan hal lain sama sekali tidak menjamin hal lain itu jauh lebih baik. Saya jadi tidak menulis di sini, juga membaca tak lagi menyenangkan dan tenang. Bayang-bayang skripsi selalu datang. Mengambil ruang tenang saya berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, setelah akhirnya saya dibuatnya merasakan pahitnya.

Perkaranya sederhana, tidak lain dan tidak bukan hanya kecerobohan saya dan obsesi yang mengebu untuk, dengan sombong, membuat skripsi yang bernilai buku.

Saya hendak mengkaji kumpulan cerpen Budi Darma Orang-Orang Bloomington. Saya sudah membeli bukunya–meski ngutang. Juga sudah riset mengenai siapa Budi Darma. Dari masa kecilnya sampai ia jadi Profesor dan bahkan sampai ia purna tugas. Saya membaca wawancaranya di jurnal Prosa yang berhalaman-halaman dengan beberapa kata yang masih asing bagi saya. Saya mencari karya-karya beliau yang lainnya. Bahkan mau mengoleksi semuanya. Di perpustakaan UNS masih menyimpan novelnya yang Olenka dan kumpulan esai sastranya Solilokui. Dan parahnya, itu sudah dianggap sebagai koleksi lama yang tidak boleh dipinjam. Betapa mengerikannya, sebuah novel yang oleh para kritikus dianggap sebagai pembuka era novel modern di Indonesia, cuma ada satu di perpustakaan UNS dan dilindungi tanpa usaha diperdayakan. Hentikan omong kosong perpustakaan tujuh lantai!

Kembali ke skripsi. Sampai akhirnya di suatu sore saya menemukan sebuah buku di academia(dot)edu, berjudul Mencari Jati Diri Dalam Kumpulan Cerpen Orang-Orang Bloomington. Dan ternyata itu adalah sebuah penelitian yang dibukukan. Seperti yang saya harapkan, bahkan lebih bagus. Sementara saya masih mencari bentuk dan kajian apa yang hendak saya garap. Si buku ini seolah datang dan menghantam saya, dia sudah lahir dan ada. “Kau tak perlu menciptanya, anak kecil.” Demikian kata-katanya di sore itu. Sialan! Saya dipanggilnya anak kecil.

Maka seketika itu saya tahu bagian kecil dari pahitnya skripsi. Sore itu juga, semakin saya membaca buku online itu semakin saya seolah kehilangan energi untuk hidup. Sejenak suasana mengabu dan menjemukan, seolah berjalan lambat yang membosankan. Saya terjerumus di dalamnya. Menjadi bagian kejemuan itu. Mata saya sayu dan mengantuk tapi terus terbuka, tangan saya lemas seolah tak bertulang, pundak saya jatuh meleleh, dan tulang punggung saya perlahan mengecil dan hilang; menyisa seonggok daging. Argh!

Meski akhirnya saya menyelesaikannya dan sedikit membebaskan diri dengan makan mie ayam porsi jumbo. Pahit ini masih terasa sampai beberapa hari ke depan.

Saya bercerita ke beberapa teman untuk meredakannya. Juga membuat kopi-yang-pahit, sedikit gula, sangat sedikit bahkan, agar pahitnya mengalahkan pahit ini (saya mulai alay, haha). Saya begitu lelah, letih, lesu, dan lunglai. Ini seperti kau mengiyakan ajakan kawin lari kekasihmu dengan segala risiko yang tidak mudah, namun di jalan kekasihmu lari dengan orang lain. Fuck!

Dan di saat-saat seperti ini lah, saya merasa hanya saya lah orang Jawa yang bisa memaknai kata ‘lungkrah’ dalam kosa kata Jawa dengan sempurna dan utuh, yang beberapa bulan lalu saya ketahui terselip di lirik NDX AKA Banyu Surgo (CIU). Dan saya akan sangat mengutuk akademisi atau tokoh linguistik atau siapa pun yang sok mengerti makna ‘lungkrah’ dan mengucapkannya dengan ringan saja. Sekian.

Curriculum Vitae, Marathon Kedua

Marathon saya liburkan sehari karena sedang ada teman dari Jepara yang main ke Solo, hendak mendaftar kuliah. Berikut review ‘Curriculum Vitae’, marathon kedua:

Setelah selesai membacanya beberapa menit yang lalu, saya bertanya-tanya, mengapa pola penyajian dan tema cerita’Curriculum Vitae’ hampir serupa dengan ‘Semua Ikan di Langit’?

Sepengetahuan saya, sayembara novel DKJ tak bertema. Jadi apakah ini sebuah kebetulan?

Seorang teman pernah mengatakan bahwa ide tidak turun untuk satu orang saja. Mungkinkah ini adalah fakta yang membenarkannya? Mungkin saja. Siapa yang tahu. Bukankah kadang ketika kau memakai baju warna biru, tidak sengaja temanmu memakai baju biru juga? Nah.

*

Saya membaca ‘Curriculum Vitae’ sehabis sholat magrib dan menyelesaikannya sekitar pukul dua pagi. Awalnya saya memaki-maki, “jancok! ini novel atau apa?!” Bahasanya seperti prosa liris mendekati puitis, bentuknya aneh seperti kumpulan prosa saja, dan rasanya ketika dibaca seperti bukan novel. Ini seperti saya makan nasi dengan garpu. Tapi orang mengatakan garpu itu adalah sendok.

Saya menyerah untuk memaki dan melanjutkan membaca. Mungkin ada alasan tersendiri Benny Arnas membuat novel seperti ini. Toh, ‘Semua Ikan di Langit’ juga terasa aneh di awal.

Ya, akhirnya saya mendapat jawaban menjelang pengakhiran. Polanya sama dengan ‘Semua Ikan di Langit’ seperti yang saya katakan di atas. Di awal seolah menceritakan hal-hal lain, sehingga kita penasaran dan terus membaca–barulah di akhir menjelang ending dibuka rahasianya.

Dari sini saya merasa dikritik, jangan terlalu cepat menilai sebelum selesai membacanya kau, boi! Dasar pembaca awam! Haha

Ternyata dua unggas, anak ayam dan anak bebek yang membuka cerita adalah si penulis dan seorang perempuan, yang saling mencintai meski si penulis sudah beristri. Namun akhirnya mereka menikah juga. Dan dengan tragis mereka mati di malam pertama. Lalu terlahir kembali sebagai anak ayam dan anak bebek yang dipertemukan Tuhan di surga.

Cukup melelahkan memang membaca novel dengan gaya semacam ‘Curriculum Vitae’ ini. Sehingga saya perlu menyesuaikan dan mencari cara agar nyaman membacanya. Akhirnya setelah terus mencoba menikmati. Saya tiba-tiba merasa seperti sedang membaca sebuah tulisan berita online, lantaran tulisannya yang pendek-pendek, yang tiap judul hanya berkisar satu sampai tiga halaman saja. Saya membayangkan ketika saya membalik halaman demi halaman, saya sedang menyecroll dari atas ke bawah dan mengeklik berita terkait ketika ganti judul. Haha

Dari fantasi saya ini, saya jadi menemukan sebuah kesimpulan bahwa ‘Curriculum Vitae’ secara tidak langsung ingin memberikan rasa yang sama kepada pembaca ketika membaca novel ini, seperti mereka sedang membaca berita online. Atau alasan idealisnya menurut saya, melalui gaya seperti ini, Benny Arnas ingin memberi gebrakan dalam dunia penulisan novel sekaligus mengatakan bahwa novel ini lahir pada era dimana masyarakat lebih nyaman dengan tulisan yang pendek-pendek ketimbang yang panjang. Lebih gampangnya, itu seperti oplah koran yang menurun lantaran pembaca mulai beralih ke berita daring.

Nah, ini saja review saya. Maaf kalau membingungkan. Saya sedang mengantuk ketika menuliskannya. Ternyata melelahkan juga marathon membaca itu. Haha

Terima kasih sudah mampir.

Semua Ikan di Langit, Marathon Pertama

Ini hanya semacam review. Tidak lebih. Seperti kau bercerita setelah kau pergi berkemah.

Membaca ‘Semua Ikan di Langit’ membuat saya terkantuk-kantuk di perpustakaan UNS. Entah karena suasananya yang mempengaruhi, atau ceritanya yang seperti dongeng sehingga membuat saya ngantuk. Namun yang pasti di tengah-tengah saya membaca, banyak sekali prasangka yang bertebaran di kepala saya.

Prasangka yang pertama adalah bahwa Ziggy sangat terasa berhati-hati menuliskan setiap kalimatnya. Saya tidak mendapatkan tulisan yang mengalir, setidaknya di bagian-bagian awal.

Yang kedua, saya merasa di bagian awal terlalu banyak penjelasan tentang tokoh dan latar cerita. Ini gaya-gaya konservatif, seperti novel-novel pujangga baru. Saya tidak melihat sebuah konflik yang berarti.

Yang ketiga, Ziggy hanya sedang menulis sebuah kumpulan cerita saja. Pasalnya sampai setengah novelnya saya baca, hanya berisi kumpulan cerita yang menceritakan seorang tokoh bernama Beliau. Saya sangat berharap ada masalah. Saya merasa tidak dihargai sebagai pembaca tanpa ada konflik yang ikut menjadi pikiran saya, hehe.

Yang keempat, sungguh saya tidak diberi keterkejutan. Seolah flat saja.

Setidaknya itu prasangka saya yang terus saya kepikiran sembari saya terus melanjutkan membaca dengan mata yang mulai menyipit.

Namun ketika sampai pada bagian Beliau dan si Bus kota berkunjung ke pohon besar, yang besarnya melebihi bumi dan memiliki batang dan daun yang bercahaya seperti emas bernama Chinar. Akhirnya saya terkejut.

Melalui Chinar saya tahu, bahwa Beliau adalah metafora Tuhan. Ah, akhirnya. Dari sini saya langsung menghapus semua prasangka saya. Bukan karena saya takut telah berprasangka buruk kepada sebuah tulisan yang bercerita tentang Tuhan, bukan. Pada akhirnya saya menangkap maksud Ziggy mengunakan gaya kepenulisan seperti itu, walaupun ini termasuk prasangka saya juga.

Review saya setelah membaca ‘Semua Ikan di Langit’, novel ini adalah bacaan untuk mengenal Tuhan dengan cara yang beda sama sekali. Saya mengarisibawahi kata ‘mengenal’. Ini nyambung dengan pembukaan di awal yang memberikan porsi yang banyak untuk sekadar mengenal sosok Beliau. Bahkan kenapa novel ini tidak memiliki konflik yang berarti, mungkin itu seperti Ziggy ingin menyampaikan bahwa Beliau (baca: Tuhan) adalah sosok yang tidak senang dengan masalah–manusialah yang bermasalah. Dan apakah ini juga ada hubungannya dengan prasangka saya, bahwa novel ini hanya kumpulan cerita-cerita. Pasalnya konflik-konflik kecil ada di tiap cerita-cerita itu. Dan Beliau selalu ada di tiap cerita itu. Wow, apakah ini pesan bahwa Tuhan selalu ada dimana-mana.

Pokoknya menurutnya saya, Chinar yang suka mengosip lah yang membuat cerita ini menjadi jelas dan menarik. Juga anak-anak Chinar di bumi, yang pandai bercerita.

*

Dan yang menariknya dari ‘Semua Ikan di Langit’ adalah kelihaiannya memainkan bahasa, sampai ke babagan sintaksis dan penguasaan penuh akan tata bahasa. Lagipula ini juga salah satu alasan mengapa novel ini menjadi pemenang satu-satunya sayembara novel DKJ 2016.

Selain itu, kupikir Ziggy sangat berjuang keras untuk metaforakan Tuhan. Atau setidaknya ia akan direpot-repotkan dengan perkara memindahkan fakta dan realita menjadi sebuah cerita fantasi. Dan mungkin keasyikannya, jika saya yang menulis, adalah memilih tokoh-tokohnya. Sampai sekarang, saya masih bertanya-tanya, mengapa ia memilih Bus kota uzur sebagai si pencerita. Apakah ini ada hubungannya tentang fenomena Om Telolet Om? haha

Dan berbahagialah Indonesia mendapat satu novel fantasi dari penulis yang masih muda. Yang menurut saya, ketika membaca, membuat imajinasi saya berimajinasi bebas.

Akhir di kata, ‘Semua Ikan di Langit’ adalah novel yang utuh. Secara kebahasaan tidak diragukan, dan secara penyampaian dan bangunan cerita, setidaknya ia punya alasan.

Terima kasih.

 

Marathon Membaca Novel DKJ

Kupikir masih banyak novel yang belum sempat kubaca. Jadi memarathonkan membaca, menurutku, adalah salah satu solusinya.

Ini bermula ketika saya datang ke perpustakaan Ganesha untuk mengembalikan buku. Tentu sia-sia rasanya jika hanya datang jauh-jauh ke kelurahan Panjang, kepanasan, hanya mengembalikan buku tanpa meminjam lagi. Dari awal berangkat, saya tidak punya daftar buku yang harus dipinjam, tidak seperti biasanya. Kupikir datang ke perpustakaan tanpa persiapan juga tidak terlalu buruk. Kau bisa menjadi penjelajah di sana.

Sebenarnya ada satu novel yang saya tunggu-tunggu untuk dikembalikan dan berharap ketika saya datang ke sana, novel itu belum dipinjam lagi. Tiga kali saya datang ke sana, novel itu selalu sudah dipinjam. Itu adalah novel ‘O’ karya Eka Kurniawan. Itu novel terakhir dari Eka yang belum saya baca. Saya sangat tertarik. Pasalnya, di Ganesha ini ada sebuah buku yang pengunjung bisa merekomendasikan buku untuk kemudian dibeli oleh Ganesha sebagai koleksi. Sayalah yang merasa waktu itu menuliskan karya-karya Eka yang belum dimiliki oleh Ganesha. Ganesha hanya punya ‘Cantik Itu Luka’. Tidak tanggung-tanggung, saya menuliskan semua judul novel karya Eka, kecuali ‘Cantik Itu Luka’. Dan ketika akhirnya seluruh novel Eka dibeli, saya dihubungi pihak perpustakaan untuk mengambil novel ‘Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas’. Oh, betapa senangnya. Namun ‘O’ hingga kini masih belum dipertemukan dengan saya. Dan harapan untuk bertemu selalu ada, tiap kali saya datang ke sana.

Dan kemarin, ternyata rekomendasi buku yang saya tulis karena iseng belaka, sudah ada di koleksi. Saya menemukannya di rak buku, baru dipinjam sekali. Itu adalah ‘Kambing dan Hujan’, novel pemenang pertama sayembara menulis novel DKJ 2014, karya Mahfud Ikhwan.

Tidak jauh dari novel itu, ada ‘Saman’ karya Ayu Utami. Pemenang sayembara roman 1998 DKJ. Saya sekalian ambil. Saya pinjam dua novel itu.

Lalu saya meminjam novel dari staf redaksi kepengurusan Motivasi sekarang–farida–dan meminta rekomendasi darinya. Dan ia meminjami saya ‘Semua Ikan Ada di Langit’, novel pemenang pertama sayembara novel DKJ 2016 karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie dan ‘Curriculum Vitae’, novel pemenang unggulan sayembara novel DKJ 2016 karya Benny Arnas.

Kupikir ini semacam takdir. Empat novel berbau DKJ ada di tangan. Dan saya belum membacanya sama sekali, lantaran masih menyelesaikan Haruki Murakami – ‘Dunia Kafka’, yang membacanya butuh mood, niat, dan konsentrasi tinggi. Tapi akhirnya selesai juga tadi sore. Hampir satu bulan saya membacanya, padahal hanya sekitar 590 halaman.

Setelah saya selesai dengan Haruki, saya kepikiran untuk marathon membaca novel DKJ. Mungkin perlu saya tambah satu. Kebetulan di perpustakaan UNS, saya pernah melihat ‘Tabula Rasa’, pemenang ketiga sayembara novel DKJ 2003 karya Ratih Kumala.

Saya tidak ingin marathon 24 jam membaca. Itu hal gila. Saya masih belum segila itu. Jadi target saya adalah satu hari satu novel dengan satu review. Karena sudah jelas bahwa kali ini temanya adalah Marathon Novel DKJ, yang perlu saya pikirkan adalah alur membacanya. Antara dari yang tahun terbawah lalu ke atas, atau dari tahun teratas ke terbawah. Atau justru acak sama sekali.

Tapi setelah saya pikir-pikir jauh lebih baik dari teratas ke terbawah. Tidak ada alasannya. Dibalikpun sepertinya akan sama saja. Hanya ketika kau membaca dari teratas ke terbawah, itu seperti kau sedang menyelam. Dan kupikir kita menyelam memang untuk melihat keindahan dasar laut, namun pada akhirnya, kita kembali juga ke atas; ke permukaan.

Selama lima hari ke depan. Itu dimulai hari selasa, 25 April s/d sabtu, 29 April 2017.  Dan minggunya, saya bisa beristirahat, pergi ke toko buku mungkin, atau ke perpustakaan Ganesha. Dan karena UTS telah selesai pada minggu-minggu kemarin, minggu ini bisa aman membaca sampai puas. Dan kebetulan sekali kemarin tgl. 23 April adalah hari buku sedunia. Membuat marathon ini semakin terlihat filofis, bukan? Haha.

Dan ya, jika kalian punya banyak buku yang belum dibaca. Mungkin memarathonkan membaca bisa menjadi solusi. Silakan dicoba.

Dalam rangka hari buku sedunia, boi. Sedunia!