Hari Lahir

Pada waktunya kau akan menjadi tua, itu mutlak. Tapi menjadi dewasa, belum pasti. Klise, bukan?

Sekarang saya sudah berumur 22 tahun lewat sehari kurang.

Ada orang yang ingat tanggal lahirnya kapan dan merayakannya. Lalu lupa untuk apa tanggal itu. Ada orang yang lupa tanggal lahirnya karena terlalu sibuk dan berpikir sungguh tidak bergunanya memikirkan hari kelahiran dan sia-sia belaka merayakannya.

Kadang saya juga berpikir bahwa tanggal lahir dan ulang tahun hanya kesia-siaan belaka. Tidakkah itu hanya simbol kau bertambah umur, namun belum pasti kau berubah secara kesadaran dan kedewasaan, lagi kepribadian. Jadi kemarin pada tanggal 23 April, saya bertanya-tanya, sebenarnya untuk apa hari lahir. Toh nenek dan ibu saya tidak pernah merayakan itu dan terkesan melupakannya, tapi mereka tetap tumbuh dan kuat.

Ah, itu kan nenek dan ibumu, kata saya yang lain. Kau beda dengan mereka. Kau sudah kenal dunia keilmuan dan tercerdaskan oleh pendidikan tinggi. Orang yang sudah kena zaman modern, tidak bisa hidup dalam bayang-bayang nenek moyangnya, kau tahu itu.

Saya sungguh benci dengan diri saya yang lain. Dia terlalu sok segalanya. Persetan dengan dunia modern. Dia bilang dunia modern, seharusnya kata-katanya praktis dan ekonomis, tidak berbelit-belit. Tapi kenyataannya tidak sama sekali. Dasar menyedihkan!

Meski begitu, kupikirkan juga kata-katanya. Dan sama sekali tak kutemukan jawaban. Apa yang membedakan nenek dan ibu saya dengan saya di kehidupan masing-masing. Kami sama-sama diberikan masalah yang harus diurus. Kami sama-sama diberikan realita yang harus dipikirkan. Saya tidak mungkin bisa mengatasi masalah nenek saya, kalaupun bisa barangkali tidak memuaskan, mungkin kebetulan belaka. Juga nenek saya tidak bisa mengurusi masalah saya. Kami sama, hanya waktu dan umur yang membedakan.

Akhirnya setelah tidak mendapatkan apa-apa, saya jadi berpikir selama 22 tahun ini saya ngapain saja. Tidak mudah mengingat pencapaian-pencapaian. Saya tipe orang yang mudah lupa dengan kebaikan. Atau mungkin memang saya tidak punya pencapaian apa-apa selama 22 tahun.

Dari sini saya mulai sedikit mengetahui untuk apa hari lahir, kalau bukan untuk mengingatkanmu tentang kebodohan-kebodohanmu.

Dan manakah yang lebih dominan dalam diri saya, kebodohan atau kecerdasan. Saya sama sekali tidak memikirkannya. Untuk apa pula.

Lalu seorang teman, entah apa motivasinya, mengatakan kepada saya bahwa saya lelet dan lambat, terlalu menyia-yiakan waktu saya selama 22 tahun. Menyebalkan punya seorang teman seperti ini, tapi juga menguntungkan. Bahkan ketika kita tidak perhatian pada diri sendiri, ia mau memperhatikan kita.

Dan lebih lagi ia menyuruh saya membuat rencana hidup. Fuck! Ini bagian yang menyebalkan ketika seorang mulai menceramahimu.

Dan lebih bodohnya, saya memikirkan perkataan teman saya itu, meskipun menyebalkan. Bodoh sekali kau ini!

Dan ya, mari berdamai dan mulai berbenah dan tidak menjadi egois, bahkan dengan diri sendiri. Bukankah Kartini pernah bilang, dengan menolong diri sendiri dengan baik, kau bisa menolong orang lain jauh lebih baik.

Setidak-tidaknya itu pelajaran yang bisa saya ambil dari seorang teman, di hari kelahiran ini.

Dan terima kasih.

 

Seperti Olahraga

Di suatu malam, saya tiba-tiba ingin berolahraga. Entah kapan terakhir saya olahraga. Mungkin setahun yang lalu, atau malah dua tahun yang lalu. Saya lupa.

Saya melakukan beberapa pemanasan dari kepala, pundak, lutut, kaki, juga tangan. Bersusul satu paket perenggangan otot untuk melenturkan tubuh. Lalu sedikit latihan memukal dan menendang untuk menambah keringat yang masih malu-malu untuk keluar. Tidak lupa push up, sit up, dan back up.

Setelah itu saya tidur dan tidak mandi terlebih dulu, karena sudah terlalu malam. Dan yang terjadi keesokan harinya adalah badan saya pegal-pegal semua. Saya sedikit menyesal menuruti pikiran untuk berolahraga. Sebab sampai dua hari kemudian, pegal-pegal masih terasa. Apalagi setelah dua hari itu, saya juga melakukan olahraga lagi, malam-malam pula. Dan dengan porsi dua kali lipat dari sebelumnya. Ketika bangun yang terjadi sungguh jauh lebih parah. Setiap otot dan sendi, semuanya pegal. Menciptakan rasa sakit ketika tubuh diajak bergerak. Kesalahan yang terulang dua kali.

Untuk olahraga yang kedua, pegal-pegal bahkan belum hilang sampai tiga hari. Akhirnya saya menyerah untuk membuatnya normal secara alami. Saya meminta balsem geliga dari teman sekamar dan mengoleskan ke sendi-sendi. Esoknya sedikit lumayan. Alhamdulillah.

Oh iya, ternyata setelah saya pikir-pikir, ide untuk berolahraga malam-malam itu terinspirasi dari seorang karakter di novel Haruki Murakami yang ‘Dunia Kafka’. Menurutnya untuk menjadi kuat, di sini kuat bisa diartikan secara jasmani dan rohani, kau perlu berolahraga dan membentuk otot-ototmu. Dan saya sebagai orang yang pernah suatu kali menjadi anggota Do-jo Tae Kwon Do, tentu terpancing untuk kembali berolahraga. Apalagi di dalam raga yang kuat terdapat jiwa yang sehat. Haha

Keesokan harinya saya mengeluhkan pegal-pegal sehabis olahraga kepada seorang teman; Sidiq, kawan seprodi–Bastind. Alangkah mencerahkan sekali tanggapannya. Mungkin dulu Sabem (guru Tae Kwon Do) juga pernah mengatakan. Hanya saja pendapat Sidiq ada analoginya. Dan itu sedikit mencerahkan, juga terkait masalah saya dengan tulisan saya.

“Kau perlu melanjutkan olahragamu dan melakukannya secara rutin. Memang melakukan olahraga lagi setelah tidak pernah berolahraga akan membuat tubuhmu pegal-pegal.” ujarnya.

“Pilihannya hanya dua. Kau melanjutkan olahragamu dan konsisten, sampai otot-otot terbiasa. Atau kau tidak berolahraga sama sekali. Tapi kau tahu, berolahraga memiliki banyak manfaat.”

“Seperti tukang bangunan, mereka, ketika sedang mendapat panggilan kerja setelah nganggur beberapa bulan, ketika hari pertama kerja, mereka juga merasakan pegal-pegal. Tentu mereka akan terbiasa setelah beberapa hari ke depan.”

Ah, ternyata itu masalahnya. Kau hanya perlu terus melakukannya. Dan itu akan membuatmu terbiasa. Begitu halnya dengan menulis.

Saya sudah tidak menulis cerpen hampir dua tahun, sekali mencoba untuk menulis lagi. Apa-apanya terasa mandek–macet. Habis bagian ini harus ngapain, dialog ini harus gimana, karakterisasi yang bagus seperti apa, menyambungkan antar scene supaya jadi satu keutuhan gimana. Saya seolah mulai dari awal lagi.

Bila dalam olahraga akan terasa pegal-pegal, dalam menulis itu adalah pusing-pusing. Jadi saya pikir, saya perlu pemanasan untuk mulai menulis cerpen lagi. Dan memiliki waktu yang teratur untuk itu.

Dan mungkin sudah saatnya mulai menghidupkan kembali sastra-lutfi.blogspot.com. Nantikan dan doakan. Sekian.

 

 

 

Baper

“membunuh tidak menghasilkan apa-apa, kecuali dosa. tapi itu membuatmu kuat.”

Sayangnya KBBI belum menganggap bahasa alay atau ragam bahasa milik anak muda ini sebagai bagian dari bahasa Indonesia yang harus diabadikan dalam kosakata kita. Jadi mengenai pengertian ‘baper’, kita sudahi mencari referensi dan sepakat bahwa yang kau maksud, mungkin kurang lebih juga sama seperti yang saya maksud; membawa perasaan jauh lebih banyak ketimbang akal–yang berujung rasionalitas.

Agaknya menjadi sebuah ironi, ketika sesama manusia saling mengutuki bahwa kau baperan, dan itu tidak baik. Namun bukankah manusia memang terlahir dengan satu paket perasaan. Bahkan Ipang dalam lagunya ‘Apatis’ mengatakan ada seribu satu perasaan. Tapi, di sisi lain, seperti kata-kata kyai bahwa apa-apa yang mendapat imbuhan -an; itu tidak baik. Dan ada baiknya untuk dihindari. Pendapat ini benar juga.

Di usia berkepala dua, seharusnya kau sudah bisa memanajemen perasaanmu. Kapan kau harus menggunakan perasaanmu, kapan kau menggunakan akalmu. Kau sudah sewajarnya memilih dan memilah keduanya agar tidak salah tempat. Dan kau juga tau untuk siapa perasaanmu kau gunakan dan untuk siapa akalmu kau gunakan. Jadi pada akhirnya, tulisan ini tidak akan kemana-mana. Menurutku selalu begitu ketika kita mencari sebuah jawaban. Kita sadar, bahwa sebenarnya jawaban itu ada di dekat kita, bahkan bisa jadi jawabannya adalah diri kita sendiri. Tapi kadang untuk mengetahui itu, kita perlu melakukan perjalanan yang panjang dengan ujung di tempat kita mulai melangkah. Ya, setidaknya itu membuatmu bergerak dan tidak diam saja.

Saya punya cerita mengenai seorang tokoh dalam sebuah novel, dimana ia adalah karakter yang perasaannya telah dicabut oleh si pengarang. Ia adalah Nakata, si orang tua yang punya keahlian bicara dengan kucing, juga batu, di novel ‘Dunia Kafka’ milik Haruki Murakami. Ia juga tak bisa membaca, suatu zat kimia ketika Jepang sedang berperang melawan sekutu, saat Nakata masih kecil ia terkena semacam gas beracun dan itu membuatnya tidak bisa membaca. Juga mempengaruhi, bahkan mengubahnya menjadi tak berperasaan dan memiliki kekuatan-kekuatan aneh. Sebagai manusia yang tak berperasaan, ada beberapa keuntungan yang ia dapatkan. Salah satunya adalah sangat mudah tidur. Kupikir orang-orang yang terkena imsonia adalah mereka yang begitu berperasaan, sehingga ia terus-terusan memikirkan perasaan orang lain. Padahal bisa jadi, orang lain itu yang ia pikirkan, tidak masalah dengannya. Dan sebagai orang tak berperasaan, Nakata jadi tidak masalah ketika diolok-olok keluarganya, bahkan ia merasa bersyukur telah memiliki kekurangan itu sehingga ia mendapat subsidi dari Gubernur. Menguntungkan, bukan?

Nakata juga sadar bahwa dirinya aneh, dan karena ia tak berperasaan, ia jadi sedikit tidak menjadikan itu beban. Oleh karenanya, jika ia menginginkan sesuatu, ya sudah, ia akan melakukannya saja. Tanpa pikir panjang dan apalagi memikirkan apa yang akan terjadi jika melakukan hal itu. Ia dengan tidak sadar, tidak peduli pada apa yang orang lain rasakan. Pada intinya ia melakukan sesuatu hal karena ia ingin melakukan saja, tidak lebih.

Saya jadi ingat juga dengan film dokumenter ‘Jagal’ yang bercerita mengenai para algojo. Di sana diceritakan para algojo itu membunuh para simpatisan PKI dengan meminum darahnya terlebih dahulu, agar tetap kuat untuk membunuh. Kupikir di sini, ada pencopotan perasaan yang dilakukan oleh para algojo untuk menjaga kewarasan mereka. Dengan beban perasaan yang masih ada, kau bisa gila jika membunuh beratus-ratus orang. Meskipun ia beda pandangan ideologi denganmu. Tetap saja kau sedang membunuh manusia, bukan hewan.

Antara Nakata dan si Algojo ada kesamaan, keduanya meninggalkan perasaannya untuk melakukan suatu urusan. Dan keduanya berhasil tetap hidup sampai tua, tanpa mengalami gangguan kejiwaan. Kau mengerti, membunuh tidak menghasilkan apa-apa, kecuali dosa. Tapi itu membuatmu kuat.

Dan untuk menghilangkan kebaperan, karena menurut kyai yang berlebihan itu tidak baik, kau bisa mengurangi dosisnya. Karena jangankan baperan, sedikit berperasaan aja itu akan cukup membuatmu menjadi manusia yang susah bergerak, sebab waktumu akan habis untuk mengurusi setiap perasaan yang ada dari berbagai macam manusia. Namun bukan berarti menjadi tidak berperasaan adalah solusi. Sebab perasaan selalu dibutuhkan untuk menjadi manusia. Dan akal menjadi ciri khas manusia karena kerja berpikirnya. Setidak-tidaknya kau paham, kapan menyingkirkan perasaan, kapan menyingkirkan akal. Dan waspadalah, memberikan porsi yang terlalu besar untuk perasaan, baper, banyak membuatmu jatuh dalam kemelut masalah yang tak masuk akal–sampai kau bingung sendiri. Jadi gunakan akalmu untuk menyeimbanginya. Dan baperlah pada waktunya. Terima kasih.

 

Pelajaran Memahami

Seorang kawan saya yang tidak merokok, meski ia pernah sekali waktu ketika SMA merokok barangkali sebatang dua batang, namun ketika tiba-tiba ia meminta rokok saya adalah suatu pertanyaan. Ia sempat jeda untuk tidak merokok dan bahkan pernah mengkritik saya lantaran banyak uang yang saya habiskan untuk merokok. Maka ketika ia meminta rokok di sore itu, saya bertanya-tanya ada apa gerangan. Tapi ia tak mau menjawab. Oke. Beberapa orang sangat mudah menumpahkan segala masalahnya ke orang lain, bahkan jika orang lain baru ia kenal sama sekali. Dan beberapa lagi, orang yang sangat sulit sekali untuk mengatakan atau sekadar menceritakan kepada teman akrabnya apa masalah mereka. Dan beberapa lagi, adalah orang-orang yang perlu diyakinkan bahwa ceritanya tidak akan bocor kemana-mana untuk membuatnya mulai bercerita.

Meski setelah seorang kawan yang satu, kebetulan kita sedang nongkrong bertiga, memaksanya untuk bercerita juga menjamin ceritanya tidak akan kemana-mana, ia tetap tidak ingin menceritakan pada kami. Walaupun ia tahu dan kenal kami, atau katakanlah kami adalah teman sejak awal semester dan saling mengerti satu sama lain. Itu tetap tidak membuatnya bergeming dengan keengganannya untuk bercerita. Ia termasuk orang-orang yang sangat sulit untuk bercerita. Namun ada kecenderungan orang seperti ini akan mudah bercerita dengan orang yang baru ia kenal karena mungkin baginya orang yang baru ia kenal tidak akan memiliki persepsi yang macam-macam dengan ceritanya. Tapi, meski ia tidak bercerita segala gerak-geriknya serta apa yang ia bicarakan, bagaimana status sosmednya, dan lagu yang ia dengar sedikit banyak membuat saya memahami apa sedang terjadi padanya. Setidaknya itu menunjukan di sekitar mana masalahnya berada.

Pertama dari status WAnya, dengan foto sebuah film yang belum selesai ia memberi caption ‘nyesek’. Ah, ini pasti asmara. Kedua, sepanjang kita mengobrol dari satu tempat ke tempat kedua jelas bahwa ia sedang meresahkan suatu hal. Dan ketika ia berkata, “sepertinya cuma kau yang masih tenang-tenang saja (gak ngurusi masa depanmu(calon istri-red)red).” Saya hanya tertawa saja. Jadi ini permasalahannya. Dan apalagi ia sedang tergila-gila dengan buku Kang Abay yang berjudul ‘Cinta Dalam Ikhlas’ dan memberikan promosi yang percuma pada saya, “buku ini cocok bagi kalian yang sedang dilanda permasalahan jodoh.” Sekali lagi saya hanya menahan diri untuk tidak berkata, “hentikan omong kosong ini!” Tapi ya sudahlah, sekali dalam hidup kita juga harus bisa menjadi pendengar dan tidak terus-terusan mengutuki hal-hal di luar pandangan hidup kita.

Agar tidak salah paham dan menjudge kawan saya ini, perlu saya katakan meski ia tidak lahir dari keluarga dengan keislaman yang kuat atau malah berlebih, ia pernah menjadi pengurus unit kegiatan mahasiswa kerohanian di kampus. Jadi sedikit banyak itu mempengaruhi wacana, film dan selera bukunya. Ya, pokoknya yang islami lah. Setelah kami pindah dari angkringan ke loteng asrama, saya mencoba memancing-mancing dengan memutarkan lagu-lagu yang ia suka yang bercerita mengenai, kurang lebih yang ia alami sekarang, yang penting asmara, titik. Maka memintalah ia request lagunya Krisdayanti yang menjadi OST Surga Yang Tak Dirindukan. Juga membahas buku Kang Abay-Cinta Dalam Ikhlas. Tak lupa kusodorkan juga film Tenggelamnya Kapal Van Derwijk karya HAMKA untuk didiskusikan. Akhirnya saya bisa mengambil kesimpulan bahwa ia sedang mengalami kegagalan cinta. Entah itu ditolak atau si perempuan akan menikah karena ia masih sibuk kuliah, atau ia menyukai perempuan itu dan perempuan itu juga menyukainya, tapi sebelum ia berani mengutarakan cintanya, perempuan itu bertemu dengan mantannya dan mereka balikan. Contoh yang terakhir kurasa cukup nyesek–sesuai dengan status WAnya. haha

Kenapa saya bisa mengambil kesimpulan demikian, karena melihat dari cara dia menjelaskan plot film Surga Yang Tak Dirindukan, yang menurutnya simpel. Sebab Mevro yang akan dipinang seorang dokter akhirnya gagal, karena istri Pras sedang sekarat dan meminta Pras untuk berbahagia dengan Mevro. Mevro tidak bisa menolak, karena dulu di film yang pertama, ia telah menjalin ikatan suami-istri dengan Pras. Sedangkan dokter yang hendak melamarnya adalah korban dari kegilaan film ini. Ia, kawan saya, menjelaskan ini dengan berapi-api dan saya mendengarkan dengan bara api di rokok. Saya tidak ingin bertanya apa-apa, tapi film Surga Yang Tak Dirindukan 2 sepertinya belum ada di internet, lalu dimana ia menontonnya? Itu pertanyaan saya setelah ia selesai bercerita. Dan alangkah mengejutkannya, ia menontonnya di bioskop (ini adalah debut pertamanya) dan bersama seseorang yang tidak mau ia sebutkan siapa. Dan yang terakhir diskusi kita mengenai film Tenggelamnya Kapal Van Derwijk, diujung diskusi ia memberikan analisisnya mengenai amanat yang bisa kami ambil yaitu, kurang lebih, mungkin kita tidak bisa mendapatkan apa yang kita inginkan (Zainudin tidak mendapatkan Hayati), tapi setelah itu selalu ada hal yang lebih baik untuk diri kita (Zainudin ke Jawa dan sukses). “Selalu ada hikmah yang bisa kita petik dari sebuah kegagalan,” ujarnya dengan tatapan penuh keyakinan.

“Semoga itu juga berlaku padamu, kawan.” balasku dalam hati.

Ya, terkadang orang membicarakan hal lain. Tapi sebenarnya ia sedang membicarakan dirinya sendiri. Itulah pelajaran memahami, boi. Kau tidak perlu memaksa seseorang untuk bercerita tentang masalahnya. Cukup ajak ia bicara tentang apa saja, maka pelan tapi pasti kau akan tahu masalahnya. Sekarang kau mengerti, boi?

Kalau belum, saya punya cerita yang menyebalkan, betapa manusia penuh dengan prasangka-prasangka, kedatipun itu suami-istri, orang tua-anak, dan sesama kawan. Saya habis membaca sebuah cerita pendek karangan Garcia Gabriel Marquez sebelum mendapatkan pendapat di atas. Judulnya, ‘Saya Hanya Ingin Menelepon’. Ini berkisah tentang seorang perempuan bersuami yang sedang menuju rumah dan mobilnya mogok di tengah jalan. Waktu itu salju sedang badai dan ia mencoba meminta bantuan mobil dan bus yang lewat. Lalu akhirnya sebuah bus berhenti dan si perempuan itu naik. Isinya perempuan semua. Dan ia tertidur setelah dilarang bicara dengan keras karena banyak penumpang sedang tidur. Sesampainya di tujuan bus, ia turun dan mencari telepon, tapi seorang perempuan berbaju tentara memanggilnya dan mengira ia termasuk rombongan bus. Meski ia sudah menjelaskan bahwa ia hanya ke sana untuk mencari telepon, si perempuan dengan baju tentara tidak percaya dan si kondektur serta supir bus sudah pergi. Maka belum sempat ia menelepon suaminya, ia telah terjebak dalam sebuah sanotarium sebuah rumah sakit jiwa. Berhari-hari, bahkan berminggu-minggu ia tidak bisa mengakses telepon sama sekali. Sedangkan di rumah suaminya begitu berprasangka buruk kepadanya. Ia mengira istrinya sedang melarikan diri dengan pacar pertamanya. Karena si suami mendapatkannya juga ketika ia sedang lari dari seorang duda yang dijodohkan orang tuanya. Si suami dibuat stress dengan prasangkanya dan melakukan pencarian tiap hari. Bahkan ia menanyai tiap orang di kompleksnya, juga mantan pacar istrinya, juga seseorang yang pernah berhubungan dengannya, juga persewaan mobil yang mobilnya disewa istrinya. Namun hasilnya nihil. Dan cukup membuatnya menyimpulkan bahwa istrinya seorang pelacur, ketika ia menelepon seorang lelaki yang dekat istrinya ketika mereka berkunjung ke kota dekat pelabuhan, sedang tidak di rumah.

Sampai suatu ketika si istri bisa mendapatkan telepon rumah sakit dan menelepon suaminya, satu kata itu keluar dari mulut sang suami. Maka betapa kasihannya si istri, ketika ia berjuang untuk menelepon si suami, malah mendapat satu kata yang mungkin wanita manapun akan tidak suka dikatakan seperti itu, walaupun ia seorang pelacur sekaligus. Tapi ketika si istri sedih, seorang ibu di rumah sakit itu telah berhasil mengirim sebuah sms yang mengatakan bahwa sang istri sedang dirawat di rumah sakit dan memintanya untuk datang ke rumah sakit jiwa itu. Maka betapa senangnya si istri ketika suaminya datang. Tapi ketika ia meminta untuk dibawa pulang, suaminya menolak karena telah mendapat sedikit pengantar oleh dokter jiwa di sana. Terjadi dialog antara keduanya. Antara si istri yang mengaku tidak gila, sebab ia memang tidak gila, karena tujuan awalnya ia naik bus itu adalah untuk menelepon suaminya. Sedangkan si suami percaya pada dokter jiwa bahwa istrinya gila dan punya obsesi pada telepon. Sampai jam kunjungan habis, pendapat keduanya tetap sama. Akhirnya si istri menyerah dan si suami kembali pulang. Esoknya si suami datang lagi, tapi si istri terlanjur membencinya dan jatuh pada prasangka bahwa suaminya sungguh tidak bisa membedakan istrinya sendiri dengan orang gila. Ia memutuskan untuk tidak menemuinya. Bahkan sampai beberapa kali suaminya berkunjung. Juga mengembalikan lagi suratnya tanpa disentuh sekalipun.

Begitu mengerikan efek dari ketidaktahuan dan kesalahpahaman serta prasangka-prasangka, bahkan itu pasangan suami-istri sekalipun. Kupikir ketika si suami benar-benar mengerti istrinya dan memahami istrinya, ia tidak akan percaya pada omongan si dokter. Juga si istri, jika ia tidak cepat mengambil kesimpulan bahwa suaminya tidak bisa membedakan istrinya sendiri dengan orang gila, tentu ia bisa menikmati setiap kunjungan suaminya sembari mengurangi kebodohan suaminya itu. Tapi itu tidak terjadi karena keduanya seolah begitu mengenal satu sama lain, padahal tidak sama sekali. Menyedihkan bukan?

Dan sekarang kau paham, boi? Kupikir kau akan cepat paham. Jadi aku tidak perlu menuliskan cerita selanjutnya untuk membuatmu paham. Kalaupun kau belum paham, kau bisa membaca cerpen ini sendiri dan cerpen Eka Kurniawan yang berjudul ‘Gincu Ini Merah, Sayang’. Kupikir itu akan cukup membuatmu paham. Dan tidak membuatmu terjebak dalam prasangka-prasangka yang menyesatkan, bahkan kepada kawanmu sendiri, pacarmu, atau istrimu kelak. haha

Kurasa cukup untuk pelajaran memahami hari ini. Jika ada hal-hal tidak kalian pahami, silakan mampir di menu kontak dan komen dibawah ini. Kupikir dengan begitu kita bisa saling memahami, bukan?

asrama gd. c lt. 4 kamar no.2, 24 Maret 2017, 1.31 WIB.

 

Dekontruksi Kamar Asrama Lantai 4 Nomor 2

Kemarin setelah mengikuti sebuah kuliah umum mengenai Entreprenership dan bertemu kawan-kawan seangkatan di auditorium UNS, sedikit banyak mempengaruhi saya dalam beberapa hal. Termasuk merubah tata letak kamar saya, meskipun gak ada nyambungnya dengan isi materi kuliah umum itu. Oh, maaf ralat, bukan kamar saya. Tapi kamar saya dan kawan saya; Rendi, mahasiswa teknik industry asli Purbalingga.

Walaupun tidak ada nyambungnya, bagi saya, yang menemukan gagasan untuk mengubah tata letak kamar setelah mengikuti kuliah umum yang membosankan dengan selipan untuk segera lulus dan hengkang dari kampus (basa kasarnya mengusir), tentu kuliah umum itu turut andil dalam penemuan gagasan itu. Karena ia lah yang mengingatkan saya tentang rasa bosan. Jadi ketika kebosanan saya memuncak di auditorium itu, akhirnya ketika sampai kamar pun kebosanan itu masih ada dan ide untuk mengubah tata letak kamar muncul begitu saja, seolah ia sales tidak memiliki keraguan untuk mengatakan beberapa hal, meski kadang itu hanya gaya bahasa sales untuk membenarkan pembohongan.

Ketika saya sampaikan ide ini kepada Rendi. Ia langsung setuju. Tentu ia juga sudah bosan dengan tata letak kamar sehingga langsung mengiyakan saja dan menyerahkan desainnya pada saya. Maka langsung saya sikat. Karena saya membutuhkan cahaya ketika matahari terbit, sebab sebelumnya kasur saya jauh dari jendela dan ketika pagi sinar yang masuk tidak terlalu kuat untuk membuat saya terbangun (itulah kenapa saya sering bangun siang), maka desain saya adalah bagaimana membuat kasur saya terkena sinar matahari. Selain kebutuhan itu, saya juga butuh tempat menulis yang nyaman. Saya sudah pernah mencoba dua sampai tiga posisi meja di tempat-tempat yang berbeda, namun setiap kali saya menulis masih terasa ada sesuatu yang kurang. Dan baru akhir-akhir ini saya mengerti, bahwa kekurangan itu adalah udara yang masuk. Sebab kadang-kadang, meski malam, kamar terasa panas dan kami tidak punya kipas angin dan tidak punya keinginan untuk membelinya. Jadi saya rasa, saya harus menempatkan meja dekat dengan jendela. Dan pada akhirnya yang terjadi adalah, sebentar, bagaimana saya harus menggambarkannya. Ah, pada intinya saya membuat kasur dan meja saya, juga kasur dan meja kawan saya dekat dengan jendela. Dan jadilah sebuah keseimbangan. Jendela yang horizontal ditarik dua garis kasur secara vertikal dan dua buah meja. Baik milik saya maupun Rendi, memiliki akses yang sama ke jendela. Dan ini membuatnya semangat mengerjakan skripsi. Skripsi juga salah satu alasan ia menyetujui perubahan kamar ini.

Sore esoknya, terjadi kerja sama antara saya dan ia. Kami membereskan beberapa barang-barang yang sudah tidak berguna, juga membuang beberapa plastik yang menumpuk di bawah cermin yang merupakan akumulasi dari plastik-plastik bekas membeli makanan atau apapun yang itu dibungkus oleh plastik sejak kami masih mahasiswa baru sampai sekarang, ketika kami sebentar lagi selesai dengan gelar mahasiswa. Beberapa teman, baik teman saya dan temannya teman sekamar ini, menganggap tumpukan plastik itu sebagai sampah. Bahkan teman saya mengatakan bahwa kami adalah kolektor sampah. Mengerikan memang. Kau bisa membayangkan kamar kami dengan jembatan diksi kolektor sampah. Sebuah ruangan akan langsung muncul di otakmu. Hehe. Tapi, menurut saya, plastik inilah salah satu bukti sejarah bahwa penghuni kamar lantai 4 nomor 2 adalah manusia-manusia dengan rasa cinta yang tinggi pada sampah, sampai-sampai enggan dan tak mau membuangnya.

Setelah semua barang tidak penting kami buang, maka hal yang menyenangkan adalah proses memindahkan kasur dan lemari. Dimana ada barang-barang kami yang masih berguna berhamburan di lantai dan di situ kita harus menggerakan kasur dari sudut ke sudut yang terhalang oleh barang-barang itu. Saya mengunakan teknik buka jalan. Kemana kasur mau diarahkan, kami harus meminggirkan barang supaya pergerakan kasur tidak akan terhalang. Lalu kami mendorong kasur ke sudut sesuai desain yang telah saya buat. Kenapa saya suka bagian ini, ketika memikirkan tentang membuka jalan saya teringat masa-masa di organisasi, ketika rapat redaksi berlangsung ada statmen yang mengatakan bahwa isu ini harus diangkat, karena isu ini akan membuka jalan untuk isu-isu yang lain. Sayangnya, saya lupa siapa yang mengucap statmen itu. Atau malah tidak sama sekali. Hanya saya yang beranggapan itu ada dan terjadi. Hehe

Kami melakukannya dari jam 5 sampai magrib, dan dilanjut lagi sampai isya setelah break sholat. Pada jeda ini saya teringat mengenai hal-hal terkait mengubah tata letak yang lama dengan yang baru, guna menyesuaikan kebutuhan. Dan ingatan ini, mau tidak mau, membawa saya pada beberapa tulisan anak persma mengenai makna mahasiswa dan gerakan mahasiswa sekarang yang pernah saya baca. Juga sebuah rekaman wawancara kawan saya yang saya transkripkan mengenai memaknai mahasiswa secara historis dan pendapat-pendapat, entah itu tokoh maupun kawan sesama persma.

Tulisan pertama mengenai dekontruksi makna mahasiswa di buletin Balkon milik BPPM Balairung UGM lah yang menurut saya tidak klise dengan menjabarkan panjang lebar lantas mengarahkan mahasiswa untuk bergerak dan bertingkah sesuai kodratnya sebagai milisi perubahan. Sayangnya saya lupa nama penulis. Ia mengatakan bahwa makna mahasiswa tidak sepenuhnya seorang manusia terpelajar yang harus peka dan sigap merespon isu-isu dan kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat. Meski ada sedikit bagian yang klise dengan ia mengatakan jangan meniru gaya gerakan dulu yang aksi turun jalan dan lain sebagainya. Bahwa mahasiswa pernah tidak selalu aksi untuk merespon kebijakan. Bahwa mahasiswa mengalami masanya sendiri dan apalagi zaman bergerak. Dan tidak lupa ia mencontohkan untuk ukuran sekarang ketika gerakan tidak melulu tentang pengawalan kebijakan, yang bisa juga gerakan pengabdian masyarakat. Ia juga melihat mahasiswa sekarang yang sibuk dengan PKM dan beberapa kepentingan akademik yang mendongkrak karier sebagai pekerja kelak, serta persaingan yang sangat ketat, sudah seharusnya mahasiswa menentukan maknanya sendiri. Disini saya merasa, meskipun dari awal ia terkesan netral tapi di akhir walaupun ia mengatakan silakan pilih makna kalian sendiri. Jika ingin IPK tinggi, terkenal lantaran PKM lolos PIMNAS, dan menang lomba ini-itu, maka silakan lakukan itu. Tapi di akhir dan pada akhirnya embel-embel sebagai kaum intelektual dan tanggungjawabnya tetap tersisip, meski sedikit dan tipis. Pendapat ini berbeda dengan hasil rekaman kawan saya, bahwa mahasiswa perlu mengetahui makna historisnya agar ia sadar dan tidak apatis alias dikode gak peka. Menurut saya narasumber mengatakan begitu tidak ada salahnya jika melihat kondisi mahasiswa di kampus kami yang memang rata-rata apatis. Namun tuntutan birokrat kampus dengan embel-embel wajib atau kebijakan dan saran yang sarat menakuti-nakuti lebih mendominasi pikiran mahasiswa, sehingga boro-boro cari historis mahasiswa, cari alasan kuliah pun masih seenaknya.

Tulisan yang kedua muncul dari Jogja juga dengan kampus yang berbeda, yakni LPM Arena UIN SUKA mengenai analisisnya tentang arah gerak persma sekarang yang menurutnya perlu diadakan perubahan. Ia berkata bahwa zaman sekarang dengan terbukanya kran informasi pasca orde baru bubar, persma sebagai media alternatif seolah gagal mewujud. Dan permasalahan internal persma yang masih belum mapan, membuatnya semakin tidak sempat mengurusi hal-hal seperti ini. Solusi yang ia tawarkan adalah menjadikan persma sebagai katalisator antara dunia kampus dengan dunia luar. Ya, membangun wacana yang mengintegrasikan dunia kampus dan luar, yang kemudian difollow up dengan gerakan yang riil. Jadi persma lah motor pengeraknya. Kalau menurut beberapa kawan dan senior, ya mahasiswa sekarang dengan kemajuan teknologi yang begitu pesat dan mudahnya akses informasi, sudah seharus ia dalam gerakan lebih baik dan mengerikan ketimbang zaman dulu. Tak jarang juga yang mengatakan bahwa gerakan harus menyesuaikan kebutuhan zaman dan kondisi lingkungan setempat. Ya, semua itulah perihal makna mahasiswa, gerakan mahasiswa, dan persma. Penuh dengan penafsiran, pendapat, dan analisis pengkondisian sekarang. Saya yang sedang melakukan kerja dekontruksi kamar jadi merasa memang cocok sekali segala yang berbau mahasiswa perlu didekontruksi pula. Gak usah muluk-muluk alasan. Harus memahami historis lah, agen of change, atau kenapa gak aksi? Ayo aksi! Dimana mahasiswa sekarang! Menurut saya cukup satu alasan yang ringan, kita bosan dengan keadaan yang ada. Dan solusi untuk mengatasi kebosanan, ya jelas, medekontruksinya. Seperti saya mendekontruksi kamar saya. Hehe

Setengah jam setelah isya berlalu, akhirnya kamar saya selesai didekontruksi dan bersih pula, tiada sampah plastik. Dan saya berpikir, lha untuk mendekontruksi perihal pelbagai permasalahan mahasiswa yang ada butuh waktu berapa lama yo?

Tik-tok, tik-tok. Saya tidak bisa menjawabnya langsung, cepat dan tepat seperti peserta lomba cerdas cermat. Dan menurut hasil analisis ngaco saya, mahasiswa pun terbagi dalam kelas-kelas sosial. Dan kelas-kelas sosial adalah medan yang empuk untuk memecah belah mahasiswa. Jadi silakan lakukan dekontruksi apapun yang kau kehendaki karena meski berbeda-beda kita tetap sama. Sama-sama bosan. Haha

Cukup untuk hari ini!

19 Maret 2017, 4.59 WIB.

 

 

Mempertanyakan Kepuitisan dan Keromantisan Mawar

Akhirnya belum terjadi juga tiga jam dalam sehari untuk mengisinya dengan belajar sastra, terutama babagan prosa. Yang ada, lagi-lagi kelupaan dan kekhilafan. Alangkah beratnya menjadi fokus dan konsisten dengan keinginan ketika kebiasaan untuk melabar dan plin-plan terlalu dominan. Sehingga setiap ingin-ingin yang ada, seorang terang pada waktu direncanakan dan hilang ketika dijalankan. Kalau tingkah laku semacam ini, menurut Sujiwotedjo, hanya ada satu kata: Jancok!

Dan di tengah-tengah kebiasaan yang melebar, lagi-lagi, dan sekali lagi pikiran ini melayang ke arah yang tak tentu. Mengenai hal-hal yang melebar ini menurut kawan demisioner yang beda angkatan diklat, ia menyebutnya ‘nir faedah’. Iya, dialah Badru. Mahasiswa absurd yang akhir-akhir ini mulai mengutuki manusia-manusia absurd. Mungkin dia sudah sadar, lagi tersadarkan. Tapi mari abaikan saja dia, dan masuk ke pembahasan.

Ke-nir faedah-an yang menganggu adalah mengenai karakter tulisan saya di blog ini. Bagaimana pendapat kawan-kawan tentang karakter blog alay dengan diksi dan gaya bahasa yang manis dan asal ini. Juga tanpa faedah dan analisis yang dalam. Haruskah saya bertahan dengan karakter ini atau membuat karakter yang lebih serius, sesuai derajat saya sebagai demisioner dan mahasiswa tingkat akhir. Atau saya justru harus mempertahankan ini, karena memang sejak awal gaya bahasa di blog ini memang demikian. (nah, ini contoh pertanyaan yang nir faedah. atau malah blog ini yang nir faedah? haha). Namun jujur, saya merasa juga kalau gaya bahasa yang saya gunakan terlalu alay dan gak ngintelek banget. Dan karena kemarin saya telah merencanakan untuk menghidupi blog ini dalam waktu yang cukup panjang, saya jadi kepikiran terus. Terutama karena saya menulis catatan pribadi di media yang siapa saja bisa mengakses, saya jadi tak tega menyuguhkan tulisan semacam ini.

Dari beberapa evaluasi yang saya lakukan barusan, ternyata memang begitu parah level kealayannya. Dan sekarang saya belum lagi mendapat solusinya. Dan berharap tiba-tiba mendapat solusi dengan cara menulis catatan ini. Dan tadi, ketika saya menulis pertanyaan-pertanyaan yang nir faedah, saya sedikit mendapat jawabannya, hanya sedikit dan boleh juga sih. Solusinya adalah dengan membiarkan blog ini tumbuh layaknya manusia. Ia harus melalui proses ketidaktahuan, maksudnya kealayan, lalu membiarkan ia tumbuh dan bergerak menuju tulisan yang mutu. Tentu akan tidak karuan nanti, tapi bukankah itu akan menjadi catatan penting mengenai ‘proses’ dari blog ini sendiri. Ya, itu solusi yang masih aneh dan riskan. (Ah, saya pusing sendiri, boi!)

Sebelum saya lanjutkan, ada baiknya saya ceritakan pada kalian mengenai buku harian seorang anak berusia 13 tahun, ia yahudi dan hidup ketika era Hitler memimpin Jerman. Betul sekali, dialah Anne Frank. Saya baru membaca dua tulisannya di fiksi lotus. Mungkin nanti akan saya sambung lagi membacanya. Anne sering mengalami kebosanan ketika ia harus di rumah seharian. Dan ditambah lagi kebijakan Hitler yang anti Yahudi sangat membatasi gerak Anne untuk menikmati dunia luar. Oleh karena itu ketika memiliki waktu senggan di rumah, ia akhirnya memutuskan untuk menulis sebuah buku diary. Dari dua tulisan yang saya baca, untuk ukuran anak 13 tahun ia sudah mampu mengkonsep diary yang menuliskannya dengan rapi dan teknik layaknya autobiografi. Detail-detailnya pun, bagi saya oke dan boleh. Apalagi setelah dunia membacanya, sebab pada akhirnya buku diary itu dianggap mewakili suara zamannya sekaligus merekam betapa jahatnya Nazi. Akhirnya ia bukan diary lagi, karena telah menjadi milik umum. Tidak, tidak, tidak. Saya tidak ingin menulis seperti Anne. Ini saja sudah menjadi milik umum. Mau mewakili apa coba? Hanya diri sendiri begini. Menyedihkan sekali.

Lain lagi, saya punya cerita lagi. Ini dari novel anak-anak yang berjudul Sapphire Barthesea. Si tokoh utama, yakni si Sapir juga memiliki buku diary yang menurut ceritanya buku diary itu membongkar kebobrokan dan ketidakmanusiawian yang dilakukan oleh sebuah panti asuhan. Juga menangkap realitas kaum gembel yang terhina dan lapar ketika zaman kerajaan di Inggris. Dan Sapir bercita-cita menerbitkan biografi itu. Tentu bisa jadi si penulis mendapat inspirasi dari Anne Frank. Dan lagi, ada di bagian cerita yang menuliskan kalau Sapir terinspirasi oleh siapa, saya lupa. Bahwa oleh karena orang itu menerbitkan autobiografi, ia jadi ingin mengikuti jejak itu dan sebagai kaum gembel yang begitu terasingkan dan kere, ia berpikir dengan diterbitkannya diarynya itu jadi sebuah buku, ia bisa mendapat uang banyak dan bisa menyewa rumah serta hidup dengan ibunya, serta ikut membantu ibunya lepas dari cengkraman mindset babu oriented.

Atau lagi seperti Eka Kurniawan yang membuat jurnal mengenai buku-buku yang ia baca. Tapi kurasa itu tidak akan cocok untuk orang lain. Meskipun cocok, mungkin tak akan bisa menyainginya. Dan kalaupun bisa, ia pasti beda sama sekali.

Nah, lagi-lagi saya melebar jauh bukan? Dan mana nyambungnya dengan judul? hehe

Atau sekali lagi, mungkin bisa mirip catatan harian Soe Hok Gie? Tidak, tidak, tidak. Itu terlalu intim untuk dibaca umum.

Saya masih berharap solusi datang dalam proses menulis tulisan kali ini. Oh, tidak. Saya lupa lagi dengan hubungan judul dan isi. Saya biasa menulis judul dulu dan jika tidak, saya seolah tidak bisa memulai kata-kata pertama. Tapi kemarin saya telah berkata pada diri sendiri bahwa akan membuat nyambung judul dengan isi. Tapi saya tidak suka menghapus atau menganti judul yang sudah saya tulis. Merepotkan sekali ya menjadi saya. Haha

AHA!

Saya dapat ide dari ketidakjelasan judul dan isi tulisan. Saya mungkin bisa membuat catatan harian, karena terbitnya pun tidak benar-benar setiap hari, jadi mungkin saya harus memiliki topik tiap menulis sebuah catatan. Jadi jika pada umumnya judul diary adalah tanggal, mungkin aku akan menjadi orang pertama dengan diary yang punya judul dan topik. Namun tetap tidak menghilangkan unsur diary, yakni lingkungan sekitar dan orang-orang yang ada di dalamnya. Nah, kalau begini jadi seperti sebuah rubrik di koran. Oh iya, masalah terletak di topik. Ya, topik harus cair sesuai kondisi sehari-hari dan memiliki mutu, walaupun sedikit. Dan mungkin sekali-kali saya harus menulis tulisan serius juga, bagaimana analisis saya tentang sastra, masyarakat urban dan tradisional, kemahasiswaan, kuliner, dan bahkan politik. Sepertinya itu sudah cukup baik. Dan dengan prinsip bahwa blog juga tumbuh, ini tidak akan terlihat buruk.

Oke. Saya sudah lelah boi. Dan sepertinya saya masih tidak menemukan cara untuk menghubungkan judul dan isi. Namun sebenarnya saya awalnya ingin memperlihatkan bahwa kerap kali lingkungan begitu sadis membunuh karakter seseorang maupun mahluk hidup, tanpa ampun. Dilibasnya karakter sebuah spesies yang masih redup, lagi rapuh. Sehingga di suatu titik ia seolah tak memiliki karakter sama sekali. Dan niatnya saya ingin menyampaikannya dengan analogi yang cukup serius dengan mempertanyakan kepuitisan dan keromantisan sekuntum mawar. Bahwa mawar sejak kapan puitis dan romantis kalau bukan kita yang mencipta karakter itu. Jangan-jangan tanpa sadar kita telah membunuh karakter mawar dengan mengatakannya puitis dan romantis. Dan jangan-jangan tanpa kita sadar, kita telah dengan egosi membunuh karakter-karakter di sekitar kita. Membayangkan ini saya merasa sedih. Bukankah Ki Hajar mengajarkan untuk memberi jalan untuk karakter itu tumbuh dan berkembang, bukan mengubahkan karakter sesuka hati. Benarkan? (oh, paragrah ini akhirnya nyambung dengan judul, hehe)

Dan sebagai penutup, kurasa blog ini harus tumbuh dengan karakternya. Bukan membunuhnya dengan mengubah karakternya menjadi, tiba-tiba serius. Hehe. Semoga barokah.

Wassalam. 11 Maret 2017, 16.57 WIB.

 

Sekali Waktu Di Siang Hidup

Begitu terpilihnya PU yang baru Lembaga Pers Mahasiswa MOTIVASI, yakni Kamerad Yohanes. Seolah masa organisasi saya berakhir. Tiba-tiba saja terasa dalam sehari-hari sebuah kekosongan yang biasanya terisi oleh berbagai macam pikiran, analisis, dan tak jarang lamunan. Sekarang, di suatu siang yang senggang hanya lamunan yang tersisa. Kosong melompong. Untuk sebuah pengakhiran, kupikir lamunan tidak begitu baik.

Ada yang bilang, hal semacam ini biasa bagi seorang yang selesai dari masa organisasinya. Dan ada yang bilang dengan nada membully, ini adalah penyakit bernama post power syndrom, dimana orang yang biasa sibuk dalam sehari-harinya, tiba-tiba tak memiliki kesibukan apapun. Dan keduanya boleh, lagi benar. Maka dalam lamunan-lamunan itu, ide-ide untuk mengisi kekosongan ada juga hinggap dan bercakap. Tak lama, juga tak cepat, lalu pergi lagi. Berulang beberapa kali, hingga akhirnya benar-benar memunculkan sebuah rencana mengisi kekosongan.

Sebenarnya dua paragraf di atas ditulis dalam kurun waktu yang berbeda. Mungkin sekitar jeda tiga hari untuk paragraf kedua. Pun dengan paragraf ini, paragraf yang ketiga.

Ide untuk mengisi hari-hari kosong benar banyak bertebaran, bahkan telah sempat terangkai menjadi rancangan yang sistematis layaknya program kerja dalam organisasi. Tapi hingga dua bulan berlalu, tampaknya hal-hal untuk hidup pribadi, tak baik jika terlalu sistematis. Hidup harus cair meskipun di beberapa sisi harus ada hal-hal yang benar-benar tidak bisa ditawar. Hah, betapa seriusnya tulisan ini, boi. Haha

Tentu untuk mengisi kekosongan itu adalah salah satunya menulis di blog ini, boi. Sesuai rencana awalnya, bahwa pasca musyawarah anggota (musang) ke-19 MOTIVASI, blog ini akan berubah menjadi semacam catatan harian. Dan kurang lebih tiga bulan, itu tidak terjadi. Lutfiboi mangkrak, boi. Maafkan. Tapi tidak ada yang telat bukan? Jadi saya pikir lebih baik saya mengisi kekosongan itu dengan menulis catatan pribadi, meski tak mutu dan berisi curhatan, kalau kata seorang senior, hal ini cukup efektif untuk menjaga kebiasaan menulis agar jika suatu kali ada pesanan tulisan atau sedang ingin menulis suatu yang begitu serius dan tiada yang lebih serius ketimbang menuliskannya, kita tidak menjadi kaku.

Dan untuk kegiatan yang lain saya pikir, adalah memanggil lagi keinginan saya menjadi penulis fiksi. Keinginan ini masih tersimpan, boi. Meski selama tiga tahun berhubungan dengan menulis berita dengan gaya reportase jurnalistik, selama itu juga kadang muncul kerinduan yang tidak bisa ditahan-tahan yang akhirnya muncul juga dengan tulisan features sebuah berita dan beberapa kali diminta untuk menulis cerpen–mungkin mereka tahu saya sedang merindu tulisan fiksi. Haha, bahasa saya membingungkan sekali, boi. Sabar ya.

Ya, seperti kata Bukhori yang dulu ia adalah staf saya ketika saya menjabat sebagai Kabiro AK-47 dan seorang kabiro berita online MOTIVASI ketika saya menjabat PU, dan sekarang dia menjadi seorang pemimpin redaksi, dimana saya pernah dan sangat menginginkan jabatan itu. Ia sering menggunakan kata ‘summon’ untuk mengungkapkan apa-apa yang berhubungan dengan memanggil atau membangkitkan sesuatu, maklum ia seorang maniak permainan YU-GI-OH. Dia punya semua seri dengan tokoh yang berbeda game itu di laptopnya, dan mungkin telah mengalahkan semuanya. Selamat, Bukh! Untuk pencapaianmu sekarang, sebagai Pemred juga sebagai profesional YU-GI-OH. haha

Meminjam kata ‘summon’ saya juga ingin menyummon ketertarikan, juga kerinduan saya untuk menulis fiksi. Maka dengan mengucap summon dan mengetarkan sedikit banyak ketidakyakinan apakah saya masih menyukai dan bahkan benarkah jalan saya di sini, saya panggil kembali kau untuk mengisi kekosongan dalam hari-hari saya wahai tuan fiksi! cukup tiga jam sehari, kau dibutuhkan sekarang. Datanglah! Datang! (ini alay sekali, maaf dan maklumlah ya, hehe).

Sekian dan sekian tulisan kali ini. Dan tentang ketidaknyambungan antara judul dan isi, lagi-lagi masih menjadi problema. Jadi, mungkin untuk tulisan selanjutnya akan saya usahakan selaras. Sekian dan sekarang pukul 3.40 WIB, tertanggal 10 Maret 2017. Salam, boi! Jangan lupa bersyukur.