Merinding

Di sebuah malam yang sunyi, mungkin kamis malam, suara-suara yang jauh dan kecil jadi begitu dekat, dan mengagetkanku yang sedang menekuni kalimat terjemahan yang njlimet. Keacuhanku ikut tertarik oleh suara-suara itu, mengembalikan diriku ke ruangan kotak tak terurus ini. Lalu kulihat jam di gawai dan tersadar, ini sudah-sangat-larut.

Sebuah langkah tergesa di koridor sedikit membuat jangtungku tersentak dan tertahan. Langkah itu datang dari ujung sana, makin lama makin dekat dengan pintu kamarku. Meski itu bukan hantu, entah kenapa aku jadi merinding menghayati nada berjalannya.

Kini seolah tinggal tiga langkah ia akan sampai di pintu kamarku. Oh tidak. Jangan ketuk pintuku, kau bisa mengetuk pintu sebelah, sesukamu, ia tak akan marah, karena ia sedang di rumah. Tapi kumohon jangan ketuk pintuku. Tapi akhirnya, langkah itu berjalan saja melewati kamarku dan menuju ke toilet. Tidak, tidak. Aku yakin ia berhenti beberapa detik di depan kamarku. Aku yakin sekali. Aku baru saja merasakan nafas yang berat menghantam gagang pintuku, lalu masuk ke lubang kunci. Dan sebuah bayangan muncul di sela kecil di bawah pintu.

Dan suara pintu toilet di tutup, kran air dibuka, terdengarlah. Aku merasa angin kecil yang dingin masuk dan melilit leherku sebentar sampai bulu-bulu di sekitar tengkukku merinding, lalu pergi dan menabrak korden jendela, membuatnya bergoyang seolah dipermainkan belaka. Sial. Teman sekamarku sedang nginep di kos temannya. Aku mendadak takut karena sadar aku sedang sendirian.

Begitu suara air berhenti, kewaspadaanku meningkat. Bisa jadi kedatangannya ke toilet hanya kemuflase untuk mengecoh siapa saja calon korbannya. Maka aku bersiaga mengambil benda keras yang bisa kugunakan untuk memukulnya, kalau-kalau ia berani mengetuk pintu kamarku. Aku tidak peduli jika dia hantu atau manusia. Aku hanya ingin memukulnya sekuat tenaga.

Nafasku tertahan untuk mendengar langkahnya kembali ke koridor. Tak butuh waktu lama untuk sampai di pintu kamarku, paling hanya tujuh detik. Maka aku melangkah pelan ke belakang pintu, berusaha melangkah seringan mungkin agar ia tidak mendengar seseorang masih terjaga. SIAL! tepat di depan pintu kamarku dia berhenti. Sekarang aku dan ia hanya dibatasi oleh sebuah kayu. Aku merasakan ia mempunyai nafas yang memburu, tapi aku juga bisa membuat nafas yang demikian. Jika ia laki-laki, aku akan sangat senang bisa menghajarnya dengan panci magicom ini. Tidak, tidak, tidak, temanku kemarin membawa palu dari ruang perkakas dan belum dikembalikan. Aku bisa menggunakan. Sekarang mampus kau.

Tapi sepertinya ia memutar tubuh dan kembali ke arah toilet. Dan kudengar air mengalir di westafel dapur yang bersebarangan dengan toilet. Entah kenapa sekarang aku merasa lega dan tak lagi waspada. Maka aku duduk di kursiku lagi. Membaca beberapa kalimat terjemahan lagi. Tak beberapa lama, aku kembali tersadar ketika kran air tiba-tiba ditutup. Suasana lengang tak terkirakan, bangkit seketika. Dan langkah kaki itu kini berubah jadi pelan, berat, dan malas. Apa ia berubah jadi zombie setelah mencuci muka? berkumur? atau ia sengaja ke sana untuk menyiapkan perubahannya?

Tidak, tidak mungkin. Tidak ada zombie di sini, itu hanya pikiranku. Tapi aku begitu yakin jika langkah zombie akan seperti langkahnya malam ini.

Tanpa pikir apa-apa lagi, kuambil palu di lemari dan bersiap di belakang pintu. Aku mendengar suara degup jantung. Degup jantung siapa ini? Kok degupnya semakin keras dan membuatku panik. Ia pasti sudah tidak sabar mengetuk pintuku dan mendobraknya. Lalu kupegang dadaku untuk menenangkan diri sementara bersiap memukulnya.

Suara itu kini jadi pelan dan aku kembali fokus dengan langkah kakinya yang sangat malas.

Ayo, cepat ketuk pintunya, akan kuberitahu bagaimana rasanya jika kepalamu dihantam dengan palu. Itu akan membuatmu oleng, lalu kepalamu bocor, dan darahmu mengucur deras tak henti-henti. Kau akan kapok.

Begitu dekat, semakin dekat, dan kembali kurasakan nafasnya kian berat. Aku seolah bisa merasa bentuk tubuhnya dan raut wajahnya. Ia telah jadi sosok yang jelas dipikiranku dan memberiku kekuatan untuk tanpa ragu menghantam kepalanya.

Dan akhirnya . . .

Ssstt!

. . . . . . .

. . . .

. . .

Seseorang memanggilku dari belakang. Ketika kutengok dengan perlahan, “Kampret!” di luar jendela sesosok dengan mata merah, kuping lebar, kulit kusut, ramput lusuh, gigi bertaring, melayang-layang, tersenyum dan melambai kepadaku.

Reflek, kulempar palu itu ke jendela dan membuat kacanya pecah. Suaranya gaduh sekali dan sekonyong langkah kaki di koridor itu bergegas menuju pintu kamarku dan mengetuknya. Ketukannya kian keras kudengar dalam lajuku menuju tak sadarkan diri.

Esoknya, ketika aku terbangun dan seorang petugas asrama menanyaiku apa yang terjadi, aku tidak tahu harus mengatakan apa. Seorang lelaki yang mengaku telah membuka pintu kamarku dengan paksa, berdiri di belakang petugas. Tersenyum kecil dan tipis, penuh arti.

Advertisements

Bosenin Bagimu, Gak Bosenin Baginya

Entah kenapa membaca cerpen di koran yang keluar tiap minggu itu membosankan. Kecuali cerpen-cerpen penulis layaknya Agus Nor, AS Laksana, Budi Darma, dan Seno GA. Ini bukan berarti semisal saya menulis cerpen, cerpen saya akan begitu segar dan menyenangkan. Tidak begitu, saudara-saudara. Lagipula bosenin bagiku, gak bosenin bagi yang lain. Terutama redaktur cerpen dan pembaca cerpen itu. Eh.

*

Begini, tadi sehabis sholat shubuh seorang musafir yang kebetulan sedang singgah di masjid deket asrama mahasiswa UNS, naik ke mimbar. Ia hendak berceramah tentunya. Ia katakan kepada hadirin bahwa kita yang shubuh itu datang ke masjid, bukanlah karena kehendak kita sendiri, melainkan kehendak Allah SWT. Hal ini semata-mata karena Allah memberikan kasih sayangnya kepada kita yang shubuh itu datang ke masjid.

“Shubuh ini, banyak orang yang bangun. Tapi mereka tidak pergi ke masjid. Mereka ada yang pergi ke pasar, ke sungai, dan lain-lain.”

“Tapi kita, karena kasih sayang Allah ke kita. Kita diringankan langkah untuk datang ke masjid menjalankan sholat shubuh berjamaah.”

Lalu sang musafir menambahkan mengenai keringanan yang diberikan Allah kepada hambanya lantaran Allah sayang kepada hamba itu.

Dan selanjutnya adalah bagian yang menarik. Karena kebetulan saya sedang belajar dasar-dasar kompisisi, buku karya Gorys Keraf, saya menemukan gaya berceramah sang musafir, tak lain dan tak bukan adalah gaya penekanan dengan memberikan contoh-contoh yang negatif sebanyak mungkin di awal, lalu menghantam dengan ajakan untuk kebaikan di akhir.

“Ikan jika hidup di rerumputan akan tersiksa, akan sengsara. Karena kodrat ikan di air. Burung kodratnya di alam bebas. Jika ia dikurung dalam sangkar, meskipun ia diberi vitamin setiap hari, ia tetap akan tersiksa. Karena kodratnya di alam bebas. Begitu juga manusia, ketika ia tersiksa, itu karena ia telah lepas dari kodratnya.”

“Nah, kodrat manusia sebagaimana yang baginda Rasulullah SAW contohkan adalah dengan beramal baik.”

Saya langsung seperti anak kecil yang dapat mainan baru. Saya terkagum-kagum dengan teknik berceramah sang musafir ini. Rasa-rasanya saya ingin mengucapkan kalimat keren dengan berbagai bahasa. Cool! Daebak, tad! Sughoi! Jos gandos!

Sampai akhirnya saya sadar, mungkin ceramah ini bagi saya yang jarang mendengarkan ceramah dan bahkan kadang menolak diceramahi, adalah hal yang baru, yang segar. Tapi bagi mereka yang biasa mendengarkan ceramah, atau mungkin yang sudah mendengarkan materi ceramah ini berkali-kali, kurasa akan biasa aja. Dan akhirnya biasa baginya, gak biasa bagi saya. Hah.

 

*

Ketika saya mendengar ceramah sang musafir dan menemukan contoh konkrit pemakaian gaya penekanan pada bukunya Pak Gorys, lalu saya teringat juga dengan dongeng-dongeng yang pernah saya baca. Saya pikir alur dongeng sama seperti itu. Tiga Babi Kecil, Jean dan Kacang Ajaib, dan Lelaki Pemancing dan Istrinya menggunakan gaya demikian. Kalau kalian berkenan silakan baca. Dongeng-dongeng itu umumnya memiliki tiga cerita. Dua dengan pola yang sama, dan satu di akhir digunakan sebagai surprise yang biasanya ada pesan moralnya.

Yang saya sesalkan adalah jika saya sudah pernah tahu pola-pola seperti ini, setidaknya saya sudah membacanya dan mungkin sebagian sudah masuk ke dalam alam bawah sadar saya. Tapi kenapa saya tidak bosan ketika pola yang sama digunakan oleh sang musafir.

Saya sedang memikirkan hal ini ketika pintu kamar saya diketuk. Lalu saya buka. Dan ternyata sang musafir. Aduh apa yang sedang ia lakukan di asrama. Kenapa pintu saya yang diketuk dari sekian banyak pintu dari lantai dua sampai lantai lima. Ah, sebaiknya kupersilakan masuk saja dulu sang musafir ini.

Lha, lha, lha,… sekonyong-konyong dia menolak dan sambil lalu berkata, “Bosenin Bagimu, Gak Bosenin Baginya”

“Oe, oe, oe, maksudmu apa sang musafir?”

“Sang musafir! Maksudmu apa?”

Ia tidak menoleh sama sekali.

Saya ingin mengejarnya, tapi tiba-tiba perut saya mules. Sial.

Di toilet saya lebih nyaman memikirkannya. Tidak bakal ada yang mengetuk pintu toilet yang tertutup dengan suara air dari kran. Begitu satu plung meluncur, layaknya Albert Einsten melihat apel jatuh, Aha!

Mungkin maksud sang musafir adalah bosenin bagi diriku sebagai pembaca, gak bosenin bagi diriku sebagai pendengar. Ternyata sang musafir bisa sok misterius juga. Dasar.

Belum selesai saya buang hajat, tiba-tiba pintu toilet ada yang mengetuk. Sialan. Demi Tuhan, siapa lagi ini. Toilet yang lain kan masih kosong. Kalaupun toilet di lantai empat penuh, dia bisa ke lantai tiga atau lima. Orang goblok macam apa yang mengetuk pintu toilet yang jelas-jelas tertutup dan terdengar suara air dari dalamnya.

“Siapa?” tanya saya. Lho, ngapain saya tanya siapa, seharusnya cukup dengan apa. Kok saya jadi ikut-ikutan goblok.

“Saya sang musafir.”

“Ada apa, sang?”

“Jawaban kamu benar terkait kata-kata misterius saya.”

Hah? Darimana sang musafir tahu. Ini pasti yang orang-orang sebut sebagai ilmu tinggi yang gak bisa dipelajari di perguruan tinggi.

“Kok sampeyan tahu jawaban saya sang musafir?”

“Lha wong cerita ini, kamu karang-karang sendiri. Jadi saya ini, ya, kamu. Dan kamu itu, ya, saya. Dengan begitu saya tahu dong, apa yang kamu pikirkan.”

“Oh iya, ya.” hehe

Selesai.

Mahasiswa Baru dan Tas-tas yang Bermerek

Beberapa waktu yang lalu, aku sedang berada di kampus, kuperhatikan sepanjang jalan sepertinya sedang ada pesta penerimaan mahasiswa baru di fakultas-fakultas. Banyak mahasiswa berwajah ceria dengan almamater yang masih kinclong bertebaran dimana-mana. Kebetulan aku sedang beranjak pulang naik motor. Sepertinya itu jam empatan. Sebab para mahasiswa baru itu layaknya mahasiswa-mahasiswa lama sepulang dari berdemo. Mereka berserakan dimana-mana, menyesaki jalan dan tikungan, dan gak peduli menjurus bodo amat dengan penguna jalan lainnya. Aku terpaksa memelankan motorku dan menunggu mereka beranjak.

Ah, sialan, batinku. Rasanya aku ingin marah dan mengklakson mereka keras-keras sambil berteriak woe ini jalan bukan warung kopi, kampret! Tapi sebagai mahasiswa lama, aku memilih tidak melakukannya. Mereka masih baru. Mungkin juga kebahagiaan mereka menjadi mahasiswa membuat mereka lupa caranya hidup dan mengunakan jalan dengan benar. Dan pasti para panitia peduli setan dengan hal ini. Mereka pasti sibuk mikirin acara besok agar sesuai dengan permintaan pak dekan tercinta, lagi terhormat. Jadi aku pun memaklumi panitia juga.

Sembari melatih kesabaran dengan menunggu mahasiswa baru yang entah berjalan atau mengobrol itu, mataku melihat tas-tas yang mereka gendong. Mungkin gara-gara itu satu-satunya barang berbeda yang paling mencolok dari mereka. Dan wow, aku berdecak kagum. Hampir semua tas mereka adalah tas yang bermerek. Maksudku, tas mereka bukan tas-tas merek recehan yang dikerjakan di rumah jahit. Melainkan tas-tas yang telah memiliki toko distributor khusus. Dari tas sejuta umat, eksport, sampai merek tas gunung macam arei mereka gendong sore itu.

Sebagai mahasiswa yang suka menghubung-hubungkan, lalu aku mengeluarkan beberapa rumusan masalah. Apakah merek tas yang mereka gunakan sekarang mempengaruhi pemikiran mereka mengenai makna mahasiswa dan kampus? Apakah merek tas yang mereka gunakan sekarang mempengaruhi jumlah mahasiswa yang berdemo tahun depan? Atau apakah merek tas yang mereka gunakan sekarang mempengaruhi kualitas mereka sebagai mahasiswa, pemikir, dan agen perubahan?

Pikiran-pikiran ini berkecamuk dalam perjalananku menuju asrama. Begitu rebahan, aku sudah lupa. Kasur membawaku ke khayalan-khayalan gila yang jauh sekali dari realita. Namun kemudian selepas mandi aku kepikiran lagi pertanyaan itu. Kucari-cari hubungannya dengan sok serius. Aku juga berpikir, apakah hal ini perlu dibuatkan riset, atau kuajukan saja sebagai judul skripsi. Aku merasa ingin sekali menemukannya. Dan beranggapan bahwa hal ini akan menjadi penemuan yang hebat. Lalu tiba-tiba seperti tersambar petir, aku menemukan bahwa hal ini terlalu kuada-ada. Mana mungkin ada hubungannya merek tas yang mereka gunakan sekarang dengan pemikiran mereka. Mau mereka memakai tas bermerek atau karung goni sekalipun, jika mereka tidak peduli dengan kebijakan kampus, ya memang mereka tidak peduli. Dan kalau mereka peduli, ya memang karena mereka peduli. Ah, terjawab sudah pertanyaan ini. Begitu sederhana.

Pembaca yang Baik

Sekali waktu aku pernah mengutuki orang yang mengutuki kerumunan manusia yang sedikit berisik di perpustakaan. Ada apa dengan bicara di perpustakaan? Itu manusiawi bukan? Kau bertemu seorang teman dan kau menyapanya, lalu kalian terjebak beberapa obrolan default. Atau kau sedang mencari sebuah buku bersama temanmu dan kalian bicara mengenai buku-buku. Keduanya wajar bukan?

Namun sekali waktu aku juga merasa begitu terganggu ketika sedang masyuk pada sebuah buku dan tiba-tiba seorang tertawa atau katakanlah, seorang bicara dengan suara yang keras. Rasanya aku ingin mendatangi orang itu dan memukulnya. Demi tuhan, bisa kah kau menjaga mulutmu!

Tentu aku tidak melakukannya. Setiap orang tumbuh dengan pemahaman masing-masing tentang berada di perpustakaan dan membaca. Jika aku menyalahkannya, aku akan menyalahi konsep bahwa manusia terlahir berbeda.

Meski begitu, beberapa waktu lalu, aku sadar. Seperti menulis, aku tidak bisa membaca dengan kondisi yang bising. Oleh karenya, aku harus bersabar dan memaklumi mereka sembari menghentikan bacaanku sejenak dan memulainya lagi ketika mereka sudah tenang dan terkontrol.

*

Ada pepatah yang mengatakan bahwa seorang penulis yang baik lahir dari seorang pembaca yang baik. Walaupun ada perdebatan mengenai apakah benar demikian, aku lebih condong untuk membenarkannya. Pasalnya aku mengalami keadaan yang membuatku tidak bisa menuliskan kata-kata. Dan kau tahu apa yang akhirnya kulakukan? Aku membaca. Meski tidak sampai menyelesaikannya. Dan apa yang terjadi kemudian? Aku kembali menemukan kata-kataku. Namun aku kembali kehilangan dirinya di tengah jalan.

Ya, sekarang kau mengerti maksudku. Pertanyaannya adalah apakah aku sudah menjadi pembaca yang baik? Pertanyaan ini lah yang akhirnya muncul untuk menjawab kegelisahanku mengenai kata-kata yang hilang entah kemana.

Maka aku mencoba mengingat-ingat, apakah selama ini aku sudah menjadi pembaca yang baik. Dan kurasa belum. Aku adalah pembaca yang bergantung dengan mood. Jika mood untuk membaca sedang bagus-bagusnya, aku begitu ingin membaca dan bahkan menyingkirkan beberapa hal yang menghalangiku untuk membaca. Tapi ketika mood membaca sedang tidak ada, aku membaca dengan malas dan sebentar-sebentar udahan. Lalu melupakannya sampai mood itu datang lagi.

Begitu juga dengan menulis, aku masih berpijak pada mood. Ini masalah klise yang membuat beberapa orang malas menulis dan tidak produktif yang berujung rengekan dengan beribu alasan yang bisa mereka buat beribu-ribu dalam sekali pikir.

Aku pernah mencoba menyingkirkan buku-buku ketika hendak menulis dan sungguh, aku kepayahan. Aku butuh berdekatan dengan buku ketika menulis. Entah buku itu akan kugunakan atau tidak, tapi aku merasa perlu berdekatan dengannya. Ini memang aneh. Tapi demikianlah yang aku rasakan selama ini.

Dan mengenai menulis versus membaca, kau tahu, membaca jauh lebih menyenangkan. Meskipun keduanya bagiku membutuhkan ketenangan, tapi membaca jauh lebih menyenangkan. Mungkin karena kemudahannya ketimbang menulis, mungkin bukan. Mungkin karena ketegangan yang diberikan di tiap adegan, mungkin bukan. Atau mungkin karena kita tidak perlu repot-repot untuk membuat alur, tokoh yang hidup, konflik, penyelesaian konflik, dan beberapa hal lainnya mengenai penulisan sebuah cerita. Tapi yang pasti dengan membaca, aku mendapat sesuatu meski sesuatu itu akan hilang beberapa hari kemudian. Tapi itu sungguh lebih menyenangkan.

Jadi kupikir mungkin aku akan menjadi pembaca yang baik terlebih dulu, sebelum menjadi penulis yang baik. Selesai.

Apa Yang Dilakukan Calon Penulis Ketika Puasa

Pada sholat tarawih yang pertama, seorang ustaz berceramah mengenai keutamaan bulan puasa. Ia mengajak jamaah untuk mengatur waktu puasa agar ibadah-ibadah sunnah bisa dikerjakan tanpa harus mengganggu kerja atau apapun itu. Ia menjelma seorang pemimpin yang sedang memberikan pandangan umum untuk kerja ibadah sebulan ke depan kepada para hadirin. “Silakan atur, rencanakan, buatlah program-program yang semakin mendekatkan diri pada Allah.” Demikian ia berkata berapi-api.

Mendengar ini saya justru berpikiran lain. Saya membayangkan ustaz itu adalah penulis terkenal macam Hemingway dan berkata, kalian umat muslim silakan saja berpuasa, tapi jika kalian calon penulis, kalian punya urusan lain. Ini bukan semacam tulisan sesat yang membuat lupa jika sedang bulan puasa. Kita tetap bisa menjalankan ibadah puasa, bahkan dengan tantangan seperti yang dikatakan Hemingway mengenai urusan lain itu.

Sebelumnya, saya memang punyai banyak tumpukan buku yang harus dibaca. Tapi berhubung ceramah si ustaz yang berapi-api itu menjelma sosok Hemingway, saya jadi tertarik untuk merencanakan beberapa kegiatan yang perlu saya lakukan di bulan puasa.

Pertama, saya mulai membiasakan diri membaca satu esai atau memoar seorang penulis menjelang adzan magrib. Awalnya tidak ada niat menjadikannya kebiasaan. Saya mendapat pinjaman bukunya Haruki Murakami yang bejudul What I Talk About When I Talk About Running, sebuah memoar yang bercerita tentang obsesinya sebagai pelari, sambil sedikit-sedikit menyinggung proses menulisnya. Ini pengalaman pertama saya membaca sebuah memoar. Dan saya merasa, ternyata menarik membaca penulis menulis tentang dirinya. Membaca memoar, kupikir membuat saya mengerti bagaimana kehidupan seorang penulis itu. Karena pengalaman ini juga, saya jadi ingin membaca banyak memoar penulis yang lain. Saya menemukan sebuah memoar penulis Israel, Etgar Keret – The Seven Gold Years, sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Saya baru saja membelinya. Begitu saya selesai dengan Murakami, saya masih bisa melanjutkan kebiasaan ini dengan membaca memoarnya Etgar Keret. Saya juga sudah memfotokopi kumpulan esainya Budi Darma yang berjudul Solilokui. Jadi sampai ramadhan selesai, saya tidak akan kehabisan stok memoar atau esai. Dan kalaupun tiba-tiba saya mengila, tidak sabar, lalu menyelesaikan buku-buku di atas hanya dalam waktu satu minggu. Saya masih bisa membuka ekakurniawan(dot)com atau ekakurniawan(dot)net. Saya belum menghabiskan semua tulisannya.

Selain membaca esai dan memoar, saya juga sedang membiasakan diri membaca novel selepas sholat tarawih. Dan melakukan maraton lagi. Sebab di meja, setumpuk novel diam tak terusik. Meski begitu, kebiasaan ini belum begitu berjalan. Entah kenapa saya sering menundanya. Mungkin karena waktunya. Saya dibuat bingung kapan waktu yang tepat untuk maraton di bulan puasa–waktu yang mana yang nyaman digunakan untuk berlama-lama membaca. Saya masih mencarinya.

Dan kegiatan selanjutnya adalah menulis. Kau hanya akan menjadi pembaca, bahkan kritikus, jika kau tidak menulis karyamu sendiri. Saya masih membiasakan diri menulis tiga jam di pagi hari. Tapi sungguh berat melakukannya di bulan puasa. Menulis, kupikir, kadang mengambil terlalu banyak energi ketimbang aktivitas fisik yang lain. Dan itu membuat saya merasa lapar lebih cepat.

Dan yang terakhir, seminggu sekali saya berkumpul, ngrumpi, ikut persekutuan, atau apalah namanya, yang bicara mengenai sastra dan penulisannya. Perkumpulan ini tercipta gara-gara beberapa teman demisioner secara tidak sengaja ingin ikut sayembara novel DKJ tahun 2018 mendatang. Dan begitu mereka tahu mereka tidak sendiri, dibuatlah perkumpulan ini walaupun cuma tiga orang. Sedihnya, kami masih mencari konsep ngrumpi yang baik dan benar. Dan hendak mengajak seseorang yang lebih ‘berpengalaman’ dari kami. Haha.

Itu beberapa kegiatan yang saya lakukan ketika puasa. Saya masih bisa menambahkan beberapa lagi. Mungkin ngabuburit ke toko buku atau menulis di blog sehabis sahur. Dan membaca cerpen, lalu mengkliping beberapa cerpen yang bagus. Namun kemudian, tiba-tiba ustaz Hemingway menyela, ia belum mengakhiri ceramahnya. “Silakan. Silakan atur, rencanakan, dan buatlah program-program yang semakin mendekatkan dirimu untuk menjadi penulis.”

Haha.

Sekian, boi!

 

Perkara Keterlambatan

Saya memang sering terlambat. Bahkan sejarah hidup saya hampir diisi oleh keterlambatan. Saya baru bisa naik sepeda kelas 4 SD, ketika teman-teman saya sudah empat tahun bersepeda kemana-mana. Saya baru bisa mengendarai sepeda motor saat jadi mahasiswa, sedangkan teman-teman saya sudah sedari SMP membredeli motornya dan menemukan sensasi adu cepat di jalan raya. Saya baru membaca novel ketika SMP, itu pun hanya dua judul teenlit, sedangkan beberapa siswa di belahan Indonesia sana mungkin sudah muak dengan novel teenlit. Dan saya baru menyelesaikan Tetralogi Buru, benar-benar menyelesaikannya setelah tiga tahun kuliah. Ketika selesai, saya sangat menyesal, mengapa saya begitu terlambat membacanya. Coba saja kalau saya sudah membacanya ketika SMP, kupikir perkenalanku dengan Pram bisa lebih cepat, pun dengan penulis-penulis tulen Indonesia yang lain. Sehingga sekarang saya tinggal mengikuti perkembangan penulis-penulis yang lebih muda, juga membacai karya-karya kesusastraan dari negara lain. Tak apa saya terlambat naik sepada dan motor, tapi terlambat membaca adalah kesialan jika kau ingin menjadi penulis. Perkara keterlambatan ini, saya sering menyalahkan guru bahasa Indonesia. Dari SD sampai SMK, gila, penulis sekelas Pramoedya Ananta Toer tidak disinggungnya sama sekali. Okelah jika beliau punya hubungan dengan Lekra dan dituduh komunis, tapi sayangnya saya juga tidak menemukan guru bahasa Indonesia saya menyebutkan Iwan Simatupang ketika bicara cerpen, atau Danarto, Budi Darma, Hamsad Rangkuti, atau setidaknya mengenalkan novel Ahmad Tohari sebagai referensi bacaan. Maksud saya siapa lagi yang harus bertanggungjawab mengenalkan buku, khususnya sastra kita, ke siswa kalau bukan guru bahasa Indonesia?

Sebegitu terlambatnya saya membaca, sebegitu juga saya sadar bahwa karya sastra begitu banyaknya. Bahkan lebih banyak lagi jika kau sudah mencoba membaca kesusastraan negara lain. Betapa saya merasa begitu sedih baru mengenal Danarto, Budi Darma, Iwan Simatupang, dan Montinggo Busye baru-baru ini. Mereka adalah bapak-bapak yang bisa dibilang pelopor pembaharuan penulisan prosa di Indonesia. Hahh, kemana saja saya selama ini? Sudah baca apa saja saya mau jadi penulis? Why I’m so late? Hal semacam ini yang kadang membuat saya ingin membuka kafe saja. Saya tinggal belajar manajemen kafe, branding dan pemasaran, juga tidak dipusingkan dengan perkara keterlambatan. Sebab dalam bisnis, tidak ada kata terlambat. Tapi lalu kupikir dalam membaca seharusnya demikian, toh saya juga belum apa-apa dan belum siapa-siapa. Saya belum menceburkan diri secara total, juga belum berusaha sampai penghabisan. Dan tak apa terlambat, setidaknya saya telah tahu sekarang, jika kelak saya ditanya seorang wartawan ketika saya telah jadi penulis beneran, “Pak Lutfi, apa yang menyebabkan karya Anda terlambat?”, dengan enteng saya akan menjawab, “Ah, itu, mungkin gara-gara waktu saya, sebagian besar saya gunakan untuk membaca.” Lalu sebelum si wartawan berlanjut ke pertanyaan berikutnya, saya akan menyela, “bentar-bentar,” dan berlagak seolah sedang mengingat-ingat, “atau mungkin gara-gara guru bahasa Indonesia.”

Haha.

Blakanis, Arswendo Atmowiloto

Secara tiba-tiba, mendadak, meski tak tergesa seperti ketika ide untuk menulis muncul; saya kepingin membaca karya penulis yang mengatakan menulis itu gampang–dan membuat buku pedoman penulisan dengan nama serupa. Tak ada judul yang harus ini dan itu, hanya sebatas ingin membaca saja. Maka ketika sedang berada di lantai 6 perpustakaan kita tercinta, kucarilah novel Arswendo Atmowiloto. Ketemu, judulnya Blakanis, dari kata dasar Blaka (terj. Indo: apa adanya). Entah Blakanis itu karya ke berapa Beliau, saya hanya ingin membacanya. Itu saja.

Sudah beberapa bulan saya tidak membaca tanpa kepentingan. Selalu ada yang ingin saya cari, temukan, koreksi bahkan. Tapi orang akan mengatakan bukankah itu memang tujuan membaca, ya menemukan jawaban. Tapi bukankah selalu ada novel yang tidak memberi jawaban. Pada akhirnya tetap pembaca yang menjawab sendiri. Dan sekarang, saya hanya ingin membaca dengan kepentingan membaca. Saya ingin lepas dan membiarkan bacaan mempengaruhi, lagi membawa saya sesukanya. Dan itu tidak terjadi. Hah.

Awalnya memang begitu bebasnya. Tapi lama-lama saya juga terpikir untuk mengetahui orang seperti apa Bapak Arswendo itu. Saya mencoba terus membacanya, mengatakan pada diri sendiri untuk tetap membaca. Juga merapalkan ‘mantra’ penulis mati ketika karyanya dibaca. Sayang, semua itu tak mempan. Kebiasaan untuk mengepoi penulis sudah mengakar. Maka saya ingat-ingat saja sedikit pengetahuan saya tentang Arswendo Atmowiloto. Bisa dibilang saya terlambat membaca Arswendo. Maka gambaran yang saya dapatkan tentang beliau adalah ketika ia tampil di TV sebagai budayawan, bukan penulis. Dan pengetahuan yang cetek ini membuat saya menganggap bahwa Arswendo, setidaknya untuk sekarang, memang lebih pantas menjadi budayawan ketimbang sastrawan. Selesai dengan si penulis, saya melanjutkan membaca.

Secara singkat, novel ini bercerita tentang kejujuran, ke-blaka-an. Selalu pahit memang bicara kejujuran, apalagi keblakaan yang tingkatannya di atas kejujuran, yaitu hidup dengan keterusterangan dan apa adanya. Ki Blaka lah yang memulainya, di sebuah tanah lapang yang ditumbuhi rumput dan rumah liar, ia datang dan membuat sebuah perkumpulan yang pesertanya harus menjawab secara jujur apapun pertanyaan yang diberikan oleh peserta lain. Bila belum berani jujur, peserta dilarang ikut bertanya. Ia hanya boleh mendengarkan saja. Pertanyaan-pertanyaan tabu bermunculan. Lugu, lucu, dan sedikit serampangan memang. Pertanyaan-pertanyaan itu adalah berapa kali kau selingkuh dan sekarang masih selingkuh dengan siapa. Berapa gajimu yang kau berikan pada istrimu dan yang kau habiskan untuk plesiran. Dan peserta itu adalah suami-suami, juga istri-istri. Nah, apa nggak mengerikan sekali kejujuran itu. Di satu sisi ia benar secara moral, di satu sisi ia juga bisa berakibat fatal. Dan sepanjang saya membaca, saya hanya bergumam ‘ah’, ‘hmm’, ‘oohhh’, ‘ya, ya’, juga kadang tertawa sendiri (entah menertawakan ceritanya atau menertawakan diri saya sendiri. kadang cerita hanya cerita dan kenangan kita yang sering kali muncul dan ingin ikut dibaca lagi, untuk ditertawakan). Saya jadi teringat salah satu kalimat di buku pedoman penulisan features milik Tempo. Itu berbunyi, kurang lebih, “wartawan yang hidup dari kebohongan, akan selalu dihantui ketakutan kebohongannya terbongkar.” Ini juga yang ditawarkan Arswendo. Kejujuran di satu sisi memang pahit, tapi ia selalu melegakan setelah diucapkan. Dan apa yang paling menyenangkan dari hidup tanpa kekhawatiran sesuatu yang buruk akan terjadi ketika kebohongan itu terbongkar oleh bukan diri kita sendiri?

Namun ketika mengamati cara Arswendo menuliskan novel ini dengan menggunakan terlalu banyak kutipan. Saya merasa, kutipan itu seolah sia-sia dan jadi sama saja kita membaca tanpa kutipan. Dalam penyampaiannya sering kali tokoh-tokohnya bicara panjang sekali, sehingga kutipan itu tak cukup satu baris, bahkan satu halaman bisa jadi berisi ocehan si tokoh. Ya, walaupun imajinasi pembaca sudah dipantik di awal bahwa itu omongan orang bukan kalimat si pencerita. Tapi bukan kah penggunaanya yang berlebih membuat itu tak berguna. Juga saya rasakan, itu semacam ceramah saja. Saya merasa tidak sedang membaca, tapi mendengarkan. Jika demikian, bukan kah lebih baik saya mendengarkan Beliau bicara di TV atau mengaksesnya di youtube. Kupikir, ini novel muda Arswendo. Saya pernah membaca halaman-halaman awal salah satu novelnya yang pertama-tama: Canting. Tidak seperti ini penyampaiannya. Meski saya lupa mengecek tahun berapa novel ini terbit, juga sejak kapan Beliau mulai aktif menjadi budayawan. Saya kira, novel ini ia tulis di tengah-tengah kesibukannya menjadi budayawan yang harus banyak bicara dan memberikan ceramah kebudayaan. Dan untuk sekarang, seperti yang saya katakan di atas, ia lebih cocok menjadi budayawan ketimbang penulis atau sastrawan. Ini hanya kira-kira saya sih. Sila baca sendiri jika ingin menilainya. Haha.